Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
22. Salah Paham


__ADS_3

Setelah insiden menjadi penguntit selesai, hubunganku dengan mas Raihan sedikit membaik. Kini aku lebih memakluminya ketika dia sedang lelah.


Aku pun menghabiskan sisa hari dengan beberes rumah. Alhamdulillah, akhirnya makin kesini kehidupanku sedikit lebih tenang. Makhluk astral penghuni rumah ini juga jarang menunjukkan diri.


Sepertinya mereka mulai terbiasa dengan kehadiran kami. Baru kutahu jika sebenarnya mereka tak bermaksud jahat. Hanya menunjukkan jika mereka memang ada dan hidup berdampingan dengan kita.


Pekerjaanku telah beres semua. Waktunya bersantai di ruang tamu sambil berselancar di sosmed. Saat asyik menikmati hariku yang tenang, tiba-tiba sosok yang paling kutakuti muncul kembali di depan mata.


"Apa yang kau inginkan?" tanyaku tanpa basa-basi ketika lelaki itu baru saja akan menginjakkan kakinya ke dalam rumah. Apakah sopan santunnya sudah hilang dari peradaban?


"Suamimu ada?"


Selalu bertanya seperti itu. Namun aku sudah tahu apa yang dia inginkan sebenarnya.


"Pergilah!" ketusku, seraya menutup pintu.


Bukannya pergi, dia malah menerobos masuk. Sembari menutup pintu. Mendorong tubuhku hingga jatuh tersungkur dan berakhir di atas lantai. Tanpa mengambil celah, lelaki brengsek itu langsung mengungkung tubuhku di bawah tubuh kekarnya.


"Bryan, hentikan! Jangan seperti ini! Atau aku akan berteriak agar warga berdatangan," ancamku, yang sialnya tidak dia indahkan.


Malah semakin gencar ingin mendaratkan kecupan bibirnya pada setiap inci wajahku.


Sialan! Aku tak bisa seperti ini terus. Aku harus melawannya.


"Hentikan! Kumohon. Lihat saja, aku akan mengadukan perbuatan bejatmu pada suamiku. Bila perlu ayahmu juga harus tahu," gertakku mencoba menahan tubuhnya agar tidak terlalu menempel padaku.


Semua usahaku nihil. Tetap saja dia tidak mau beranjak dari posisinya.


Brak!


Dorongan pintu mengejutkan kami berdua.


Terlebih Bryan yang tahu ternyata mas Raihan sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam.


Alhamdulillah, pertolongan datang.


"Mas! Tolong aku!" pekikku menatapnya penuh harap.

__ADS_1


Mas Raihan berjalan cepat menghampiri kami. Diraihnya kerah belakang Bryan sebelum ia sempat mengelak. Mas Raihan menariknya hingga dia menyingkir dari atas tubuhku.


"Brengsek!" maki mas Raihan, seraya menghadiahkan tinjunya di wajah Bryan. Darah segar mengalir begitu saja dari sudut bibirnya.


Aku segera berdiri. Netraku terus menyaksikan pertarungan mereka dari jarak aman.


"Fighting, Mas!" seruku sambil mengepalkan tangan. Memberi dukungan pada suamiku.


Sama sekali tak ada niatan menghentikan mereka berdua. Biarlah Bryan mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan apa yang dia lakukan padaku tadi.


Perkelahian di antara mereka tak berlangsung lama, karena beberapa warga sudah berkumpul saat mendengar keributan yang terjadi. Karena saat ini mereka sudah mengganti arena bertarung di jalan depan rumah.


Bryan pergi begitu saja. Meningalkan mas Raihan yang masih memakinya. Sepertinya Bryan tidak ingin mengotori nama baik ayahnya. Siapa suruh tindakannya keterlaluan.


Masih dengan wajah merah bak kepiting rebus, mas Raihan masuk ke dalam rumah disertai langkah lebar.


"Alhamdulillah. Terima kasih, Mas. Untung Mas pulang. Kamu gak apa-apa?" tanyaku pada mas Raihan ketika baru saja memasuki rumah. Tatapan matanya tertuju tajam padaku, terlihat horor.


"Kenapa, Mas? Mas baik-baik saja 'kan? Ada yang sakit?" cecarku. Melihat ekspresi marah itu membuatku takut.


"Mas? Kamu ini kenapa?" Aku terperangah dengan tindakan kasarnya.


Selama ini tidak sekalipun mas Raihan bersikap kasar padaku. Lalu kenapa dia sekarang? Oh, tidak. Apakah dia kerasukan?


"Dasar wanita murahan!"


Deg.


Hatiku serasa ditancapi beribu belati secara bersamaan. Sakit, perih, pedih. Semuanya bercampur menjadi satu. Lebih mending dilecehkan oleh Bryan daripada dimaki suami sendiri.


"Mas Raihan kenapa? Apa salahku?" tanyaku dengan suara bergetar.


"Kamu selingkuh dengan Bryan. Masih perlu diperjelas?"


"Astaghfirullah, Mas! Itu gak seperti yang Mas lihat. Mas gak percaya sama aku?"


"Bagaimana mau percaya kalau semuanya sudah jelas di depan mata, Via! Kamu ada main sama Bryan 'kan? Ngaku!" bentak mas Raihan, sontak membuat tubuhku bergetar hebat.

__ADS_1


"Enggak, Mas. Mas nuduh aku yang enggak-enggak?"


"Jangan mengelak, Via. Jujur aja. Kalau aku kerja, kamu suka main sama dia 'kan?! Kamu ada hubungan apa sama Bryan?"


Aku diam, menahan tangisku agar tidak pecah. Jika sudah menangis aku susah untuk berhenti. Memerlukan waktu satu hingga dua jam untuk menghentikannya. Aku tak boleh menangis sekarang. Harus meluruskan kesalahpahaman ini dulu.


"Jawab, Via!!" Mas Raihan semakin berang.


"Aku berani sumpah, Mas. Aku gak ada apa-apa sama Bryan. Malah dia yang hampir saja melecahkanku. Hiks .... " Aku sudah tak bisa menahan isakan itu lagi.


Mengingat segala perbuatan tak bermoral Bryan, hatiku kembali terluka. Ditambah makian mas Raihan yang langsung menusuk relung hati. Disakiti oleh orang yang paling disayangi ternyata lebih membekas daripada disakiti orang lain.


"Jangan asal menyebutkan sumpah hanya karena kamu tak mau mengakui perbuatanmu. Mana ada maling ngaku."


"Istighfar, Mas!"


"Kamu yang istighfar, Via! Kamu sadar gak apa yang udah kamu perbuat barusan. Itu perbuatan rendahan."


"Mas gak percaya sama istri Mas sendiri? Padahal aku sudah berusaha percaya jika hubungan Mas sama Gita itu hanya sekedar rekan kerja. Aku mengesampingkan ego dan rasa cemburu demi hubungan kita, Mas! Tapi apa yang Mas balas ke aku? Rasa percaya aja enggak!"


"Cukup! Jangan mencari kesalahan orang lain, Via. Kamu harusnya ngaku. Bukannya terus membela diri."


"Mas selingkuh 'kan sama Gita? Makanya nyari- nyari kesalahanku, supaya ada alasan biar kita pisah. Bisa aja sebelum Mas telepon malam itu, kalian sudah kongkalikong dulu."


"Jangan menuduh sembarangan. Jadi, kamu mau kita pisan? Oke, aku bakal tal—"


"Mas?!" bentakku sebelum kata talak itu keluar dari mulut mas Raihan.


"Arghhh!" Mas Raihan merusak kasar surainya, lalu pergi meninggalkanku sendirian di kamar.


Aku menangis sejadi-jadinya. Meraung sekencang-kencangnya.


"Ya Allah, apa salahku hingga Engkau memberiku cobaan yang bertubi-tubi seperti ini?" lirihku disela tangis.


Diujung sana, hantu donat itu terus mengawasi sambil menertawaiku. Jika dia bisa aku pukul, sudah dipastikan dia bakal jadi samsak buat melampiaskan kekesalan. Aku korban di sini, tapi kenapa malah dianggap sebagai pelaku?


Mas Raihan, ada apa denganmu?

__ADS_1


__ADS_2