
"Hey,kamu dengar, tidak?"
Karena tak kunjung mendapat jawaban orang di belakang sontak membalik tubuhku dengan paksa.
"Divia?" Orang itu terkejut, sama halnya denganku yang bahkan sudah gemetaran.
Iris kami saling beradu. Tatapan nakal yang biasa aku lihat berubah teduh.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Dia mengulangi pertanyaannya.
"A-aku ... " Sedikit terbata untuk mengeluarkan suara, pikiranku sedang tidak ada di tempat.
"Kamu mencariku?"
Salah satu yang menggangu dipikirkanku adalah sikap Bryan yang sangat berbeda saat dia bertamu ke rumah. Dan tatapan itu, terlihat sangat berbeda. Bukan tatap penuh damba yang biasa dia layangkan padaku.
Apa dia benar Bryan? Atau otak mesumnya sudah waras setelah mendapat pukulan dari mas Raihan?
"Kok diam saja? Kamu sakit? Ada apa?" Bryan nampak panik mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
Aku masih diam, mencoba mencerna situasi.
"Mari, aku antar ke dalam. Duduk dulu, siapa tahu bisa membuatmu biar sedikit lebih baik."
Astaga! Apa aku tidak sedang bermimpi?
Aku bahkan seperti tak mengenal manusia di depanku itu. Seketika sikap beringas yang selalu ditunjukkan di hadapanku kemarin-kemarin hilang entah kemana.
Saat sedang fokus dengan sikap aneh Bryan, netraku tak sengaja melihat pemuda yang aku buntuti tadi sedang berdiri di depan sana dengan tatapan kosong yang selalu dia tunjukkan padaku.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanyaku spontan, karena terkejut tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Apanya yang bagaimana?" Bryan memiringkan kepalanya, menutup pandanganku.
"Pemuda itu," tunjukku. Menyingkirkan badan Bryan seraya mengambil langkah sedikit ke samping.
"Loh? Dimana dia?" Lagi-lagi penglihatanku seperti dipermainkan.
__ADS_1
Pemuda itu sudah raib dalam hitungan beberapa detik saja. Atau jangan-jangan dia bukan manusia? Kenapa tak berpikir sampai sana sejak tadi.
Plak!
Reflek aku menepuk dahi sendiri.
"Kamu ini kenapa? Siapa yang dimana?" Bryan kebingungan dengan sikapku.
"Bukan apa-apa. Pak Kades ada?" Aku beralih ke tujuan awal. Tak memperdulikan pertanyaan Bryan.
"Bapak sedang keluar. Mari masuk dulu. Tunggu di dalam saja. Sebentar lagi juga kembali," tawar Bryan yang langsung aku iyakan.
Meski sedikit menaruh curiga padanya, aku tetap mengekori. Toh, sepertinya dia sudah tobat. Jika memang dia mau berbuat jahat padaku, sudah sejak di halaman belakang dia melakukannya.
Kami memasuki rumah besar itu dari pintu belakang. Baru saja satu langkah kaki ke dalam, perasaanku sudah sangat tidak enak. Suara-suara aneh memenuhi pikiranku. Namun aku mencoba menghalaunya.
"Divia? Divia!!"
"Akhh!" Guncangan tangan Bryan di bahu membuatku tersentak. Otomatis aku beringsut menghindarinya.
"Maaf, aku tak bermaksud mengagetkan. Aku lihat kamu sering melamun. Jangan lakukan hal itu di sini atau mereka akan mengambil alih tubuhmu."
Omongan Bryan tersebut juga membuatku bingung. "Mereka?"
"Penjaga rumah ini."
"Tapi tidak ada penjaga sama sekali di rumah ini. Aku yakin itu. Saat aku datang—"
"DIVIA!"
Brak! Brak! Brak!
Teriakan dan dobrakan pintu mengagetkan kami berdua yang sudah ada di ruang tamu.
"Mas Raihan?" gumamku.
Bryan segera menghampiri pintu depan, mengabaikanku yang masih termangu di tempat.
__ADS_1
Ceklek.
"Ada perlu ap—"
"Ba jingan!"
Bugh! Bugh! Bugh!
Mas Raihan datang dengan wajah bak kepiting rebus. Merah padam. Melampiaskan kemarahannya dengan memukuli Bryan dengan membabi buta. Sedangkan yang dipukuli hanya diam saja. Sepertinya Bryan masih dalam mode terkejutnya.
"Stop, Mas!" Aku menerjang tubuh keduanya. Mengambil tempat di tengah-tengah mereka untuk melerai.
"Dasar wanita ja lang! Suami gak pulang beberapa hari kamu malah asik mesra-mesraan di rumah lelaki lain!" hardik mas Raihan padaku.
"Astaghfirullah, Mas! Kamu salah. Aku di sini untuk—"
"Pulang!"
Belum selesai aku menjelaskan, mas Raihan sudah lebih dulu menarikku keluar dari sana. Bryan hanya memandangi kepergian kami dengan tatapan nanarnya tanpa mampu berkata-kata lagi.
Bahkan dalam perjalanan pulang aku lebih memilih untuk diam. Meladeni mas Raihan yang sedang emosi bukan pilihan bagus. Hanya akan menambah salah paham di antara kami.
Brak!
Mas Raihan menghempaskan pintu kamar kami dengan begitu keras. Untung saja Althaf sedang tidak ada di rumah. Aku pun tak tahu dimana dia berada. Saat masuk tadi, rumah sudah nampak lenggang.
"Kamu gak mau aku ceraikan, tapi kelakuanmu itu gak pantas disebut sebagai istri! Istri macam apa kamu ini?!" bentak mas Raihan membuatku langsung terduduk bersimpuh di atas lantai.
"Mas salah .... " lirihku disertai derai air mata yang sudah tak mampu terbendung.
Rasa rindu yang selama ini tertahan dalam kalbu seketika berubah menjadi benci dan kecewa. Aku benci terus dituduh sebagai wanita tak bermartabat. Kecewa dengan sikap suami yang tak mempercayai istrinya sendiri. Memang aku sudah banyak berbohong padanya, namun aku juga tidak seburuk dengan apa yang dia ucapkan.
"Apa penglihatanku ini bisa salah?Mataku yang salah? Begitu maksudmu?!"
Sudahlah. Aku lelah dengan semua ini. Semua yang aku alami hari ini benar-benar menguras tenaga dan emosiku. Sepertinya istirahat sejenak sudah cukup untuk mengembalikan stamina dan mental yang digempur habis-habisan oleh kenyataan.
Brugh!
__ADS_1
"Via!!"