
"Ma, bangun."
Akun terbangun mendengar surat yang familiar di telinga itu.
Althaf? Itu suara Althaf, anakku.
Sontak kedua kelopak mata yang masih berat itu kubuka lebar-lebar. Fokusku langsung terjurus pada wajah Althaf yang menatapku dengan teduh.
Langsung saja kupeluk dengan erat tubuh yang berisinya, menghirup aroma tubuh khas yang selalu aku rindukan.
"Mama ini kenapa?" Althaf berusaha melerai pelukan namun tidak membiarkannya.
"Mama rindu."
"Kan setiap hari kita ketemu, Ma."
Akhirnya aku melerai pelukan, memperhatikan wajah Althaf dengan seksama. Bahkan jemariku sedikit menyolek setiap sisi wajahnya.
"Apa-apaan sih, Ma?"
"Kamu beneran Al-nya Mama 'kan?" tanyaku meyakinkan.
"Terus kalo bukan punya Mama, Al ini milik siapa lagi?"
"Tuhan .... " Setengah berbisik aku menjawabnya.
"Tapi sampai kapanpun Al tetep punya Mama."
"Jangan tinggalin Mama," pintaku meraih kedua tangan Althaf.
__ADS_1
"Al selalu ada buat Mama, kok. Di sini." Althaf menyentuh dadanya sendiri.
Reflek aku pun ikut menyentuh dadaku. Tersenyum bangga membalas senyum teduhnya.
"Ma .... "
"Nghhh ... Al .... " desahku saat mendengar suara berat memanggil.
"Ma. Bangun, Ma. Makan dulu, yuk?" Suara mas Raihan membuatku kembali tersadar pada kenyataan.
Oh, ternyata tadi aku hanya mimpi ....
Berharap kematian Althaf juga sebuah mimpi buruk. Tapi sayangnya aku sudah bangun. Dan yang apa yang dialami saat ini masih bisa aku rasakan.
"Makan dulu yuk, Dek." Mas Raihan berusaha membujukku yang masih diam tak merespon.
"Sebentar lagi kita akan mengurus jenazah Al. Para tetangga bantuin kita," lanjutnya.
"Al belum meninggal, Mas. Tadi dia bilang gak akan ninggalin kita," racauku.
"Istighfar, Dek. Al udah tenang di sana. Kita cuma bisa ngirim doa buat Al."
Aku kembali terdiam. Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas dalam otak. Lantas aku kembali bersuara. "Kita makamkan Althaf di samping rumah ya, Mas?"
Dahi mas Raihan berkerut dalam. Tanda jika ia memikirkan permintaanku. Berharap dia mau mengabulkan kemauanku saat ini. Memang hal ini benar-benar aneh. Memakamkan seseorang di samping rumah?
Sebuah gagasan gila yang diambil dari seorang ibu yang belum rela berpisah dengan anak tercintanya. Jujur, aku belum bisa jauh dari Althaf. Maka aku akan bersikeras agar mas Raihan mau mengabulkan permohonanku.
"Terserah kamu aja. Baiknya bagaimana."
__ADS_1
Sebuah jawaban yang membuatku kembali berselera makan. Kupeluk erat tubuh suamiku yang terasa tak bertenaga itu. Menyalurkan kekuatan agar kita tetap tegar bersama.
Dan acara pemakaman Althaf berjalan dengan lancar. Para warga yang selama ini hanya berdiam diri di rumah, saat ini menemani setiap momen penghormatan terakhir kami untuk Althaf.
Seperti rencana awal. Kami membongkar makam yang katanya keramat itu. Makam di samping rumah yang ternyata hanya makam kosong, kini menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk anak kami tercinta.
Jika seingatku, di samping makam Althaf adalah makam adiknya yang baru berwujud segumpal darah. Aku akan jujur pada mas Raihan nanti, bila keadaan sudah sedikit kondusif.
Mengenai kematian Althaf. Seorang nenek tua yang dulu aku temui di dekat Sendang Wangi itu berkisah. Jika darah yang mengalir dari dalam tanah makam keramat itu ialah darah Althaf.
Jadi, posisi Althaf saat itu bagai buah simalakama. Terpendam dalam tanah makam hidup-hidup. Atau keluar tapi meninggal karena kehabisan darah.
Entah kenapa bisa seperti itu. Tapi kata nenek tua jika jiwa Althaf sudah diinginkan oleh makhluk peliharaan pak Kades.
Benar-benar tua bangka sialan! Sudah mati saja masih menyakiti orang lain.
Kuelus lembut nisan yang bertuliskan nama Althaf Qois bin Raihan di atas pusara dengan tanah merah yang masih basah berhias taburan bunga segar.
Terlintas beberapa potongan memori saat kami masih bersama. Rasa sesal seketika menyerang hati yang tengah gundah.
Tanpa sadar kita tidak tahu, bahwa ada begitu banyak hal yang kurang kita hargai. Akan tetapi menjadi hal yang sangat diimpikan orang lain. Hal yang memang kurang kita syukuri keberadaannya, justru menjadi mimpi dan harapan besar bagi orang lain.
Tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama. Tuhan mempercayakan amanah itu dengan penuh kasih.
Namun apa pernah kita berpikir, berapa kali kita mengeluh terhadap keputusan terbaik-Nya?
Berapa kali kita kurang puas terhadap jawaban terbaik-Nya?
Berapa kali kita menginginkan hal-hal lain yang jauh lebih sempurna dibandingkan pemberian terbaik hari ini dari-Nya?
__ADS_1
Selamat jalan, Nak.
Doa Mama selalu menyertaimu ....