Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
36. Guna-Guna?


__ADS_3

Aku meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja.


"Silahkan, Nek," ucapku pada tamu pagi ini.


"Terima kasih, Nduk."


Nenek Surti, tamuku pagi ini. Dia nenek yang aku temui di dekat Sendang Wangi waktu itu. Beliau juga yang sudah menjelaskan kronologi kematian Althaf.


"Kamu pernah mandi di Sendang Wangi ya, Nduk?" tanyanya, sontak membuatku yang sudah mendudukkan diri di seberangnya, terpaku di tempat.


"Nek Surti tahu?"


"Kelihatan."


"Maaf." Aku menunduk. Merasa bersalah karena tidak mendengar larangannya.


Ngomong-ngomong soal larangan. Desa ini sudah kembali seperti sedia kala. Warga sudah kembali beraktivitas seperti biasa.


Barulah kami tahu, ternyata cerita tentang Sekar beserta kutukannya itu hanyalah rekayasa pak Kades guna mendapatkan makanan untuk makhluk peliharaannya.


Bahkan seluruh pekerja di rumahnya juga dijadikan tumbal oleh pak Kades. Hingga arwah mereka banyak yang berkeliaran di sekitar rumah besarnya. Jiwa mereka terombang-ambing tak jelas karena jasad yang tak dikuburkan dengan layak.


Dan seperti yang aku duga, Sekar menjadi salah satu orang yang ditumbalkan oleh manusia tak biadab itu.


Dan yang keterlaluan ialah Bryan yang mengetahui hal itu namun hanya menurut tanpa mau menyelamatkan nyawa wanita yang saat itu sudah menjadi istrinya.

__ADS_1


Padahal kabar burung mengatakan jika Bryan sangat mencintai Sekar. Karena pengaruh dari ayahnya sendiri, Bryan dengan mudahnya diperalat dan dijadikan boneka untuk kepentingan pribadinya.


"Nenek tua ini juga sama sepertimu." Suara yang diselingi tawa itu membuatku terperanjat.


"M-maksudnya? Nek Surti juga pernah .... "


"Iya, Nenek pernah mandi di Sendang Wangi."


"Jadi mata batin Nek Surti juga terbuka?" Kedua mataku sudah terbuka dengan lebar.


Dia mengangguk pelan. "Nenek juga bisa bantu kamu buat menutup mata batinmu lagi."


Wow, aku terkejut. Sebuah tawaran yang sangat aku inginkan sejak aku mulai merasa jika memiliki mata batin adalah suatu kesialan dalam hidup.


"Bagaimana? Nenek bisa bantu jika kamu bersedia," tanyanya lagi, tak mendapat respon dariku selama beberapa menit.


"Tidak perlu, Nek," jawabku yakin.


Lalu melanjutkan. "Aku sangat bersyukur hidup dengan keistimewaan ini. Mata ini adalah anugerah dari Tuhan yang tak pernah ingin aku rubah. Karena dengannya aku masih bisa melihat senyum bahagia dari anak laki-lakiku."


Mataku tertuju ke arah dapur. Dimana Bagas sedang bermain dengan Althaf. Entah darimana Bagas bisa mendapatkan tubuhnya kembali. Jadi sekarang dia bisa menjadi hantu anak kecil seutuhnya. Bukan hantu kepala lagi.


"Begitu rupanya." Nenek Surti mengikuti arah pandangku.


Aku yakin dia juga melihat dua anak laki-laki yang sedang seru-serunya bermain di sana. Sama seperti ucapanku pada Yati saat pertama kali melihat foto Bagas. Kini anakku dan anaknya bisa bermain bersama.

__ADS_1


"Suamimu dimana?" tanya Nenek Surti tiba-tiba.


"Di balai desa, Nek. Mengamankan Bryan yang lagi jadi sasaran amuk warga."


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan suamimu."


"Maksud Nek Surti apa?"


"Suamimu kena guna-guna."


Deg.


Setelah mengungkap semua kejahatan pak Kades, aku pikir semua masalah sudah selesai. Meski aku belum sepenuhnya jujur pada mas Raihan. Tapi, ternyata masih ada masalah lain yang sudah menunggu di depan mata.


"Mas Raihan juga pernah cerita jika dia merasa aneh dengan dirinya. Lagian siapa orang iseng yang ingin merebutnya dariku, Nek?" tanyaku memastikan. Meski aku sudah memikirkan satu nama dalam benak.


Namun aku tetap perlu meyakinkan diri. Tak mungkin 'kan aku akan menuduh orang tanpa bukti dan kejelasan.


"Perempuan yang dekat dengan suamimu."


"Apakah nama perempuan itu Gita, Nek?" tanyaku penasaran.


Lama aku menunggu jawaban Nenek Surti yang tengah diam sambil menerawang. Penasaran, apakah dugaanku ini benar adanya.


"Bukan."

__ADS_1


Hah? Bukan?! Kalau bukan Gita, siapa lagi perempuan yang dekat dengan suamiku hingga dia main guna-guna segala?


__ADS_2