Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
Bonchap : Sah!


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Divia Marcella binti Haris dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Sebuah ikrar ijab kabul yang diucapkan Bryan dengan satu tarikan nafas, menggema di dalam masjid tempat kami duduk saat ini. Penghulu yang menikahkan kami lantas mengucapkan doa yang diaminkan oleh seluruh saksi yang datang.


Ya, hari ini aku memutuskan menikah dengan pria bernama Bryan. Pria yang sudah hampir 2 tahun ini selalu mencurahkan perhatiannya padaku. Aku terharu sekaligus senang saat akhirnya bisa menanggalkan status janda setelah kematian mas Raihan.


Bryan membantuku bangkit dari keterpurukan. Kami sama-sama memperbaiki diri menjadi pribadi yang jauh lebih baik.


Warga desa Larangan pun sudah memaafkan kesalahan pak Kades, sehingga mereka mulai bersikap baik dan menerima Bryan sebagai salah satu warga mereka lagi.


Kami mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk merayakan pernikahan kami. Tidak perlu pesta besar ataupun mewah. Tujuannya hanya satu. Kata 'sah'. Sah di mata negara dan agama.


Bryan juga setuju mengadakan syukuran di rumahku. Maka dari itu, rumah yang biasanya sepi kini nampak ramai karena kehadiran tamu undangan.


Hingga menjelang malam tiba, para warga sudah mulai membubarkan diri. Begitu juga kami yang sudah berhenti dari kegiatan hari sibuk ini. Karena tak henti-hentinya menyambut mereka yang berdatangan.


Kini tinggal mengistirahatkan punggung yang terasa hampir remuk ini. Rumah pun telah bersih karena kerja samaku dengan pria yang sudah berstatus sebagai suamiku itu.


"Ahh .... " desahku sembari merebahkan diri di atas ranjang.


Bryan masih berada di kamar mandi untuk membersihkan diri, saat aku hampir saja terlena ingin segera meraih mimpi.


"Divia," panggil Bryan dengan jahil mencolek pucuk hidungku.


"Apa sih?" Aku menepis jemari nakal itu.


"Boleh gak aku minta hakku sekarang?" pintanya dengan suara lembut.


Deg.


Aku tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi juga. Aku memutuskan untuk menyerahkan masa depanku padanya, tapi kenapa masih ada rasa takut saat dia meminta demikian?


Kedua netraku sontak terbuka sempurna. Menyaksikan dua pasang mata yang mengerjap penuh harap tepat berada di atas wajahku.

__ADS_1


"A—"


"Bismillah .... "


Cup.


Belum juga aku mengucapkan satu patah kata, tapi bibirnya sudah lebih dulu mengambil alih keadaan. Membungkam bibirku dengan bibir sensual miliknya. Entah kenapa hal ini mengingatkanku pada almarhum mas Raihan.


Tak terasa air bening sudah menetes pada sudut mataku. Menyadari hal itu, Bryan buru-buru menghentikan aktivitasnya.


"Maaf. Aku gak tau kalo kamu belum siap. Aku bisa menunggu," lirihnya dengan wajah kusut seraya bangkit.


Aku jadi merasa bersalah padanya. Bryan sudah berhak atas diriku sepenuhnya, tidak seharusnya aku mengingat masa lalu di saat seperti ini.


"E-enggak. Lanjutkan apa yang ingin kamu lakuin." Kuhembuskan nafas panjang guna menetralisir hati yang sempat gundah.


"Kamu yakin?"


Aku mengangguk.


Setelah kami berdoa untuk kebaikan bersama, juga agar mendapat momongan yang sholeh dan sholehah, pemanasan pun dimulai.


Dimulai dengan saling memagut satu sama lain. Hingga dibuangnya asal baju tidur yang tadinya kami kenakan. Bryan sempat termangu takjub melihatku tanpa sehelai benang pun. Kalau aku, yah .... Biasa saja.


Aku pernah melihat miliknya dulu. Namun aku belum pernah melihat otot perutnya yang ternyata bisa membuat ciwi-ciwi histeris itu.


Tiba saatnya pada permainan inti. Meski sempat terlintas kenangan saat pelecehan dulu, namun segera aku tepis jauh-jauh. Aku yakin dia sudah berubah. Dia Bryan asli. Tidak lagi dikuasai oleh jin.


"Bismillah ... Tahan. Kalo sakit bilang aja. Aku bisa berhenti," tuturnya yang malah membuatku jengkel.


"Jangan berhenti," sahutku cepat.


Tak tahu apa aku sudah terlanjur terbawa suasana, eh, dianya malah mau berhenti. Nanggung, Bro!

__ADS_1


Sensasi perih seketika menjalar dari bawah ke atas saat benda itu melesak lebih jauh ke dalam. Hingga akhirnya bisa masuk dengan sempurna, namun rasa sakitnya masih terasa. Aku menggigit bibir bawah guna meredakan rasa perihnya.


Melihat ekspresi kesakitan yang aku tunjukkan, Bryan berhenti sejenak. "Apa itu sakit?"


"Sedikit."


"Apa kita harus berhenti?"


"Lanjutkan!"


Huh! Hampir saja aku melempar wajahnya dengan bantal saking gemasnya. Apa perlu dia terus mengulur waktu seperti ini?


Ritme permainan yang awalnya pelan kini sudah semakin cepat sesuai tempo arahan dari sang master. Teratur dan lembut. Membuatku bagai merasakan nikmat tiada tara. Seperti melayang bersama awan saat mengikuti permainannya.


Hingga dua nutfah dipertemukan menjadi satu pada liang senggama, sebagai awal terjadinya kehidupan. Bryan mengecup keningku yang sudah dipenuhi peluh. Dia masih ada di atas. Menyaksikan wajahku yang bentuknya sudah acak-acakan.


Bryan hampir beranjak dari posisinya. Namun aku menahan. "Lagi, Sayang. Enak."


Kekehan kecil dia lontarkan untuk menanggapi ucapan bodoh yang berhasil membuat pipiku merona.


"M-maksudku—"


"Oke. Sekali lagi," sahutnya langsung memulai permainan tanpa memperdulikanku yang malu-malu kucing.


Malam itu aku kembali merasakan rasa yang aku kira sudah lama mati. Kehadiran Bryan mampu menumbuhkan bunga-bunga dalam hati yang sempat layu. Tanah yang semula tandus kini menjadi subur kembali, setelah disirami air cinta olehnya.


Bahkan kupu-kupu dalam perut yang aku kira sudah mati kini mulai berulah lagi. Semoga kami bisa menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Dipersatukan sebagai jodoh di dunia dan akhirat. Aamiin ....


...****************...


Terima kasih pada readers ku yang sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Ada kebahagiaan tersendiri saat akhirnya othor bisa menyelesaikan karya ini. Karena ini karya pertama yang berhasil othor tamatkan. Semoga juga bisa nular ke karya othor yang lainnya. Aamiin ....


Maafkan juga jika masih ada banyak kekurangan. 🙏

__ADS_1


Sekali lagi, terima kasih 😘💕


__ADS_2