
"Maksudnya Bryan?"
Karena tidak bisa menggeleng disebabkan Bagas tak memiliki leher, maka dia menjawab. "Bukan."
Dahiku berkerut dalam. Lalu siapa kalau bukan Bryan?
"Pak Kades."
Deg.
Jawaban Bagas kembali membuatku terperangah. Tak menyangka ayah dan anak ternyata sama saja. Sama-sama tak memiliki hati.
"Gak punya empati. Lalu apa hubungannya dengan kematian Bagas? Setahuku Bagas mati karena ditumbalkan untuk makam keramat di sana itu. Atau pak Kadeslah yang berada di balik semua ini?"
"Itu benar, Tante."
Mulutku ternganga lebar. Hingga cicak pun bisa memasukinya dengan mudah. Jika saja ada cicak yang terjatuh tepat di mulutku, sudah dipastikan nyawanya akan terancam, karena aku tak segan akan ********** hidup-hidup.
"Tak bisa dipercaya. Pak Kades ada hubungannya dengan makam itu?" tanyaku meyakinkan apa yang aku dengar.
"Benar."
"Juga dengan nyawa-nyawa lain yang melayang karena jadi tumbal?"
"Iya—"
"Assalamualaikum!" Salam dari Althaf yang menggelegar membuat wujud kepala Bagas hilang seketika.
"Loh? Mama nyari apa di bawah? Uang? Kok sambil ngomong sendiri gitu?" tanya Althaf yang melihatku masih dengan posisi menunduk ke arah lantai.
"Eh, Al. Wa'alaikumussalam. Ada kecoa tadi," elakku.
"Bukannya Mama takut kecoa?"
__ADS_1
Duh, iya juga, ya. Alasan yang membodohkan diri sendiri.
"Lupain aja kecoanya. Cuci tangan dulu, gih. Habis itu makan siang. Mama ada urusan sebentar," pamitku sembari berjalan keluar. Menghindari pertanyaan Althaf adalah jalan terbaik. Ujung-ujungnya dia akan bertanya tentang ayahnya yang tidak pulang.
"Mau kemana, Ma?"
"Ke rumah pak Kades!" seruku yang sudah ada di halaman depan.
Untuk membuka misteri ini, aku harus menanyai yang bersangkutan secara langsung. Kalau hanya mengandalkan kata orang pasti cerita akan berbeda. Dari mulut ke mulut akan ditambahi bumbu-bumbu penyedap yang lama-lama membuat rasa cerita itu jauh dari aslinya.
Rumah pak Kades berada di ujung desa, hampir berdekatan dengan perbatasan desa Larangan ini. Bangunan bernuansa adat Jawa itu berdiri dengan kokoh di depan sana. Satu-satunya bangunan paling besar dan luas di desa ini. Maka semua orang pun akan langsung tahu jika rumah itu merupakan milik orang penting di desa ini.
Gerbang yang menjulang tinggi itu tidak dijaga oleh siapapun. Membuatku langsung menerobos masuk untuk mencapai pintu depan. Hawa aneh langsung merasuk menembus kulit tatkala baru menginjakkan kaki di halaman depan, yang luasnya sudah seperti lapangan basket itu.
Tok Tok
"Assalamu'alaikum!" pekikku dengan suara yang sudah aku naikkan beroktaf-oktaf.
Apa mereka tidak takut ada maling?
Lucu sekali. Mana ada maling yang mau masuk kandang setan seperti ini. Yang ada mereka akan dijadikan tumbal selanjutnya.
Tak ada sahutan.
Apa aku kurang keras berteriak?
Kuulangi beberapa kali pun hasilnya tetap nihil. Tak ada satu makhluk pun yang membuka pintu.
Aku pun berbalik. Berniat untuk pulang dan kembali esok hari. Namun ekor mataku tak sengaja melihat seseorang di ujung halaman sana sedang mengamatiku dengan tatapan kosongnya.
"Mas? Pak Kades-nya ada?" Sontak saja aku bertanya padanya.
Namun pemuda itu segera berbalik lalu pergi mengacuhkanku.
__ADS_1
"Gak sopan banget," cibirku dengan tatap tak suka.
Insting mengatakan kalau pemuda itu ingin aku mengikutinya. Yah, tidak ada salahnya juga, sih. Siapa tahu aku bisa bertemu pak Kades di sana.
Ku percepat langkah kaki sebelum kehilangan jejak pemuda tadi. Aku berbelok setelah mencapai ujung halaman. Seperti ada jalan pintas menuju halaman belakang rumah ini.
Terlihat pemuda tadi memasuki sebuah bangunan tua dari kayu yang terletak di halaman paling belakang. Yang mana pintu dan bagian lainnya tertutup dengan tanam rambat juga ilalang yang tumbuh lebat di bawahnya. Jika dilihat secara sekilas bangunan itu sama sekali tak terlihat. Namun jika diperhatikan dengan seksama maka akan terlihat seperti sebuah gudang yang terbengkalai.
Brak!
Dia menutup pintu itu dengan keras hingga terdengar dari tempatku berdiri.Siapa pemuda itu? Aku belum pernah bertemu dengannya di desa ini. Tapi dia seperti tahu seluk-beluk rumah pak Kades.
Karena penasaran, aku pun mendekati gudang tua tanpa jendela tersebut. Bau-bau dupa China dan kemenyan mulai tercium saat posisiku sudah tepat berada di depan daun pintu. Dengan tangan sedikit bergetar, kuraih handel pintu usang itu.
Klek Klek
"Apa? Terkunci?" gumamku reflek, menyadari pintu itu tak terbuka sama sekali, meski sudah berusaha beberapa kali.
Sampai kudorong-dorong pun tetap tak mau terbuka. Sialan. Apa pemuda tadi sadar jika aku mengikutinya, lalu segera menguncinya dari dalam? Lalu gudang apa ini sebenarnya? Kenapa seperti sengaja disembunyikan keberadaannya?
Daripada penasaran, akhirnya aku sedikit membungkuk ke bawah untuk mengintip melalui lubang kunci. Hal pertama yang aku lihat hanya kegelapan.
Sedikit menggerakkan tubuhku ke kanan dan kiri, guna membantuku mempermudah melihat ke dalam lebih detail sampai ke ujung ruangan. Tak ada tanda-tanda keberadaan pemuda tadi di dalam. Tapi manik mataku tak sengaja melihat beberapa lilin yang berjejer dan dibiarkan menyala di atas meja kayu.
Aneh sekali. Lilin begitu banyak dibiarkan menyala dalam ruangan yang terbuat dari kayu? Kalau kebakaran bagaimana?
"Hei, siapa kamu?"
Deg.
Suara berat dari balik punggungku membuat seluruh otot dalam tubuh seperti kehilangan fungsinya. Badanku seketika kaku di tempat. Untuk berbalik ke asal suara saja rasanya sangat berat.
"Apa yang kamu lakukan di situ? Hey, kamu dengar, tidak?"
__ADS_1