
"Mertua dan suamimu sudah meninggal."
"Hahaha. Lelucon macam apa itu? Jangan bercanda, Bryan. Aku sedang serius," sangkalku disertai tawa mengejek.
"Aku juga serius."
Mau tak percaya, namun wajah Bryan terlihat serius. Lalu bagaimana aku bisa percaya padanya jika aku selama ini masih bertemu dengan mas Raihan?
Kalau masalah mertua, aku memang sudah lama tak bertemu dengan mereka. Itu masih bisa ditolerir. Tapi tentu aku tak bisa begitu saja menerima ucapan Bryan dengan mudahnya. Aku perlu bukti.
"Aku gak percaya." Kugelengkan kepala sembari mundur beberapa langkah berniat pergi dari sana.
"Aku antar jika kamu masih ingin ke rumah mertuamu. Aku harus memastikan kamu baik-baik saja."
Setelah menimbang beberapa kemungkinan, akhirnya aku menyetujui tawaran Bryan. Dia membimbingku menuju motor matic yang kuparkir dengan asal.
"Eh, Via. Sama siapa itu?" tanya sang pemilik rumah saat tak sengaja melihat kami berboncengan.
"Sama temen, Bu," sahutku sekenanya. Pikiranku seperti tak ada di tempatnya saat ini.
Melalang buana mengingat kejadian-kejadian aneh yang terjadi pada mas Raihan dan sikap orang-orang yang aku temui akhir-akhir ini.
Bryan segera tancap gas sebelum pemilik rumah itu bertanya lebih lanjut. Semakin dekat kami dengan rumah mertuaku, semakin cepat pula degup jantung bertalu. Nafasku seketika tercekat menyaksikan rumah yang nampak tak terurus di depan sana.
Rumah yang biasanya nampak bersih dan rapi itu kini terlihat seperti tak terjamah sama sekali dengan police line di depannya.
"A-apa yang—" Aku tak sanggup melanjutkan kata-kata ketika Bryan sudah menghentikan motor di depan rumah yang kutahu itu milik mertuaku.
__ADS_1
Bryan menoleh ke belakang, memastikan aku baik-baik saja.
"Jadi ... Kamu serius?" tanyaku padanya memastikan sekali lagi. Aku harap dia bercanda. Tapi kenyataan di depan mata seolah sudah menjawab pertanyaan yang kuajukan.
"Mereka mati dibunuh, Via," lirih Bryan pelan. Namun terdengar seperti guntur yang menggelegar dan langsung menusuk ke dalam gendang telingaku. Hingga berhasil membuat keduanya mendengung.
Aku masih diam membisu dengan manik mata menatap lekat pada bangunan terbengkalai itu. Melewati garis polisi dengan sangat pelan sampai akhirnya berhenti di depan pintu masuk.
Tok Tok
"Assalamu'alaikum .... " Dengan suara sengau dan tangan bergetar aku mengucap salam sembari mengetuk pintu.
Tak ada jawaban sama sekali. Hanya terdengar isak tangis dari bibir yang sudah tak bisa ditahan. Air mata tak tahu diri itu juga sudah melintasi kedua pipiku dengan lancarnya.
Brugh.
"Apa ini nyata?" lirihku gusar.
"Via."
Suara lemah dan telapak tangan hangat yang menyentuh pundak tak menghentikan aktivitasku mencurahkan kesedihan lewat air mata. Meski aku belum melihat kenyataannya secara langsung, tapi kenapa hatiku terasa sangat sakit?
Kian lama rasa sakit ini semakin menyakitiku. Raunganku lolos dari bibir bawah yang sudah membengkak karena terus kugigit guna meredam tangis. Siapa yang harus aku bohongi sekarang?
"Sudahlah, Via. Apa kamu mau aku antar ke makam mertua dan suamimu?" tawar Bryan berusaha menghibur.
Namun hal itu malah semakin membuatku berang.
__ADS_1
"Makam mertua dan suamiku?! Mereka belum mati, Bryan! Aku yakin mereka masih ada di dalam." Aku berdiri menghadap Bryan sambil menunjuk-nunjuk dadanya.
Sempat melihat melalui ekor mataku, beberapa tetangga yang sudah keluar dari rumah mereka menyaksikan kami dengan tatapan iba.
"Tapi, Via—"
"Akan kubuktikan ucapanku." Aku berbalik dan langsung menekan handel pintu yang ternyata pintunya tidak dikunci.
Merangsek masuk begitu saja dengan pedenya, padahal rumah itu begitu berdebu dan berantakan. Beberapa kenangan saat masih tinggal di rumah ini sempat terlintas. Membuat langkahku kembali ragu.
"Via .... "
"Diam! Aku akan memanggil mereka. Ibu? Ayah? Mas Raihan? Kalian pasti ada di dalam 'kan?" teriakku terus melangkah memasuki rumah. Mengabaikan Bryan yang terus memanggil dari belakang.
"Ibu? Ayah? Mas?" Aku terus memanggil mereka seraya memeriksa setiap ruangan yang ada dengan langkah goyah.
Saat hampir putus asa, sampailah aku pada satu ruangan yang terasa janggal. Dimana darah kering napak mengotori lantai keramik di tengah ruangan itu. Aku mendekatinya lalu duduk bersipuh dengan jemari menyentuh lantai di tepat darah itu berada.
"Hahaha." Entah apa yang lucu. Tapi saat aku melihat darah kering itu rasanya seperti menggelitik perut.
"Via, ayo kita pergi aja dari sini. Kamu—Via!!" Suara Bryan dari arah punggung terdengar panik, namun aku tak peduli.
"Hahaha." Malah semakin mengeraskan tawaku, hingga menggema di seluruh ruangan.
Lalu tiba-tiba saja rasa sakit itu mendatangi kepalaku, membuat pandangan seketika berkunang-kunang. Kemudian semuanya gelap. Hanya suara Bryan memanggil namaku yang masih bisa terdengar meski samar.
"Dasar brengsek pembohong!" sarkasku yang entah untuk siapa, sebelum benar-benar tak sadar dengan kendali tubuhku.
__ADS_1