Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
49. Mencari Jawaban


__ADS_3

Rasa penasaran akut membuatku menginjakkan kaki di desa sebelah, desa dimana mertuaku tinggal. Belum juga aku sampai di rumah, sapaan salah satu tetangga menghentikan laju motorku.


"Eh, Via. Lama gak kelihatan. Gimana kabarnya? Mau bersih-bersih rumah, ya?" Bu Susi yang sedang berjalan bersama anaknya bertanya saat melihatku.


"Alhamdulillah baik, Bu. Bersih-bersih gimana maksudnya?" tanyaku balik pada wanita setengah baya itu.


Gadis muda di sebelah bu Susi menyenggol lengan ibunya. Membuat raut ibunya seketika berubah terkejut.


"Oh, Alhamdulillah kalo baik. Kami duluan, ya." Bu Susi segera menarik tangan anaknya pergi dari sana dengan terburu-buru.


"Aneh. Mereka menghindariku seperti habis melihat hantu saja." Aku mencebikkan bibir lalu kembali memacu motor untuk kembali ke tujuan semula.


"Via!"


Lagi-lagi aku harus menghentikan motor saat mendengar namaku dipanggil.


"Siapa sih?" Aku celingukan mencari pemilik suara, namun tak ada satu kepala pun yang muncul di sekitarku.


Ekor mataku tak sengaja melihat bayangan hitam yang baru saja memasuki salah satu gang. Otak mengatakan jika aku harus mengabaikannya, tapi hati berkata lain.


Aku menepikan motor di depan teras salah satu rumah warga. Lalu bergegas mengejar bayangan itu sebelum dia kabur lebih jauh. Pantas saja sejak dalam perjalanan tadi seperti ada yang membuntutiku. Mungkin saja itu dia.


Aku mengikuti jalur gang sempit yang meliuk-liuk. Mengejar sosok berpakaian serba hitam di depan. Dari belakang seolah punggung itu nampak tak asing bagiku.

__ADS_1


"Hei! Tunggu!" teriakku padanya.


Tak seperti di film-film, bilamana biasanya orang yang dikejar saat dipanggil mereka malah mempercepat laju larinya. Namun ini tidak. Dia berhenti tanpa menoleh ke arahku. Apa dia lupa skripnya? Haha aneh-aneh saja.


"Hhh ... T-tunggu. S-siapa kamu?" tanyaku sambil terengah mengatur nafas yang ngos-ngosan.


Sosok itu tak bergeming. Membuatku makin penasaran saja.


"Hei, aku bertanya padamu!" Aku meninggikan nada suara. Berpikir kalau dia tidak mendengar suaraku tadi.


Namun nampaknya dia memang tak berniat mengindahkan panggilanku. Aku yang sudah ada di dekatnya menjulurkan tangan guna membalik badannya agar menghadapku dengan paksa.


Mungkin ini terlihat agresif, tapi aku sedang tak ingin main-main.


"K-kamu ngikutin aku?" tanyaku dengan raut tak percaya seraya melepas cengkraman tangan pada bahunya.


"Kamu mau kemana?" balasnya santai dengan wajah tanpa dosa sama sekali.


"Bukan urusanmu! Kalau gak ada kerjaan jangan ikuti orang lain. Itu termasuk tindak pidana, bisa kena pasal, tahu. Tindakan tidak menyenangkan dan membuat orang lain terancam," jelasku panjang lebar. Entah dia paham atau tidak tapi aku sangat kesal terus berurusan dengan orang itu.


"Aku hanya ingin menjagamu."


"What?! Menjaga? Keberadaanmu malah mengancam jiwaku, Bryan. Sudahlah aku harus pergi." Aku langsung berbalik sebelum semakin muak melihat wajahnya.

__ADS_1


"Tunggu!" Pria berpakaian serba hitam lengkap dengan topinya itu sontak menahan tanganku.


"Lepas, gak?!" sinisku.


"Jangan ke sana atau kamu akan menyesal."


"Kamu ngancem?"


"Aku gak mau kamu sedih."


"Ngomong apa sih kamu. Gak jelas!" Kuhempaskan tangan Bryan yang memegangi lenganku dengan sekali hentak.


"Belum saatnya kamu tahu tentang kebenaran ini, Via. Aku takut kamu akan terguncang."


Aku menghentikan langkah lalu berbalik. "Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarain?"


"Jika kamu siap, aku bisa cerita."


"Aku sangat siap," tuturku sambil melipat tangan di depan dada dengan tatapan jengah.


Bryan nampak menghela nafas sejenak. Dari jarak kami yang lumayan jauh ini aku masih bisa melihat raut gusar terpahat di wajahnya.


"Aku menunggu," tagihku sudah tak sabar mendengar untaian kata yang hendak terucap.

__ADS_1


"Mertua dan suamimu sudah meninggal."


__ADS_2