Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
32. Ditumbalkan


__ADS_3

Mas Raihan terlihat acuh menggendong tubuh lemas Althaf masuk ke dalam rumah. Entah memang tak peduli atau memang tak tahu, karena memang fokusnya sekarang tertuju pada keselamatan anak kami satu-satunya.


"Gimana ini, Ustadz?" tanyaku bingung. Masih terpana menyaksikan darah itu tak henti-hentinya mengucur keluar dari dalam tanah.


"Wallahu'alam. Kita berdoa saja semoga yang ditakutkan tidak terjadi."


"Maksudnya apa, Ustadz?"


Ustadz Khalid menatap dengan nanar. Seolah sedang menimbang sesuatu untuk dikatakan.


"Ustadz?" tanyaku tak sabar sekaligus penasaran.


Pria yang usianya kira-kira beberapa tahun di atas suamiku itu menghembuskan nafas berat, lalu menjawab. "Sebenarnya mengenai jin yang dijadikan pemujaan oleh keluarga pak Kades itu benar adanya. Dia jin yang diwariskan turun-temurun dari kakek buyut pak Kades." Ustadz Khalid berhenti sejenak untuk mengambil nafas.


"Saya sudah tahu itu dari lama. Namun selama ini saya diam. Karena aura dia yang sangat negatif juga kekuatan yang dimilikinya sangat besar, sebab jin kafir itu terus diberi makan oleh pemiliknya. Apalah daya saya hanya manusia biasa yang hanya bisa berserah pada keagungan Allah," sambungnya.


"Diberi makan? Maksud Ustadz, tumbal?"


"Benar."


"Lalu kutukan Sekar itu bagaimana?" tanyaku masih belum mengerti.


"Kita buktikan dulu kebenarannya."


"Caranya, Ustadz?"


Entah mengapa penjelasan ustadz Khalid menurutku hanya berputar-putar. Tidak langsung mengatakan pada akar masalahnya saja. Tapi untuk menghujatnya juga aku merasa tidak pantas. Dia sekelas ustadz ternama. Mana berani aku bertindak bar-bar di depannya.


"Mbak sudah tahu tempat tinggal jin kafir itu 'kan?"

__ADS_1


Aku berpikir sejenak. "Maksud Ustadz peti?"


"Sekarang Mbak ke rumah pak Kades. Keluarkan peti itu ke halaman luas. Tunggu saya sampai di sana," pamit ustadz Khalid yang sudah beranjak pergi meninggalkanku yang masih mematung di tempat.


Otakku ini jika sedang dalam kondisi urgent memang sulit sekali diajak kerja sama.


"Tapi ustadz mau kemana?" teriakku pada ustadz Khalid yang sudah semakin menjauh.


"Pulang. Mengambil minyak tahan dan korek api," balasnya tanpa menghentikan langkah lebarnya.


Minyak tanah dan korek api? Untuk apa? Aduh, otakku ini memang lemotnya amit-amit deh. Tiba-tiba aku teringat Althaf dan mas Raihan yang belum juga menampakkan diri lagi.


Bahkan kami lupa untuk mengucapkan terima kasih pada ustadz Khalid tadi saking kalutnya. Segera meluncurkan langkah kaki dengan lebar saat memasuki rumah.


"Al? Mas Raihan?" Tak lupa untuk mengeluarkan suara lima oktafku yang legendaris.


Tak ada sahutan. Aku memeriksa setiap bilik. Namun tak menemukan dua lelaki yang paling kusayangi itu. Kemana mereka? Atau mata batinku ini yang salah lihat?


Ketukan dari arah pintu depan mengalihkan atensiku. Aku kembali menuju ke ruang depan untuk melihat siapa tamuku kali ini.


Ceklek


Sudah kuduga.


Wajah Bryan yang merah padam langsung memenuhi pandanganku.


"Ada apa—akh!" Belum sempat aku bertanya keperluannya, dia mengejutkanku dengan langsung meraih leherku lalu mencekiknya dengan kuat.


"A-apa y-yang—" Sulit sekali untuk berbicara di saat seperti ini. Sekuat tenaga aku melonggarkan jeratan tangan Bryan yang semakin mengencang.

__ADS_1


"M-mas Raihan. Tolong!" jeritku tak membuat Bryan menyerah. Dia sudah seperti orang kesurupan saja.


Ekor mataku sempat melihat beberapa warga yang keluar dari rumah mereka, hanya memandangiku dan Bryan tanpa ada niat untuk membantu ataupun melerai kami. Ada apa dengan warga desa ini? Apa yang waras di sini hanya keluargaku dan keluarga ustadz Khalid saja?


Bugh!


"Arrgghh!"


"Mas?! Uhuk ... Uhuk .... " Beruntung akhirnya aku bisa terlepas dari cekikan tangan Bryan itu, setelah mas Raihan datang dari dalam rumah dan langsung melayangkan tendangannya pada samping tubuh Bryan.


"Ada apa denganmu?!" Mas Raihan sudah berdiri di samping tubuh Bryan yang terkapar di atas lantai.


"Mati! Kalian harus mati!" Nada suara berat dari Bryan sukses membuatku merinding. Dia seperti bukan Bryan saja.


"Bedebah!" Mas Raihan meraih kerah baju Bryan, mengajaknya keluar dari rumah menuju ke jalan, dimana beberapa warga sedang menonton dari sana.


Aku segera menyusul mereka keluar, namun teringat akan pesan ustadz Khalid tadi. Maka aku melewati keduanya, menyisir jalan di antara gerombolan warga kampung. Pumpung Bryan ada di sini juga. Sepertinya keadaan akan aman jika aku ke rumahnya untuk mengeluarkan peti itu.


Sempat melihat ke arah beberapa warga yang mengelilingi makam keramat di samping rumah. Mereka seperti sedang berdoa. Beberapa di antaranya menaburkan bunga setaman, ada juga yang menuangkan air dari dalam kendi kecil. Darah yang mengucur dari sana pun belum surut juga. Tapi aku tak peduli. Tujuanku ada di depan mata.


"Divia!!" Sempat terdengar teriakan mas Raihan memanggil namaku. Maka aku hanya memberi isyarat padanya dengan menunjuk arah rumah pak Kades.


Setengah berlari aku menyusuri jalan di depan agar cepat sampai. Khawatir jika ustadz Khalid sudah ada di sana duluan, dan sedang menungguku. Bahkan hampir saja aku terjatuh karena tak sengaja tersandung batu karena terburu-buru.


"Awh," rintihku merasakan sakit yang teramat sangat pada jempol kaki yang ternyata sudah mengeluarkan beberapa tetes darah.


"Batu sialan!" umpatku, tak menghentikan langkah sama sekali.


Perasaanku mulai tidak enak. Aku harus cepat. Aku yakin firasat ini tidak salah. Terus kupercepat langkah menjadi berlari kecil saat sudah melewati gerbang depan rumah pak Kades.

__ADS_1


Segera saja aku melesat menuju halaman belakang. Namun sosok di depan sana membuatku terperanjat kaget bukan main.


"Astaghfirullah! Ustadz Khalid!!"


__ADS_2