Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
23. Bagas


__ADS_3

"Ma, papa kemana? Kok gak pulang-pulang?"


Pertanyaan Althaf membuatku tersenyum kecut. Ini sudah hari ketiga mas Raihan tidak pulang. Dan aku yakin dia kembali ke rumah orang tuanya.


Kalau disuruh membujuknya pulang, tentu aku bersedia. Namun untuk ke rumah mertua, butuh persiapan mental baja guna menghadapi nenek lampir itu.


"Ma! Kok malah ngelamun?" Althaf mengibaskan tangannya di depan wajahku.


"Oh, e-enggak. Papa lagi sibuk akhir-akhir ini. Jadi, gak sempet pulang. Tau sendiri 'kan, tempat papa kerja di luar kota."


Huftt, alasan jitu agar Althaf tidak mencecarku dengan pertanyaan mendetail. Kalau dia tahu mas Raihan ada di rumah neneknya, pasti dia akan memaksaku untuk mengantarkannya ke sana.


"Hmm, iya juga sih. Ya udah, Al pamit main dulu ya, Ma. Assalamu'alaikum .... "


"Wa'alaikumussalam .... Dasar bocah, belum juga diijinin, udah main pergi aja," gumamku geleng-geleng kepala.


Tidak adanya mas Raihan tentu berdampak pada makam di samping rumah, tidak ada yang merawat. Sudah beberapa hari ini terbengkalai tak ada yang menjamah. Biasanya makam itu terlihat rapi, bersih, pun dengan taburan bunga yang setiap hari diganti baru.


Biarkan saja, aku sendiri masih tak percaya dengan makam yang katanya keramat itu.


Gludak!


Aku mendengus kasar. Terdengar suara barang terjatuh dari arah dapur. Sebenarnya aku ingin mengacuhkannya, namun suara yang memanggil itu membuatku penasaran juga.


"Tante .... "


Itu suara Bagas.


Aku tahu dia tidak berniat buruk padaku, maka aku datang memenuhi panggilannya. Setelah sampai di ambang dapur, kutolehkan kepala lebih dulu. Takut-takut itu hanya hantu yang menyamar.


Mana ada hantu menyamar menjadi hantu? Haha.

__ADS_1


Aku menertawai diri sendiri dengan pikiran absurd itu. Semenjak bisa melihat makhluk tak kasat mata, otakku seperti sudah sedikit bergeser dari tempatnya.


"Tante, tolong .... "


Nah, sepertinya dia benar Bagas.


Sebuah kepala menggelinding di dekat kakiku. Aku sudah tidak kaget lagi dengan penampilan kepala tanpa tubuh itu.


"Kenapa, Bagas?" Kedua mata sayunya menatapku sendu.


"Bantuin Bagas buat balas dendam."


"Eh? Balas dendam?"


Apa-apaan hantu ini. Datang-datang minta orang suruh balas dendam? Yang benar saja.


"Supaya Bagas bisa istirahat dengan tenang."


"Bagas gak bisa menjangkau orang itu. Dia menggunakan pelindung."


"Aduh, maaf, ya. Bukannya gak mau bantu. Tapi, Tante gak paham apa yang Bagas bicarain." Aku sedikit memundurkan diri menjauh dari kepala Bagas.


Ampun deh. Dia hanya arwah penasaran yang matinya karena dijadikan tumbal, makanya dia tidak tenang. Dan aku tak mau terlibat dengan urusan itu lebih dalam.


"Cuma Tante harapan Bagas. Tolong .... "


"Lah, kenapa Tante?" tanyaku tak terima.


"Karena Tante yang bisa lihat Bagas."


"Yang mata batinnya terbuka bukan Tante aja, Bagas. Di luar sana masih banyak. Bahkan mereka lebih hebat dan berpengalaman dari Tante. Sudah, cari orang lain sana."

__ADS_1


"Tapi, Bagas gak bisa keluar dari rumah ini."


Aku menoleh cepat ke arah Bagas yang wajahnya sudah sangat menyedihkan. Aduh, sebenarnya aku kasihan melihat anak kecil memohon-mohon seperti ini. Tapi dia hanya arwah penasaran.


"Kenapa?" tanyaku akhirnya.


"Rumah ini sudah di pasangi pagar gaib agar makhluk seperti kami tidak bisa keluar ataupun masuk sembarangan. Orang itu pula yang sudah menumbalkan beberapa nyawa tak bersalah."


"What?!!"


OMG! Pantas saja hantu yang aku temui di sini hanya itu-itu saja. Ternyata itu alasannya. Saking seringnya bertemu mereka, perasaan takutku sudah hilang karena terbiasa.


"Tapi, siapa pelakunya?"


"Pemilik rumah ini."


Aku berpikir sejenak. Bukankah pemilik rumah ini adalah kami? Aku tidak mungkin melakukan hal musyrik seperti itu. Memasang pagar gaib? Sangat tidak masuk di akal.


Mas Raihan? Sangat tidak mungkin. Mas Raihan sama sepertiku yang membenci dan menjauhi segala hal yang berhubungan dengan kaidah ilmu perdukunan.


Althaf? Yang benar saja. Dia hanya bocah 10 tahun yang tahunya cuma main dan belajar.


Lalu siapa?


Tunggu sebentar.


Pemilik rumah ini? Jangan-jangan pemilik pertama rumah ini! Bryan! Ya, pasti dia pelakunya. Pantas saja perbuatannya sudah melampaui setan. Apakah Bryan juga yang sudah menumbalkan Bagas?


Kalau benar, tega sekali dia. Merenggut hak hidup anak sekecil Bagas. Perbuatannya benar-benar sudah di luar batas. Ini kriminalisasi.


"Maksudnya Bryan?" tanyaku yakin, mataku sudah mengkilat penuh dendam.

__ADS_1


__ADS_2