
"I-itu karena .... "
"Apa?" tanyaku mulai frustasi.
"Warga takut karena arwah mereka gentayangan. Menurut cerita orang sekitar, ada yang pernah didatangi arwah Raihan meminta mereka untuk tidak menceritakan apapun padamu sebelum kamu sendiri yang mengetahuinya," jelas Bryan yang malah membuatku pening.
Aku menjauhkan diri untuk melihat ekspresi wajah Bryan. "Kenapa bisa gitu?"
"Menurutku, suamimu berniat menjaga hatimu biar gak sedih."
"Kalo kayak gini caranya malah bikin aku tambah sedih. Ngerasa dibohongi itu gak enak. Apa dia gak tahu, kebohongan sekecil apapun itu tetep sakit?"
Bryan mengedikkan bahunya menanggapi curhantanku. Kembali air bening menyebalkan itu memenuhi kantung mata. Sebenarnya aku membenci saat dimana aku tak bisa mengontrol air mata untuk tidak menghalangi pandangan. Tapi apa boleh buat.
Bryan kembali berusaha menenangkan dengan memeluk dan mengelus punggungku. Akh! Aku benci dengan keadaan ketika lemah seperti ini.
...----------------...
Tangisku telah mereda, dan hanya menyisakan jejak air yang mengering di pipi. Aku membuka mata yang sudah bengkak dan sulit dibuka itu, saat langit biru sudah berubah menjadi jingga. Terlihat begitu jelas dari jendela kamar yang belum kututup. Bryan sudah tidak ada di kamar ini. Aku mengusirnya karena sadar akan batasan.
Membimbing kaki untuk turun dari ranjang, aku berjalan gontai keluar dari kamar dengan pandangan buram. Sesekali tubuh ini terhuyung sebab tenaga yang cukup terkuras. Ternyata menangis itu membutuhkan tenaga ekstra, ya?
Set.
Sebuah tangan kekar menahan badanku yang hampir saja beradu dengan lantai.
"Kalo butuh sesuatu 'kan bisa panggil aku," dengus pemilik tangan yang seperti menahan kesal.
"Aku ingin pulang," putusku.
"Makan dulu, nanti aku antar."
Aku menggeleng. "Makan di rumah aja. Mas Raihan pasti udah nungguin aku."
Keheningan menerpa kami selama beberapa detik. Aku berniat kembali mengambil langkah jika Bryan tidak merespon. Tapi suara berat itu lebih dulu menghentikan niatku.
__ADS_1
"Aku antar."
Tawarannya kubalas dengan anggukan lemah. Meski Bryan mengantarku, namun kami menaiki motor masing-masing. Dia hanya khawatir aku tak bisa sampai rumah sendirian. Mau protes, tapi hati ini sedang tak ingin berdebat.
"Terima kasih," ucapku sebelum memarkirkan motor di teras.
"Via." Bryan turun dari motornya lalu menghampiriku yang hampir mencapai pintu depan.
"Ya?"
"Kamu yakin Raihan akan pulang?"
"Aku bakal nungguin dia."
"Kalo Raihan gak pulang, kamu boleh kok nginep di rumahku."
Tawaran Bryan kusambut dengan seulas senyum dan anggukan. Selepas mengambil nafas panjang guna menguatkan hati, aku pun memasuki rumah yang ternyata tak dikunci pintunya.
'Mas Raihan pulang,' batinku gugup.
"Assalamu'alaikum .... "
Inilah kali pertama suara yang selalu mampu membuat hatiku berbunga-bunga itu malah terasa getir. Melihat mas Raihan yang mendekat untuk menyambut kedatanganku, sontak membuat hati ini semakin perih. Tak percaya dengan sosok yang tengah tersenyum hangat itu adalah arwah.
"A-aku beli lauk, Mas. Buat kita makan. Aku beliin ayam geprek kesukaan Mas," balasku beralasan dengan suara bergetar. Seraya mengangkat plastik berisi ayam geprek yang sempat aku beli tadi.
Menahan air mata sekuat mungkin agar tidak menetes. Membuat dadaku rasanya semakin sesak saja.
"Loh, bukannya daging ayam di kulkas masih? Kenapa malah beli ayam geprek?"
"Males masak, Mas."
"Ya udah, ayo makan. Kebetulan Mas udah laper."
Ada rasa berdesir dalam hati saat mas Raihan menggenggam tanganku untuk membimbing ke arah meja makan. Sebisa mungkin aku bersikap biasa saja, seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa.
__ADS_1
Kami menikmati makan malam diselingi dengan canda tawa seperti hari-hari sebelumnya. Akan tetapi, saat lagi-lagi kenyataan menampar dengan keras, aku pun tersadar. Kami tidak bisa seperti ini terus.
"Mas," panggilku, memulai diskusi.
"Ada apa, Dek? Kok wajahnya jadi tegang gitu?" Mas Raihan yang hampir beranjak dari duduknya kini kembali pada posisi semula.
"Aku udah tahu semuanya."
Perkataanku membuat air muka mas Raihan seketika berubah gelap. Namun sedetik kemudian dia tersenyum simpul sambil menatapku penuh arti.
"Aku tahu."
Bisa-bisanya dia bersikap setenang itu. Padahal aku mati-matian menahan hasrat ingin meluapkan emosi lewat raungan.
"Kenapa Mas gak bilang dari awal?"
Mas Raihan menunduk, tak berani beradu tatap dengan manikku yang sudah memerah.
"Lalu kenapa kamu masih di sini, Mas? Kenapa kamu bohongi aku? Apa Mas gak pentingin perasaanku? Seenaknya aja nyembunyiin masalah dariku. Aku ini masih istrimu lho, Mas." Aku mengeluarkan uneg-uneg dalam hati.
"Aku hanya ingin berpamitan denganmu. Tapi rasanya begitu sulit. Hal itu membuatku masih tertahan di sini."
Suara mas Raihan terdengar lirih namun tajam. Hingga mampu mengoyak hatiku. Membuatnya seperti teriris-iris menjadi potongan kecil-kecil.
"A-apa setelah ini kamu akan pergi meninggalkanku selamanya?"
Pertanyaan itu keluar selaras dengan bendungan yang sudah kubangun sedemikian kokoh akhirnya runtuh juga. Hatiku berkata jangan menangis, tapi mata berkata lain.
"Ya. Selama kamu ikhlas melepas kami."
Deg.
Aku meraup wajah dengan kasar untuk menghapus air mata yang terus merembes keluar dari kantung mata. Sebab punggung tangan yang sedaritadi kugunakan untuk menyekanya, masih tak mampu menghentikan laju benda bening itu.
"Maaf. Mas udah mengingkari janji kita untuk selalu bersama," imbuh mas Raihan.
__ADS_1
Hanya menangis yang dapat kulakukan saat ini. Tak ingat sejak kapan mas Raihan sudah ada di sampingku. Lalu menarik tubuhku ke dalam pelukan. Althaf pun ikut hadir di tengah-tengah kami. Ikut memeluk tubuhku dari sisi yang lain.
"Kamu bener, Al. Mama harus ikhlas," bisikku disela derai air mata.