Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
37. Rada


__ADS_3

Di sore hari dengan setitik awan mendung, aku masih betah duduk di depan jendela sembari memandangi dua makam di samping rumah.


Satu makam dengan nisan, dan satu lagi masih rata dengan tanah. Entah sampai kapan aku bisa menyembunyikan hal ini dari mas Raihan.


Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, hingga aku hampir saja melupakan makam anak keduaku itu. Begitu pula mas Raihan yang beberapa minggu terakhir ini suka pulang larut.


Semenjak Althaf pergi dari sisi kami, seolah hubunganku dengan mas Raihan kian merenggang saja. Dia jarang sekali menghabiskan waktu di rumah. Hanya bekerja dan bekerja. Pulang cuma untuk tidur dan makan. Saling bertukar kata pun sekarang sudah jarang kami lakukan.


"Mama."


Suara yang sangat aku rindukan itu bagai merasuk ke dalam jiwa. Aku menoleh ke belakang, dimana suara itu berasal.


Dua kelopak mataku sontak melebar dengan sempurna, menyaksikan seorang anak laki-laki sedang menggendong bayi yang aku yakin itu bayi perempuan.


"A-Al .... " Seolah kerongkonganku sangat kering hingga mengucapkan satu kata saja terasa begitu sulit bagiku.


"Adik Al cantik ya, Ma," ujar Althaf sambil menciumi bayi dalam gendongannya. Terlihat sekali jika dia sangat menyayangi adiknya.


Tunggu! Adiknya?! Berarti bayi dalam gendongan itu anak keduaku yang tak lain adalah anak Bryan.


Tanpa mampu membalas ucapannya, aku berjalan mendekati mereka. Dengan tangan yang sudah terjulur guna meraih bayi cantik dalam gendongan Althaf itu.


Kini bayi tersebut sudah berpindah ke dalam dekapanku. Rasa sedih yang teramat sangat seketika menyerang kalbu. Sudah menjadi impian kami memiliki bayi perempuan setelah Althaf lulus sekolah dasar nanti.


Tapi impian itu hanya akan menjadi angan yang diterbangkan angin lalu menguap di atas awan.


"Hiks .... " Isak dan derai air mata tak dapat kutahan lagi.


Hatiku hancur. Seluruh impian untuk melihat anak laki-laki kebanggaanku musnah sudah. Bayangan untuk melihatnya tumbuh dewasa, menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan, hingga menikah dan menimang cucu kini hanya sebatas angan-angan.


Manusia hanya bisa berencana, takdir Tuhan yang menentukan. Dengan menyebut asma Allah aku melantunkan segala kepedihan hati yang kurasakan.

__ADS_1


"Adik Al namanya siapa, Ma?"


Suara itu kembali menyadarkanku pada bayi cantik dalam dekapan. Bahkan wajahnya yang polos tanpa dosa sudah kuhujani beberapa kecupan.


"Nama ya .... " Akhirnya aku bisa merespon pertanyaan Althaf setelah menguatkan hatiku yang masih diselimuti pilu.


"Al menunggu, Ma."


Aku berpikir sejenak. "Umm, namanya Rada."


"Rada?"


"Iya, gabungan dari nama depan papa sama huruf depan dan huruf belakang nama Mama. Kalau diambil dari nama depan papa sama nama panggilan Mama jadinya Ravia. Kok jadi lucu, ya? Hahaha."


Biarlah. Meski bayi ini bukan anak mas Raihan, setidaknya dia bisa mengobati rasa kecewaku yang teramat sangat karena impian kami yang gagal.


Aku tertawa, Althaf juga melakukannya. Kami tertawa bersama di atas kenyataan yang pahit. Tak terasa tawaku yang semula riang, kian lama kian terdengar menyedihkan.


Aku kembali menangis di sela tawa. Hingga panggilan mas Raihan tidak aku indahkan sama sekali. Bahkan aku juga tidak tahu kapan dia pulang.


Terasa guncangan tangan kekar mas Raihan di kedua bahuku semakin kencang.


"Hati-hati Mas! Nanti Rada bisa jatuh," bentakku seraya menepis tangan mas Raihan dan mundur beberapa langkah menghindarinya.


"Rada?" Mas Raihan mengerutkan kening.


"Oh, iya. Maaf, Mas. Aku lupa bilang jika kita kedatangan anggota keluarga baru. Perkenalkan ini Rada, adik Althaf." Aku menyodorkan bayi cantik itu ke hadapan mas Raihan.


Namun bukan respon baik yang aku dapatkan. Mas Raihan justru hanya terdiam sambil menatap kami dengan tatapan aneh.


"Kenapa, Mas? Bukankah Mas kepingin anak perempuan? Ini impian kita, bukan?"

__ADS_1


"Sadar, Dek. Mas tahu kamu sangat kehilangan Althaf. Tapi jangan kayak gini. Kamu membuat Mas takut." Mas Raihan merengkuhku dalam pelukannya.


"Mas, hati-hati! Rada bisa kegencet," sentakku berusaha menghindar dari tubuh mas Raihan yang malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Rada nanti gak bisa nafas, Mas!" omelku lagi, tapi mas Raihan masih nampak tak peduli.


Maka kudorong paksa tubuhnya dengan satu tangan. Karena tangan yang lainnya masih sibuk menggendong Rada.


"Kamu kenapa sih, Dek?!" bentak mas Raihan, membuatku sontak terkejut.


"Mas bentak aku? Mas ini yang kenapa?! Sekasar ini sama anak dan istri. Oh, jadi Mas udah tahu jika anak ini bukan anak Mas? Oke, aku bakal ngaku."


Mas Raihan nampak berusaha mengatur nafas. Dengan wajah gusar dia bertanya. "Ngaku soal apa, Dek?"


"Ngaku kalau Rada ini bukan anak Mas. Tapi anaknya Bryan."


Pria di hadapanku semakin terlihat tercengang dengan pengakuanku barusan. Aku tahu ini kenyataan yang berat baginya. Tapi memang begitu lah keadaannya.


"Tapi aku akan tetap menganggap anak ini sebagai anak kita. Mas juga mau 'kan?" tanyaku antusias.


"Jangan gila, Dek .... " lirihnya.


"Siapa yang gila, Mas? Ini kenyataannya. Mas gak terima?"


"Kamu udah gila." Mas Raihan geleng-geleng kepala lalu meninggalkanku begitu saja.


"Mas? Mau kemana? Mas gak mau gendong Rada dulu? Sebentar aja, Mas," racauku, mengejar mas Raihan dari belakang.


"Mas! Tunggu dong!" Teriakanku bahkan tak dihiraukannya.


Mas Raihan pergi begitu saja dengan mobilnya, bahkan dia belum bilang mau pergi kemana. Dasar, seenaknya saja jadi orang.

__ADS_1


"Sabar ya, Nak. Nanti lama-lama papa juga akan menerimamu." Kecupan sayangku mendarat pada dahi bayi cantik yang aku gendong.


Jujur saja, dia cantik seperti Mama-nya.


__ADS_2