
"Astaghfirullah! Ustadz Khalid!!" pekikku menghentikan langkah.
Tubuhku langsung merosot di atas tanah ketika menyaksikan tubuh ustadz Khalid sudah tergeletak di depan sana dengan kondisi yang mencengangkan.
Tangannya masih bergerak-gerak seperti menyuruhku untuk mendekat. Aku pun menurut, meski hatiku tak terlalu kuat untuk melihat keadaannya dari dekat.
Tubuh ustadz Khalid sudah dipenuhi darah di beberapa tempat. Terlebih lubang di dadanya yang menganga lebar. Memungkinkan untuk bisa melihat organ di dalamnya dari tempatku bersimpuh.
Netranya yang semakin sayup menatapku penuh harap. Dia menunjuk satu jerigen kecil yang kutahu isinya adalah minyak tanah. Lengkap dengan korek api di dekatnya. Keduanya berada tak jauh dari tubuh ustadz Khalid tergeletak.
Aku langsung tahu apa yang ustadz Khalid inginkan. Aku pun mengangguk pertanda paham. Beliau tersenyum, mulutnya menggumamkan dua kalimat syahadat dengan tersendat-sendat, lalu menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya saat baru sampai di tengah-tengah kalimatnya.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun .... " lirihku pelan dengan lelehan air mata yang sudah membasahi pipi.
Beliau orang paling baik yang pernah aku kenal setelah Yati di desa ini. Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih atas bantuannya menyelamatkan Althaf tadi. Bagaimana dengan istrinya yang otomatis menjanda? Aku tak bisa membayangkan.
Gludak! Gludak!
Sayangnya suasana berkabung ini harus berakhir tatkala suara berisik dari dalam peti itu terdengar. Beranjak dari samping jasad ustadz Khalid, aku pun mendekati ruangan kayu itu dengan perlahan.
Jujur aku takut. Sangat. Mana aku sendirian di sini. Sedikit menyesal kenapa tadi tak mengajak mas Raihan ikut serta. Tapi mau bagaimana lagi, sudah ada beberapa nyawa yang rela berkorban demi aku yang bisa samping berada di titik ini.
Rasa nyeri pada jempol kaki ini kian menyiksa. Tapi aku harus kuat. Sedikit lagi aku akan sampai. Kulewati begitu saja jasad pak Kades yang masih dibiarkan tergeletak di ruangan pengap ini.
Bahkan jasadnya sudah mengeluarkan bau busuk yang begitu menyengat, padahal baru dibiarkan beberapa jam saja. Biar kutebak. Beberapa jam lagi jasad pria gempal itu akan dipenuhi oleh belatung. Hii ... Ngeri. Aku sudah seperti melihat salah satu adegan film azab secara langsung.
Kita tinggalkan pak Kades dengan belatungnya. Fokusku kini beralih pada peti besar yang sudah ada di depan mata. Sedikit insecure dengan badanku yang kurus kerempeng ini.
Mana bisa aku mengeluarkannya seorang diri?!
Mau memutar otak bagaimana pun tetap tak ada solusi jitu yang terlintas. Hanya akan mengulur waktu yang ada. Jika Bryan muncul, aku yakin dia akan menghambat pekerjaanku. Berharap mas Raihan yang akan memenangkan perkelahian di antara mereka.
"Urghh!" erangku sembari mendorong peti besar itu menuju pintu.
__ADS_1
Namun peti itu belum juga bergeser dari posisi semula. Padahal peluhku sudah menetes beberapa di atas tanah yang kupijak. Tapi menyerah di saat-saat terakhir bukanlah jalan ninjaku. Terus kudorong dengan segenap kekuatan yang ada.
Srett!
Tersenyum bangga saat perjuanganku sedikit membuahkan hasil. Tak apa sedikit demi sedikit lama-lama berhasil jua. Tak ada usaha yang sia-sia, bukan?
"Ma."
Aku menoleh pada suara yang bersumber dari pintu masuk.
"Althaf? Ngapain kamu di sini?" tanyaku heran sekaligus senang.
Akhirnya aku mendapat bala bantuan. Perasaan lega juga hinggap di hati tatkala melihat Althaf baik-baik saja setelah insiden di tanah makam tadi.
Althaf mendekat. "Al bantu, Ma."
"Emang kamu kuat."
"Harus kuat dong. Al 'kan anak Mama." Althaf tersenyum manis sekali. Hatiku menghangat dibuatnya.
Gludak! Gludak!
Suara yang terus keluar dari dalam peti malah memacu adrenalin kami. Takut jika makhluk itu tiba-tiba keluar lagi, maka kuperkuat doronganku. Hingga cahaya matahari bagai menyambutku dari luar sana. Yah, sedikit lagi.
Srett ....
"Alhamdulillah .... " ucap syukurku saat berhasil mengeluarkan peti itu dari dalam ruangan pengap nan gelap itu.
Kami sedikit menggesernya lebih ke ujung halaman, agar menjauh dari ruangan berbahan dasar kayu itu. Supaya apinya nanti tak merembet kemana-mana. Masalah bisa tambah runyam nanti kalau apinya tak bisa dijinakkan.
Kuraih jerigen juga korek apinya. Menuangkan seluruh minyak tanah di dalam pada permukaan peti tersebut. Lalu segera menyalakan apinya dengan korek.
"Arghhh!!"
__ADS_1
Suara mengerikan itu bersumber dari dalam peti. Aku sampai menahan nafas menyaksikan api yang melahap setiap inci dari peti tersebut.
Namun wajah Althaf masih tenang-tenang saja menyaksikan peti yang terbakar di depan matanya itu.
"Al pulang dulu ya, Ma?"
"Eh, kok gak bareng Mama aja?"
"Dadah, Ma. Al sayang, Mama." Althaf sudah meluncur begitu saja, meninggalkanku yang memandang jengah kepergiannya.
"Dasar kebiasaan. Belum juga diijinin, udah main pergi aja," dengusku.
Ku alihkan pandang ke arah peti yang terbakar hebat itu. Dengan begini aku berharap semua keanehan di desa ini akan lenyap seiring terbakarnya peti itu, yang beberapa saat nanti menjadi debu dan terbang bersama angin.
"Alhamdulillah. Aku berhasil .... " lirihku lega.
"Via!"
Panggilan mas Raihan dari arah belakang langsung kusambut dengan rentangan tangan.
"Ustadz Khalid—"
"Sudahlah, Mas. Semua sudah berakhir," potongku cepat. Tak ingin perasaan tenang ini berubah sendu.
Aku memeluk tubuh kekar mas Raihan dengan erat. Wajahnya yang lebam di beberapa tempat tak kuhiraukan lagi.
"Mana Althaf?" tanyaku sambil melerai pelukan.
"Althaf .... " sahutnya ragu.
"Althaf kenapa?" tanyaku heran.
Melihat wajahnya yang berubah pias dengan sudut mata yang sudah berair, membuat pikiran negatifku menyerang.
__ADS_1
Kenapa lagi anak itu. Bukannya tadi dia baik-baik saja?