Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
51. Mata Batin Meresahkan


__ADS_3

Aku terbangun di dalam ruangan yang terlihat asing. Tak ada niat untuk pergi dari kamar yang entah milik siapa itu. Aku duduk dengan punggung bersandar pada kepala rajang. Sepasang netra menerawang lurus ke depan, masih mencoba mencerna apa yang terjadi.


Dengan mata ini aku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Aku mulai ragu akan keyakinanku sendiri. Makhluk hidup dan makhluk tak kasat mata, semuanya nampak sama, tak ada bedanya di mataku.


Tanpa bertanya-tanya pun akhirnya salah satu pertanyaan dalam benak terjawab. Saat sosok pria berpostur tinggi membuka pintu yang memang sedikit terbuka itu dengan kakinya, karena kedua tangan sibuk membawa nampan berisi piring dan gelas.


Kenapa sih, dia harus repot-repot seperti itu? Tidak tahu apa, aku sedang tak napsu makan sama sekali. Malah kalau bisa aku ingin makan dirinya hidup-hidup saja, karena rasa dongkol ketika melihat wajahnya yang kian menjadi.


"Kamu udah bangun?" tanyanya dengan suara yang terdengar sok lembut, sembari menaruh nampan di atas meja dekat ranjang.


Aku tak berniat menjawab. Lidah ini terasa kelu, juga tenggorokan yang kering karena tidak menerima asupan mineral entah dari kapan.


"Makan dulu," tawarnya. Mengambil piring dari atas nampan dan hendak menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutku.


"Sejak kapan?" Aku mulai membuka mulut.


Bukan untuk melahap nasi yang telah berada tepat di depan bibir, namun untuk bertanya tentang apa yang membebani pikiran.


"Satu suap, satu jawaban," sahut Bryan membuatku menatapnya tak suka.


"Bagaimana?" Dia masih saja menagih karena belum mendapat jawaban dariku.


"Oke," balasku pasrah.

__ADS_1


Senyuman dengan tatap mata berbinar-binar nampak dari wajahnya. Entah mengapa dia terlihat seperti malaikat saat ini. Tapi aku harus tetap waspada dengan kebaikan yang diberikan. Sebab bisa saja dia menerkam saat aku lengah.


Tak ingin kejadian yang sudah-sudah kembali terjadi. Aku harus tetap siap siaga. Yang terpenting aku harus mendapatkan jawaban yang mungkin tidak bisa aku dapatkan dari orang lain. Bryan sepertinya tahu banyak tentang kematian suami dan mertuaku.


Jujur saja, aku masih belum percaya jika mereka sudah meningggalkanku seperti ini. Tapi tidak ada salahnya mendengar cerita dari pria yang sudah menarik kursi plastik dan memposisikan diri di samping ranjang itu.


Bryan sudah mengangkat sendok, namun aku lekas menyambar piring di tangan kirinya. "Aku bisa sendiri."


"Baik."


Aku menyuapkan satu sendok nasi beserta sayur dan lauknya ke dalam mulut. Hemm, enak juga.


"Cepat ceritakan semuanya. Aku mau dengar," desakku tidak sabar dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Hehe. O-oke. Setahuku mereka sudah meninggal sekitar 2 bulan yang lalu. Saat itu, aku yang diusir dari desa Larangan lantas lontang-lantung tak jelas selama beberapa minggu hingga akhirnya memutuskan sembunyi di desa ini." Bryan mulai bercerita padahal itu tak termasuk dalam pertanyaanku.


Tapi sudahlah, toh aku juga tidak ada kerjaan. Tak ada salahnya mendengarkan dongeng sembari makan. Mengingat kejadian 2 bulan lalu, sepertinya itu saat mas Raihan pergi dari rumah tanpa pamit karena aku menceritakan tentang Rada.


Raut Bryan berubah sendu, lalu sepersekian menit dia melanjutkan. "Aku mendengar desas-desus tentang satu keluarga yang dibantai sama kawanan perampok, saat gak sengaja keluar rumah buat cari makan. Nama Raihan disebut-sebut. Membuatku otomatis mempertajam pendengaran."


"Sempat tak percaya jika dia Raihan yang kukenal. Tapi ketika menyambangi TKP dan melihat garis polisi, juga informasi dari beberapa tetangga, aku jadi yakin jika korbannya adalah Raihan, suamimu dan kedua mertuamu."


Dari cerita Bryan, aku jadi tahu jika sekarang aku masih berada di desa Sukaraja, desa tempat suamiku dibesarkan sekaligus tempatnya meregang nyawa.

__ADS_1


Memikirkannya saja sudah membuat dada sesak. Aku menghentikan suapan nasi sejenak, guna mengambil oksigen yang terasa hampa.


Tak ingat sejak kapan air mata mulai memburamkan pandangan. Bahkan beberapa tetesnya sudah jatuh di atas piring, bercampur dengan nasi dan sayur yang aku makan.


"Eh, iya arwahnya gentayangan lho. Masa katanya malem-malem suka dateng ketuk pintu rumah warga buat minta tolong."


Tiba-tiba ucapan yang tak asing terlintas dalam otak. Tentang gosip satu keluarga yang dibunuh oleh perampok dan arwah gentayangan menghantui warga desa untuk minta tolong.


Ternyata waktu pulang dari rumah nenek Surti untuk meminta bantuan dulu, yang aku gosip kan bersama ibu-ibu lain adalah suami dan mertuaku sendiri?!


Dan yang lebih mencengangkan ialah, selama 2 bulan ini aku tinggal bersama arwah suamiku yang gentayangan? Tapi itu tak ada bedanya dengan aku yang tinggal bersama Althaf dan Rada.


Lalu apakah kedua anakku juga gentayangan?


Piring yang kupengang terjun bebas dari tangan dan berakhir di atas lantai dengan mengenaskan. Suara pecahan piring karena beradu dengan kerasnya ubin tak terdengar di telingaku sama sekali. Seketika aku merenungkan hidup yang mendadak berubah menjadi suatu tragedi.


Berbeda dengan Bryan yang terlonjak dari tempat duduknya. Menatap nanar pada ubin yang berantakan dengan nasi berceceran kemana-mana.


"Hiks .... " Isak lirih kembali menjadi musik dalam telinga.


Tiba-tiba Bryan membimbingku untuk jatuh ke dalam pelukannya. Mengabaikan akal sehat yang meminta menjauh, tangisku malah pecah. Membuat dada bidang berbalut koas itu basah karena air mata.


"Kenapa gak ada satu orang pun yang kasih tahu aku tentang hal ini? Bukankah keterlaluan jika seorang istri tidak tahu kematian suaminya sendiri?" racauku di tengah tangisan yang kian menyayat hati.

__ADS_1


"I-itu karena .... "


__ADS_2