Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
43. Pesan yang Terlupakan


__ADS_3

"Sudah, Nduk. Berhenti nangisnya. Nenek bisa bantu kamu," hibur Nenek Surti yang aku yakin dia sudah pusing mendengar tangisku dari satu jam lalu.


"Terima kasih, Nek."


"Pulanglah. Taburkan garam ini di sekitar rumah agar makhluk halus tidak dapat masuk ke rumahmu." Nenek Surti menyerahkan satu bungkusan kecil padaku.


"Baik, Nek. Sekali lagi terima kasih. Saya pamit," pamitku, seraya beranjak dari sana.


"Ingat, Nduk. Jangan lupa ditaburkan atau suami kamu akan berhubungan dengan makhluk itu lagi. Dan supaya kamu tahu kebenarannya," pesan Nenek Surti lagi. Sebelum aku benar-benar tak nampak di sekitar kediamannya.


"Iya, iya, Nek. Ya, ampun," dengusku. Yang mulai bosan dengan wejangannya.


Dalam perjalanan pulang, aku sempat berhenti sejenak untuk mengobrol dengan beberapa ibu-ibu yang sedang bergerombol di pinggir jalan.


"Eh, iya arwahnya gentayangan lho. Masa katanya malem-malem suka dateng ketuk pintu rumah warga buat minta tolong." Salah satu dari gerombolan berujar.


"Siapa yang gentayangan?" tanyaku yang baru sampai.


"Oh, Mbak Via. Itu lho, Mbak. Di desa sebelah. Satu keluarga meninggal karena perampokan," jawab ibu-ibu yang lain.


"Innalillahi ... Yang benar, Bu?" timbrungku sebelum hanyut dalam gosip yang sedang hangat itu.


Hari sudah hampir sore saat aku sampai di rumah. Menaruh bungkusan yang diberikan nenek Surti di meja dapur lalu melenggang menuju kamar mandi. Ternyata bergosip membuat badan lengket juga.


"Dek? Kau sudah datang?" tanya mas Raihan mengetuk pintu kamar mandi.

__ADS_1


Ceklek


Pertanyaan itu diajukan tepat saat aku menyelesaikan pekerjaanku. "Sudah."


"Darimana saja? Mas cariin tadi."


"Cari angin, Mas. Sumpek di rumah," kilahku sembari keluar dari kamar mandi.


"Mas laper nih. Kamu belum masak, ya?"


"Astaghfirullah!" Aku menepuk dahi.


Kejadian hari ini membuat pekerjaan rumahku terbengkalai, hingga memasak pun aku lupa. Bahkan aku sempat melupakan cacing di perutku sudah berdemo.


"Makan di luar, yuk?" usul mas Raihan langsung kubalas dengan anggukan setuju.


Malam sudah semakin larut ketika mas Raihan memacu mobilnya untuk kembali pulang. Aku tertidur di sepanjang perjalanan. Sebab akhir-akhir ini tubuhku terasa sangat lelah berkat mata batin yang aku pertahankan ini.


Kadang aku berpikir untuk menutupnya saja. Namun wajah Althaf dan Rada yang melayangkan senyum ke arahku memupuskan niat tersebut.


"Dek, bangun. Udah sampai nih." Mas Raihan mengguncangkan bahuku pelan.


Aku yang memang sudah terbangun langsung membuka mata. "I-iya. Aku su—kyaaa!" jeritku dengan nada tinggi.


Saat batu saja membuka mata, tiba-tiba dari kaca depan aku melihat sosok menyeramkan yang duduk di kursi belakang. Bahkan wajahnya sudah tak dapat diidentifikasi. Apakah dia itu laki-laki atau perempuan, karena darah memenuhi setiap pahatan wajahnya. Bahkan tampak kepala itu sudah tidak utuh lagi hingga menampakkan sedikit benda berwarna pink di atasnya.

__ADS_1


Tak usah menanyakan dimana rambutnya. Tentu sudah rontok karena kepalanya saja tidak utuh. Astaghfirullah ... Seram sekali makhluk itu. Sontak saja aku berteriak seraya menutup mata dengan telapak tangan saat tak sengaja melihatnya tadi.


"Dek? Kamu kenapa?" tanya mas Raihan terdengar khawatir.


"I-itu, Mas. Di belakang, a-ada .... "


"Ada apa?"


Yakin sekali jika mas Raihan sekarang ini tengah menoleh ke belakang mengikuti ucapanku.


"Gak ada apa-apa kok, Dek," ujarnya kemudian.


Aku mengintip dari celah jemari yang terbuka sedikit. Dengan gerakan cepat menoleh ke belakang untuk mengecek sendiri apa di sana ada orang atau tidak.


Set!


"Fiuh .... " hembusku lega.


Tak menyaksikan siapapun di kursi belakang.


"Gimana, Dek?" tanya mas Raihan penasaran.


"Gak ada apa-apa, Mas. Aku cuma salah lihat. Tapi tadi serem banget, Mas."


"Masuk, yuk? Udah malem ini," ajaknya, sudah membuka pintu mobil.

__ADS_1


Aku pun mengikutinya. Melangkah menuju dalam rumah. Namun perasaan tidak enak, dan hatiku tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang terlupakan. Tapi apa itu?


__ADS_2