Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
46. Bunga Tidur


__ADS_3

Mengingat kematian Livia membuatku sadar jika dikhianati seseorang yang kita cintai itu sakitnya tak ada lawan. Paracetamol pun sepertinya tak akan mampu meringankan rasa sakitnya.


"Divia .... "


Suara lembut itu mengagetkanku. Aku menoleh ke sumber suara yang berada tepat di samping tempat tidur.


"Li-Livia? Loh, Mas Raihan mana?" Tentu saja aku terkejut tak mendapati suamiku di samping ranjang. Malah saudari kembar yang sudah lama tiada itu yang kini menempati tempat tidur suamiku.


"Terima kasih udah jagain Raihan selama ini."


Grep.


"Aku merindukanmu, Liv," lirihku langsung memeluk tubuh dingin Livia.


Tak peduli jika dia hantu, arwah atau apalah, aku tak peduli. Aku sangat merindukannya.


"Aku juga merindukanmu." Livia balas memelukku.


Aku bersyukur dia tidak marah. Sebagaimana mengingat kejadian sebelum dia meregang nyawa dulu.


"Kau sudah memaafkanku?" tanyaku, melepas pelukan.


"Kenapa tidak? Mana bisa aku tidak memaafkan saudariku sendiri," jawabnya tersenyum tulus.


"Terima kasih." Jujur aku terharu. Setelah sekian lama akhirnya aku mendapat maaf darinya. Yang aku pikir itu adalah hal mustahil. Selama ini aku hidup tidak tenang karena rasa bersalahku padanya.


"Sudah saatnya aku mengambil kekasihku kembali. Terima kasih sudah menjaganya untukku."


"Eh? A-apa maksudmu?"


Belum sempat pertanyaan itu terjawab, tiba-tiba kabut putih datang entah dari mana. Membawa udara dingin yang menusuk pori-pori kulit hingga ke tulang.


"Engghh .... " erangku, mulai membuka mata yang terasa masih begitu lengket.


Eh? Ternyata aku hanya mimpi? Tapi kenapa rasanya seperti nyata?


Aku terbangun dengan kedinginan karena selimut yang menutupi tubuh sudah berada di bawah ranjang. Tanganku terjulur ke samping.

__ADS_1


Eh? Kok kosong?


Aku pun menoleh. Dan benar saja. Mas Raihan tidak ada di tempatnya. Mengarahkan manik mata guna melirik jam yang tergantung di dinding.


Jam 6 pagi ternyata. Wajar jika mas Raihan sudah bangun. Mungkin hari ini dia ada kerjaan. Melupakan sosok Livia, aku pun beranjak dari kasur dan langsung mencari mas Raihan.


"Mas?" panggilku mencari-cari sosok yang akhir-akhir ini suka ilang-ilangan itu.


"Mas? Kamu dimana?" Aku mencari di dapur, kamar mandi, juga ruang tamu. Tapi batang hidungnya pun tak terlihat jua.


"Apa, Dek?"


"Astaghfirullah, Mas!!" kejutku ketika mendapat tepukan di bagian bahu.


Refleks aku meletakkan tangan di depan dada merasakan jantungku yang hampir saja melompat dari posisinya.


"Mas ini ngagetin aja!" Aku membalik badan menghadap orang yang berdiri di belakang.


"Mas dari mana aja?" tanyaku heran. Pasalnya dia datang dari arah belakang. Sedangkan aku yakin sudah mengecek setiap bilik yang ada.


"Dari halaman belakang," balasnya santai.


"Enggak. Mas free."


Dahiku berkerut dalam. "Tumben bangun pagi?"


"Lagi mau aja."


Grep.


Di tengah suasana yang terasa janggal, tiba-tiba mas Raihan memelukku. Hal itu sontak mengalihkan pikiran negatif yang sempat bersemayam dalam benak. Sebab pelikan itu terasa hangat dan menenangkan.


"Mas kangen."


"Eh? Kan setiap hari ketemu?"


"Iya. Tapi tetep kangen."

__ADS_1


"Iya deh. Pasti ada maunya." Alisku naik turun penuh arti.


"Cuma pengen habisin waktu lebih banyak sama kamu. Sebelum Mas pergi."


Lagi-lagi ucapan mas Raihan membuatku bingung. Dia ini kenapa sih?


"Emang Mas mau pergi kemana? Proyek dadakan?"


"Iya."


"Owh, pantes." Aku ber-oh ria. Tapi seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.


Pembicaraanku dengan Livia dalam mimpi bagai terngiang-ngiang di telinga. Tapi aku segera menipisnya. Menyakinkan diri bila itu hanyalah mimpi. Dan mimpi cuma bunga tidur yang kenyataannya berbanding terbalik dengan kehidupan di dunia nyata.


"Udah, Mas. Aku mau masak dulu. Pagi-pagi kok udah kayak teletubbies gini. Main peluk-pelukan."


"Hehe, iya deh. Mas juga laper," tukas mas Raihan seraya melerai rengkuhan tangannya dari tubuhku.


Aku tersenyum simpul lalu pamit ke dapur, membawa serta perasaan aneh yang tercokol dalam hati. Pernah tidak sih, merasakan keinginan untuk mengabaikan sesuatu tapi hal itu malah semakin terpikirkan?


Nah, aku sedang dalam fase itu.


...----------------...


Pada siang hari yang terik hingga menyebabkan suhu dalam ruangan memanas, aku sedang seru-serunya menonton serial TV Indosihir yang lagi-lagi menceritakan kisah tentang pelakor yang sukses mengobrak-abrik rumah tangga orang lain.


Tok Tok


"Siapa sih? Ganggu aja," decakku kesal.


Suara ketukan pintu yang awalnya tak kuhiraukan itu akhirnya mengganggu me time-ku juga saat ketukannya semakin keras.


"Sebentar!" seruku dari dalam rumah.


Siapa juga yang bertamu siang-siang begini? Bahkan semenjak kematian Althaf sudah jarang aku menerima tamu.


Ceklek

__ADS_1


Deg.


"A .... " Mukutku menganga lebar saat wujud seseorang yang sangat aku hindari tiba-tiba saja muncul di depan mata.


__ADS_2