
Tatapan mata kami mengunci satu sama lain. Mataku tak kalah nyalangnya dari wanita jadi-jadian itu. Enak saja dia sudah membawa suamiku ke dalam kamar ini.
Jarak antara kami semakin terpangkas sebab wanita di depan mendekatiku. Terlihat dengan jelas jika kakinya tak menapak bumi. Fix, dia hantu.
Apakah aku akan takut saingan dengannya? Tentu saja tidak! Pelakor tetap pelakor. Mereka perlu dibasmi supaya tidak meresahkan hubungan orang lain.
"Menyingkir dari kekasihku," ucapnya tanpa berkedip sama sekali.
"Kekasih? Aku istri sahnya. Kamu mau apa dasar pelakor!" sarkasku. Tak terima jika ada wanita lain yang menganggap suamiku sebagai kekasihnya.
Meski di luar aku tampak berani, tapi kakiku sudah gemetaran dari tadi. Kurapalkan ayat kursi dan doa-doa pendek yang kubisa. Mata terpejam kuat saat wajah pucatnya semakin mendekat.
Satu detik.
Dua detik.
Hingga tiga detik berlalu, aku tak mendengar apa-apa lagi. Maka kubuka perlahan kelopak mata guna memastikan keadaan.
Kepalaku celingukan mencari keberadaan hantu pelakor itu, ketika kedua netra telah terbuka sepenuhnya.
"Loh? Kok ilang?" gumamku bingung.
Tapi masa bodoh. Bagus jika dia pergi. Fokusku sekarang beralih pada mas Raihan yang sepertinya sudah lebih tenang.
"Mas? Kamu gak apa-apa?" Tanganku hampir menyentuhnya namun segera ditepis kasar olehnya.
"K-kenapa, Mas?"
Mas Raihan bangkit, kemudian berlalu dari kamar, mengacuhkan keberadaanku begitu saja.
Kaget?
__ADS_1
Tentu.
Sebenarnya mas Raihan ini kenapa? Dia bersikap aneh sekali.
"Mas, tunggu!" Aku mengejar mas Raihan dari belakang.
Meninggalkan bellboy yang masih pingsan itu di dalam kamar sendirian. Makan tuh kamar angker. Salah sendiri pakai acara pingsan segala. Kan nyusahin.
"Mas Raihan!" teriakku sebelum dia memasuki lift.
"Mas!"
"Woy!!"
Sialan. Bahkan saat sudah kunaikkan nada suara beroktaf-oktaf, seperti tarzan memanggil kawan-kawannya di hutan pun tetap saja mas Raihan tak mendengar panggilanku. Seperti bukan mas Raihan saja dia itu.
......................
"Mas? Mas Raihan ada di dalam?"
Yang benar saja, bagaimana bisa suamiku setega ini. Tadi mas Raihan meninggalkanku di hotel, sekarang saat sampai di rumah dia mengunci pintu kamar seenaknya. Kenapa sikapnya makin aneh saja saban hari?
Sayup-sayup terdengar suara cekikikan dalam kamar. Tidak hanya terdengar suara mas Raihan saja, tapi juga ada suara wanita di sana.
Dengan perasaan penuh tanda tanya, kutempelkan telinga pada daun pintu untuk menguping apa benar sumber suara itu berasal dari dalam kamar. Memastikan pula bila itu bukan suara televisi.
Deg.
Ternyata pendengaranku masih berfungsi normal. Sudah terpikir tadi jika aku salah dengar.
Mas Raihan sama siapa di dalam? Kenapa suara itu lama-lama berubah menjadi desah yang membuat badanku menegang?
__ADS_1
Sepertinya mas Raihan sedang bersenang-senang dengan wanita lain di kamar kami. Setega itu mas Raihan memperlakukanku setelah kepergian anak kami satu-satunya.
Semudah itu suamiku mengkhianati janji suci pernikahan kami. Bahkan setelah segala pengorbanan yang selama ini kulakukan untuknya. Apakah ini balasan untukku yang tidak bisa menjaga kehormatan untuknya?
Air bening perlahan berlinang melewati pipi dengan ringannya. Menyandarkan punggung pada pintu untuk menguatkan diri agar tetap berpijak dengan benar.
Suara erangan dan desah halus memenuhi telinga. Seolah beribu sembilu menghujam dada. Hingga membuatku kesulitan bernafas meski hanya mengumpulkan oksigen.
Apa mas Raihan sesakit ini saat mengetahui perbuatan Bryan padaku, sampai aku mengandung bibit penerusnya?
Sempat terlihat samar, karena air mata yang terus terurai pada kedua netraku. Di depan sana, Althaf dan Rada tengah menatap sendu ke arahku.
Maaf, Nak. Membuat kalian menyaksikan wajah menyedihkan, Bunda. Pasti kalian ikut sedih melihat Bunda seperti ini.
Aku merentangkan kedua tangan ke depan. Dua anak kecil di depan sana langsung paham dengan isyaratku. Mereka perlahan mendekat, lalu masuk ke dalam pelukan kasih sayang yang aku tawarkan.
Kesedihan dan kekecewaanku bagai terserap begitu saja setelah beberapa saat berbagi duka pada mereka. Seolah mendapat kekuatan, aku pun kembali bangkit dan menguatkan hati.
Ya, aku tak boleh kalah. Bagaimana pun aku adalah istri sah di sini. Statusku lebih kuat dari wanita yang sedang bermesraan dengan suami di dalam sana.
"Terima kasih, Nak. Kalian memang penyemangat Bunda," ujarku. Mengecup lembut pucuk kepala anak-anakku satu-persatu.
Setelah mengambil nafas dalam guna mengumpulkan kekuatan, kukeluarkan suara cetar sambil menggedor pintu kamar.
"Mas? Buka pintunya. Aku mau masuk!"
"Mas? Mas Raihan. Kok lama sih? Kamu ngapain di dalam? Lagi indehoy, ya? Cepetan dong jangan lama-lama. Aku join boleh gak?" cerocosku asal, tak kunjung mendapat sahutan dari dalam.
"Mas? Kamu denger gak sih?!"
Ceklek.
__ADS_1
Nah, akhirnya pintu terbuka juga. Ingin segera aku menerobos masuk, kemudian menyeret pelakor itu keluar rumah tanpa memperdulikan keadaannya.