Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
38. Kamar Nomor 444


__ADS_3

Sinar matahari hari yang terik tak menyurutkan niatku untuk memata-matai kegiatan mas Raihan hari ini. Semalaman dia tidak pulang. Mana bisa aku berdiam diri dengan tenang di rumah.


Mengingat ucapan Nenek Surti tempo hari, aku jadi menaruh curiga pada suamiku sendiri. Tak lupa, aku tadi pagi juga sudah menitipkan Rada pada Althaf. Jadi aku bisa mengikuti gerak-gerik mas Raihan hari ini dengan santai.


Seorang wanita paruh baya terlihat sedang berbincang pada mas Raihan. Beberapa saat kemudian mereka pergi dari tempat proyek menggunakan mobil, yang aku yakin mobil tersebut milik wanita yang tak aku kenal itu.


Melihat dari penampilannya yang modis, sepertinya dia bukan orang sembarangan. Bahkan selera fashion Gita saja kalah dibandingkan dengannya. Apa lagi aku yang hanya ibu rumah tangga biasa dengan daster sebagai seragam kebangsaanku.


"Mereka mau kemana?" gumamku sembari mengikuti CR-V putih itu dari belakang.


Semakin terkejut tatkala kuda besi yang aku ikuti ternyata menuju ke sebuah hotel ternama di daerah ini. Hanya ada dua dugaan dalam benakku.


Yang pertama mereka ada meeting. Lalu yang kedua mereka ada main di belakang. Sampai-sampai aku terus membuntuti, hingga keduanya memasuki salah satu ruangan dengan nomor kamar 444.


"Sialan!"


Dug.


Aku mengumpat seraya memukul tembok di sampingku. Ternyata benar perkiraanku selama ini. Mas Raihan sudah main gila di belakangku.


Yang membuat aku terkaget lagi, ternyata dia tidak main dengan Gita. Tetapi dengan tante-tante yang bila dilihat dari wajahnya saja, usianya sudah lebih tua belasan tahun dari suamiku.

__ADS_1


Benar-benar gila sih ini.


Anaknya saja meninggal belum ada 40 hari, tapi dia sudah berani mengkhianati janji suci pernikahan kami.


"Mbak?"


Ku tolehkan kepala pada sumber suara dari arah punggung. Seorang bellboy yang tak sengaja lewat, menatapku dengan aneh.


"Apa?" tanyaku ketus.


"Mbak ngapain ngintip ruangan itu." Tangannya menunjuk pintu kamar di sebelahku.


"Suami saya selingkuh, Mas. Dia ada di dalam. Mas bisa bantu saya gak? Saya mau minta kunci cadangannya."


"Tidak mungkin. Mbaknya salah lihat kali."


"Mana mungkin mata saya salah, Mas. Saya belum rabun kok. Tadi saya lihat suami saya masuk ke kamar ini dengan seorang wanita," jelas ku, ngotot.


"Tapi kamar ini sudah lama tidak terpakai, Mbak. Setelah kasus bunuh diri tempo hari lalu."


Penjelasan itu sukses membuat mata dan mulutku terbuka lebar secara bersamaan.

__ADS_1


"Mas ini gak bercanda 'kan?" tanyaku masih dalam mode syok.


"Ngapain saya bercanda, Mbak. Udah, mending Mbaknya pulang aja jangan dekati kamar ini lagi. Saya permisi." Bellboy itu pun undur diri dengan segera. Sembari memasang tampang ketakutan.


"Apa mas Raihan dan selingkuhannya sengaja menyewa bellboy itu untuk mengelabuhiku?" tanyaku pada diri sendiri.


"Kalau pun itu benar, mereka sudah salah besar jika mengira aku akan percaya dengan cerita murahan bellboy itu." Aku sudah mendiagnosis keadaan bak detektif pembasmi pelakor seperti di sinetron-sinetron.


"Eh, Mas tunggu!" Aku berbalik seraya memanggil bellboy yang sudah berjalan lumayan jauh dari tempatku berdiri.


Sedikit ngos-ngosan aku menanyakan langkah dengannya.


"Jangan ganggu saya!" ketusnya, bahkan aku belum mengucapkan satu patah kata pun padanya.


"Aku cuma ingin minta kunci kamar nomor 444 aja, Mas. Boleh?" pintaku.


Untung bellboy itu mau berdiri, kemudian menyahut. "Sudah saya katakan jangan dekati kamar itu. Bahaya."


"Aku perlu bukti. Suamiku selingkuh. Aku tak punya sandaran hati lagi selain dirinya. Tolong .... " Aku menggunakan mode memelas. Berharap bellboy itu luluh.


"Oke, oke. Tapi saya juga ikut mengawasi. Jangan bertindak yang aneh-aneh," ujarnya yang kusambut dengan anggukkan penuh semangat.

__ADS_1


Secara tak sengaja dia telah memberiku secercah harapan.


__ADS_2