
Ceklek.
"Bukain pintu aja kok lama sih, Mas?" tanyaku kesal, langsung menerjang tubuh mas Raihan yang bertelanjang dada, dengan celana boxer masih menutupi tubuh bagian bawahnya.
Aku terpaku menatap ranjang yang sudah acak-acakan. Namun tak kujumpai siapa pun selain mas Raihan di kamar ini.
Apa pelakor itu sudah kabur? Tapi tidak mungkin. Aku masih bisa mendengar suara desahnya tadi dengan sangat jelas. Jika dia kabur pasti belum sempat mengenakan pakaian juga. Seperti mas Raihan sekarang yang tak sempat mengenakan pakaian atasnya.
"Kenapa sih teriak-teriak? Berisik tau," omel mas Raihan dengan tatapan tak bersahabat.
"Perempuan itu kemana, Mas?" Aku menukikkan alis dengan tajam.
"Perempuan siapa?"
"Yang tadi sama kamu di kamar ini."
"Oh, Gaby maksudnya."
Jawaban yang sukses membuatku melongo. "G-Gaby? Siapa dia, Mas?"
"Pacar aku."
Deg.
Serasa jantung ini kembali berhenti berdetak. Rasa sesak semakin menjadi mendengar dengan santainya mas Raihan menyebutkan nama perempuan lain dan hubungan gelap mereka di hadapanku.
"K-kamu setega ini, Mas, sama aku?" Suaraku mulai bergetar.
"Gak ada yang tega di sini. Aku mencintainya."
"Wanita sialan itu dimana, Mas? Biar aku cakar mukanya," sungutku yang malas bermelow-melow ria. Melewati mas Raihan begitu saja. Menelusuri setiap bilik kamar dengan seksama.
Bahkan sampai bagian dalam lemari dan bawah kolong ranjang tak luput dari pengecekan. Mataku begitu jeli memeriksa setiap benda yang bersudut. Akan tetapi tak ada tanda-tanda jejak manusia selain aku dan mas Raihan di sini.
Suara cekikikan tiba-tiba datang dari arah kamar mandi, yang mana aku yakin di sana tidak ada orang lain lagi.
"Mas, itu—" Suaraku tergantung di tenggorokan, melihat mas Raihan sudah tidak ada di tempatnya semula.
__ADS_1
Kemana dia? Cepat sekali menghilangnya. Bahkan suara langkah kakinya saja tak terdengar sama sekali.
Tok Tok
"Mas, kamu di dalam?" tanyaku seraya menajamkan pendengaran dengan menempelkannya di pintu kamar mandi.
Suara mas Raihan dan seorang wanita sedang bercanda terdengar sangat jelas.
Sialan! Pelakor itu mengelabuhiku. Dia bersembunyi di dalam sana rupanya.
"Mas! Buka pintunya! Aku tahu perempuan itu ada di dalam," teriakku sambil terus menggedor pintu.
"Mas! Aku dobrak nih. Cepetan bukain pintu!"
"Mas!"
Ceklek.
Grep.
"Akh! M-Mas .... "
"M-Mas, sadar .... " lirihku susah payah melepaskan diri.
Entah apa yang terjadi dengan suamiku. Dia tiba-tiba aneh semenjak pulang dari hotel. Tempramen yang selama ini tak pernah dia tunjukkan di depanku, kini bagai hal biasa yang dia lakukan.
"Arghh! Sialan!" erangnya karena aku menggores lengan kekarnya dengan kuku jari hingga mengeluarkan darah.
Plak!
Tubuhku terpelanting mendapat tamparan keras di pipi. Yakin sekali jika pipi ini sudah tercetak tanda merah lima jarinya.
"Hiks .... " Isakan itu terdengar memilukan di telingaku sendiri.
Sakit dan panas di pipi ini tak sepadan dengan hatiku yang terluka. Tubuhku bergetar hebat selaras dengan linangan air mata yang membanjiri pipi. Meletakkan telapak tangan untuk membekap mulut agar tidak terisak semakin keras.
Tak lama sebuah tangan hangat mengelus lembut pucuk rambutku. Ingin sekali aku mendongak melihat pemilik tangan itu. Namun seolah tubuh ini enggan menuruti empunya.
__ADS_1
Terus menangis sesenggukan dalam lirih tertahan, elusan itu berganti dengan dekapan hangat. Aku yang terperanjat reflek mendongak.
"Mas .... "
"Kamu kenapa, Dek? Kok nangis kayak gini? Keinget Al, ya? Loh, pipi kamu kenapa merah gitu?" Serentetan pertanyaan mas Raihan seolah tak mengingat apa yang baru saja dia perbuat padaku.
Wajah garang dan tatapan anehnya seketika hilang entah kemana. Tatapan kasih sayang yang selalu aku lihat dari netra mas Raihan kini terpancar di pelupuk mata.
Daripada menjawab pertanyaan, aku lebih memilih membalas pelukannya. Bagai menyalurkan rasa sakit hati yang dibuat olehnya tadi. Terus mempertahankan posisi ini hingga beberapa menit.
Pada menit berikutnya, hatiku sudah semakin kuat untuk menanyakan tentang keanehan sikap suamiku. Mulutku sudah hampir terbuka saat suara mas Raihan terdengar.
"Sudahlah. Jangan menyakiti dirimu sendiri kalau lagi rindu sama Al. Hal itu malah akan membuat Al sedih di sana," tukasnya membuatku mengerutkan alis.
"Mas gak inget?" tanyaku sembari menghapus jejak air bening yang masih menempel di kantung mata.
"Inget apa?" Mas Raihan mengurai pelukan.
"Ini perbuatan, Mas," jawabku, menunjuk bekas merah di pipi.
"Maksudmu, aku KDRT gitu?"
"Mas ini udah pikun apa gimana?"
Kami saling pandang untuk beberapa saat. Tak ada yang menjawab pertanyaan yang terlontar.
Brak!
Suara dari arah kamar mandi mengagetkan kami. Atensi kami langsung tertuju pada pintu yang tiba-tiba terbuka lebar. Sosok hantu wanita dengan leher penuh darah itu muncul dari balik pintu.
"Kok dia ada di sini?" gumamku terkejut.
"Siapa, Dek?" Mas Raihan menatapku heran.
"Mas gak lihat?" Aku balik bertanya.
"Memangnya ada apa?"
__ADS_1
"Sepertinya kita diikuti hantu, Mas. Atau lebih tepatnya kamu."
"Apa?!"