
"Althaf kenapa?"
"Ayo pulang dulu." Terdengar hembus nafas berat dari suara mas Raihan.
"Tinggal bilang aja, Mas. Jangan bikin aku penasaran," desakku.
Bukannya menjawab, mas Raihan malah menarik tanganku pergi dari sana. Meninggalkan kobaran api pada peti yang semakin membesar karena tiupan angin.
Sepanjang perjalanan mas Raihan hanya diam. Padahal aku terus mengoceh tak kenal lelah menanyai apa yang sebenarnya terjadi dengan Althaf.
"Eh? Kok para tetangga pada ngumpul di depan rumah kita? Mereka ngapain?" tanyaku heran saat sudah melihat rumahku dari jarak pendek.
Sempat kulihat makam di samping rumah. Darah yang tadi mengucur kini sudah surut. Hanya menyisakan beberapa jejak kemerahan yang terdapat di sekitar makam. Sedikit merasa lega, akhirnya semua kembali normal.
Aku dan mas Raihan menyibak kerumunan warga di depan rumah kami. Sesekali terdengar bisik-bisik dari mereka yang menyuruhku untuk bersabar. Memangnya ada apa?
"Via."
Suara berat mas Raihan yang saat ini sudah menatap intens ke arahku membuat gugup seketika.
__ADS_1
"Jangan bilang .... " lirihku dengan suara yang hampir saja tak terdengar di telingaku sendiri. Tak sanggup aku melanjutkan kalimat yang sempat terpikir dalam benak.
Mas Raihan membuka pintu kamar Althaf. Aku melongok untuk memastikan kondisi anak laki-lakiku.
Alhamdulillah. Dia masih utuh di sana. Sedang terbaring tenang di atas ranjangnya. Padahal sebelumnya aku mengira jika dia hilang atau apa.
"Kenapa, Mas? Althaf baik-baik aja, kok. Tuh, lagi tidur." Aku berbalik menatap wajah sendu mas Raihan.
Diraihnya tanganku, lalu membimbingku masuk ke dalam kamar anak laki-laki kami. Barulah aku menyadari sesuatu yang janggal pada tubuh Althaf.
"Al?" ucapku lirih. Meraih tangannya yang sudah sedingin es.
"Althaf?!" seruku terkejut saat merasakan tubuh anak laki-lakiku itu sudah kaku dan terlihat sangat pucat.
"Al ... Sudah diambil Tuhan, Dek."
Seketika tubuhku merosot dan terjatuh di atas lantai. Mataku masih menatap nanar ke arah Althaf yang terbaring tenang di atas ranjang.
"Jangan bercanda, Mas. Gak lucu." Aku tersenyum getir berharap mas Raihan memang benar bercanda.
__ADS_1
Sayangnya isak tangis yang terdengar jelas darinya seolah memberitahuku jika ia sedang tidak bercanda. Tapi sejak kapan? Bukankah Althaf tadi masih membantuku mengeluarkan peti di halaman belakang rumah pak Kades?
Oh, tidak. Jangan-jangan yang tadi membantuku itu ....
"Mata sialan!" makiku seraya memukuli kedua mataku sendiri.
"Dek, udah. Al udah tenang di sana. Jangan menyakiti diri sendiri. Dia akan sedih nanti, kalau lihat kamu kayak gini." Mas Raihan menghentikan aksiku dengan memegangi kedua tanganku.
Meriah tubuhku dalam dekapannya. Hingga kami menangis bersama di samping tubuh Althaf yang kian bertambah dingin.
Sangat terasa tubuh suamiku yang sudah bergetar hebat. Bahu yang biasanya terlihat tegap itu lunglai bagai tak bertenaga. Bahkan air mata yang tak pernah ia tunjukkan kini sudah mengalir tanpa aba-aba.
Pria yang aku kenal kuat dan tangguh itu menunjukkan sisi lemahnya saat ini. Pun dengan aku yang sudah tak bisa menahan raungan, melafalkan nama Althaf berkali-kali.
Masih berharap dia akan kembali di sisi kami. Menemani hidup kami hingga dia tumbuh dewasa, berkeluarga, memiliki anak, dan ... Aku tak bisa melanjutkannya. Dadaku sudah sangat sesak membayangkan rencana-rencana indah yang kini hanya tinggal kenangan.
Hingga di ujung sana aku melihat Althaf sedang berdiri menyunggingkan senyum manisnya ke arah kami. Tangannya melambai seolah memberi ucapan sampai jumpa, seperti saat dia pertama kali memasuki sekolah dulu.
"Al ... Jangan tinggalin Mama. Mama sama Papa masih butuh kamu di sini .... " lirihku disela isak tangis yang sudah terdengar serak.
__ADS_1
"Althaf!" pekikku sebelum merasakan kepala yang mulai berat. Hingga pandangan seketika menggelap.
Sayup-sayup suara panik dari beberapa tetangga yang tadi berada di luar kamar masih bisa kudengar sebelum semuanya benar-benar gelap.