Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
55. Buah Dari Kejujuran


__ADS_3

Bryan terus mendengarkan dengan seksama, saat aku menceritakan setiap kejadian sebelum terbentuknya Rada hingga dia keluar paksa dari rahimku.


Pertahanan diri untuk tidak menangis telah runtuh. Air mataku terus mendesak keluar dari sudut. Mengingat detik-detik dimana aku berubah wujud menjadi iblis. Saat dengan teganya memasukkan tubuh Rada yang hanya berupa seonggok daging dan darah, ke dalam plastik kresek lalu menguburnya tanpa disertai lantunan doa.


Apa aku bisa dipenjara karena perbuatanku?


Entahlah. Tapi aku tak mau merasa bersalah seumur hidup. Hingga memberanikan diri menceritakan semua kejahatanku di masa lalu.


"Jika kamu mau melaporkanku pada polisi, silahkan saja. Aku siap," putusku setelah cerita berakhir.


"Kamu gak salah. Itu bukan kejahatan."


"Tapi aku gagal pertahanin Rada. Gagal menjaga kedua anakku agar memiliki kehidupan seperti anak-anak lain. Ibu macam apa aku ini?! Gak guna!"


"Stt ... Jangan berkata seperti itu." Bryan meletakkan kedua tangannya di bahuku sembari menatap lekat ke dalam manik mataku.


"Aku yang salah. Maaf. Waktu itu aku gak sadar. Aku terlalu lemah untuk mengontrol diri. Sehingga mereka mampu menguasai tubuhku. Aku gak nyangka dampaknya bisa sebesar itu," lanjutnya sembari menundukkan kepala.


Tangannya pun sudah lunglai jatuh ke bawah.


"Apa maksudmu?" tanyaku mengernyit bingung.


"Percaya gak percaya, aku sering kerasukan."


"What?! Maksudnya waktu itu aku dilecehkan gak hanya dengan satu makhluk?" Itu memang gila. Tapi pikiranku menjurus ke arah sana.


"Bisa dibilang gitu. Tapi yang biasanya masuk ke badanku cuma 2 kok. Gak lebih." Bryan mengacungkan jari telunjuk dan tengah sambil nyengir gak jelas.


Bisa-bisanya dia nyengir saat serius seperti ini. Cuma 2 dia bilang?!


Pantas sifat dan mimik wajahnya selalu berubah-ubah. Kadang bisa seperti om-om mesum kurang belaian, tapi terkadang manis dan lembut seperti permen kapas. Yang jika disentuh saja langsung lembek.


Hal itu terbukti saat dulu mas Raihan menghajarnya habis-habisan, tapi Bryan hanya diam saja. Berbeda pada saat dia membajak sawahku. Yang terkesan memaksa dan kasar.


Lalu sekarang ini dia tidak seperti keduanya. Apa ada satu makhluk lagi dalam dirinya itu?


Kepalaku geleng-geleng menanggapinya. Entah jika pikiranku benar-benar waras, aku dengan gamblang akan menyangkal dan menganggapnya beralasan. Namun ada dorongan dari hati yang mengatakan jika dia berkata jujur. Aku jadi bimbang.


"Sudahlah. Itu hanya masa lalu. Rada juga sudah gak ada. Gak perlu diungkit lagi," finalku, mencoba berpikir rasional.


Aku juga berjanji akan memulai hidup baru, dan melupakan masa lalu yang membuat kesehatan hatiku terganggu.

__ADS_1


"Maaf aku terlambat menyadarinya. Aku sudah menyakiti kalian berdua. Entah berapa dosa yang sudah aku perbuat. Semenjak ayahku meninggal, aku sudah berusaha terus mendekatkan diri pada Allah. Tapi aku tetap tak bisa luput dari dosa masa lalu. Setiap malam seperti ada bayang-bayang anak perempuan yang menghantui pikiranku."


"Aku selalu terbangun untuk melaksanakan sholat malam. Terus berdoa dan meminta pertolongan agar hati juga pikiranku bisa lebih tenang. Dan akhirnya pertanyaan itu terjawab. Aku punya anak yang selama ini kehadirannya selalu aku rindukan. Tapi aku juga yang sudah membunuhnya. Mungkin ini balasan untuk dosa-dosaku di masa lalu," sambung Bryan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kenapa suasana jadi mellow begini? Aku berusaha agar tidak menangis, tapi pria di depanku malah membuat desakan itu semakin kuat saja.


"S-sudah, Bryan. Kita tinggalkan masa lalu. Yang terpenting sekarang kita rubah pribadi menjadi lebih baik. Lebih mendekatkan diri pada Allah, perbaiki ibadah. Supaya Allah juga memperbaiki hidup kita," saranku.


Entah kenapa aku jadi sok bijak melihat Bryan yang tampak rapuh. Padahal aku sendiri juga sedang rapuh.


"Apa kami sudi memaafkanku?"


"Kenapa tidak?"


"Terima kasih."


Bryan mengulas senyum masih dengan keadaan mata yang berkaca-kaca. Ini pertama kalinya aku melihat dia tersenyum begitu manis. Wajahnya juga terlihat lucu. Membuatku refleks menarik kedua sudut bibirku untuk ikut tersenyum.


Mungkin ini awal yang baik untuk kedepannya. Saling jujur membuat beban dalam hati kita menjadi seringan kapas yang akan diterbangkan angin waktu. Meski jujur itu pahit, tapi hasilnya lebih manis daripada yang aku bayangkan.


...----------------...


Aku berdiri di depan jendela kamar sembari memandang ke arah luar. Mengedarkan pandang mengamati halaman samping rumah yang sekarang menjadi lebih berwarna. Sebab berbagai macam bunga dan tanaman hias tumbuh subur di sana.


Terlebih tanah bekas makam anak-anak yang ditumbuhi mawar putih di atasnya. Bibirku menyunggingkan senyum simpul mengingat mereka akan kedatangan saudara baru.


"Divia."


Suara yang sudah aku tunggu-tunggu dari tadi akhirnya terdengar juga. Aku menoleh tanpa memudarkan senyum sama sekali. Malah semakin melebarkannya tatkala melihat raut cemas dari pria di depan sana.


"Apa yang terjadi? Katanya kamu sakit, kok malah berdiri di situ?" tanyanya menghampiriku.


"Dasar bandel. Kalo sakit itu rebahan aja, gak usah keluyuran," gerutunya yang kini sudah menempelkan punggung tangan di dahiku. "Loh. Normal kok. Terus apanya yang sakit?"


Aku tertawa kecil melihatnya uring-uringan sendiri. Baru tahu juga kalau aku telah menikahi pria yang bawelnya minta ampun. Aku yakin dia pulang terburu-buru dari tempat kerja karena telponku tadi.


"Ada yang ingin aku tunjukkan." Aku meraih tangannya yang masih bertengger di kening.


Lalu menariknya ke arah ranjang dan menyuruhnya untuk duduk.


"Apa sih, Sayang?"

__ADS_1


Panggilan yang selalu sukses membuatku tersipu dengan jantung berdegup tak sesuai irama. Aku suka panggilan itu.


Tanganku tengah sibuk mengobrak-abrik laci nakas. Kemudian terhenti saat menemukan benda yang kucari.


"Kamu cari apa?" Suara berat itu terdengar tak sabar.


"Ini." Aku menunjukkan benda pipih kecil dengan tanda 2 garis merah tertera pada permukaan bagian depan.


Dahinya mengerut heran. "Itu apa?"


"Astaga! Kamu gak tau testpack?" tanyaku kesal. Perasaan bungahku telah luntur, karena harusnya hal ini menjadi surprise tapi malah gagal. Membuatku sontak mengerucut sebal.


"Kamu ini kenapa? Tadi senyum-senyum sendiri. Sekarang malah manyun."


"Au ah." Aku berjalan dengan menghentakkan kaki lalu menghempaskan diri di ujung ranjang. Menjauhi suamiku yang tidak peka sama sekali.


Tak lama, pelukan hangat datang dari arah belakang. Dagu pria itu diletakkan pada salah satu bahuku.


"Kamu kenapa sih? Lagi PMS?"


"Aku hamil, Sayang!" ujarku yang lebih mirip bentakan.


"H-hamil? Alhamdulillah ... !" pekiknya, sontak melepas pelukan lalu jingkrak-jingkrak di atas ranjang.


Aku menoleh seraya tertawa geli melihat tingkahnya seperti anak kecil yang baru saja mendapat sepeda baru.


Pria itu lantas menarikku berdiri di atas ranjang, untuk mengikuti kegilaan yang dilakukannya. Menggenggam kedua tanganku lalu menggoyangkan ke kanan dan kiri.


"Udah, Sayang. Kamu dah kayak orang gila," ejekku.


"Biarin. Aku teramat bahagia karena sebentar lagi bakal jadi ayah." Senyum lebar itu tak hentinya terpahat di wajah Bryan.


"Terima kasih," bisiknya di telinga sebelum menghujamkan beberapa kecupan di wajahku.


"Sama-sama," balasku disertai tawa kecil merasakan sensasi rasa geli yang ditimbulkan bibir nakalnya.


Tak lupa kami mengucapkan syukur banyak-banyak atas rejeki yang menyertai pernikahan kami. Juga untuk kepercayaan Allah sudah menitipkan janin ini dalam rahimku.


Berharap keluarga kecil kami dilimpahi keberkahan. Tentu hal itu akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Bryan yang sudah mendambakan kehadiran buah hati di tengah-tengah kami.


TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2