
"Bu, ayamnya 2 kg," ujarku pada ibu-ibu penjual ayam potong langganan di pasar.
"Eh, Mbak Via, ya? Apa kabar? Kebetulan ketemu di sini," sapa seseorang yang suaranya begitu familiar.
Aku menoleh. "Oh, Mbak Ningrum. Alhamdulillah, kabar baik. Kok sampai sini belanjanya?"
Tentu saja aku heran. Mbak Ningrum adalah tetanggaku saat masih tinggal di desa sebelah. Untuk apa dia belanja di pasar desa Larangan ini, sedangkan di desa sebelah pun ada pasar yang lebih dekat jaraknya.
"Gak sengaja lewat. Berhubung kebutuhan dapur menipis, mampir bolehlah." Mbak Ningrum menampakkan gigi depannya yang berjejer.
"Oh gitu. Boleh dong."
"Turut berbelasungkawa buat Al. Umur manusia gak ada yang tahu. Semua sudah digariskan. Yang sabar ya, Via." Mbak Ningrum menepuk bahuku lalu mengusapnya perlahan.
"Iya, Mbak. Gimana keadaan ibu sama bapak? Lama gak ke sana." Aku mengalihkan pembicaraan agar tak terus terpaku dan bersedih mengingat kematian Althaf yang masih sangat membekas di benakku.
"Loh emangnya kamu gak tau?"
"Tau apa, Mbak?"
"Mertua kamu 'kan—"
"Ini, Mbak Via." Suara ibu penjual ayam potong menjeda obrolan kami.
Aku menoleh ke arah bu Sri, si penjual daging ayam yang sudah menyodorkan kantung kresek. Kuserahkan beberapa lembar uang sembari menerima belanjaan.
"Uangnya pas ya, Bu," ujarku pada bu Sri.
"Sip, Mbak Via," balasnya.
__ADS_1
"Loh? Beli dangingnya banyak amat. Buat persediaan seminggu ya itu?" tanya mbak Ningrum mengamati keresek berisi daging ayam di tanganku.
"Mbak Ningrum ini gimana, sih? Kan masih ada mas Raihan. Dia makannya banyak tahu," sahutku seraya terkekeh pelan.
Dahi Mbak Ningrum nampak mengernyit heran. "Oh. Kamu beneran gak tahu kabar mertuamu, Vi?"
"Emangnya mereka kenapa sih, Mbak?"
"Untuk lebih jelasnya, kamu mending kunjungi rumah mereka deh."
"Emang ada apa sih? Mereka sakit? Atau apa? Kok gak langsung dingomongin aja di sini?" desakku karena penasaran.
"Mending kamu lihat sendiri aja. Ya sudah, aku duluan ya, Via." Belum juga pertanyaanku dijawab, mbak Ningrum malah pergi duluan.
Rese gak sih, udah bikin penasaran eh, terus dighosting. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu aku masih sempat mendengar sayup-sayup suara mbak Ningrum.
Apa maksud dia itu? Saat menengok ke belakang untuk mendapat kejelasan, mbak Ningrum malah sudah hilang berbaur dengan pengunjung pasar yang lain.
...----------------...
"Mas."
"Apa, Dek?"
"Kita ke rumah ibu, yuk."
"Tumben."
"Mas ini yang tumben. Sekarang gak pernah paksa aku buat kunjungi ibu." Mataku memicing melihat raut wajah mas Raihan yang berubah gelap.
__ADS_1
Sepertinya memang ada sesuatu yang dia sembunyikan. Kenapa semua orang jadi misterius gini sih?
"Kapan-kapan saja ke sananya. Mas masih sibuk. Mas pergi dulu, ya?" pamit mas Raihan yang membuatku semakin curiga padanya.
"Eh, mau kemana, Mas?" tanyaku, sama sekali tak dihiraukan olehnya yang sudah keluar dari pintu. Apa mas Raihan menghindariku?
"Al? Menurut kamu sikap papa akhir-akhir ini aneh gak?" Aku menoleh ke tempat Althaf yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV bersama Rada.
"Aneh gimana, Ma?" balasnya tak mengalihkan pandang dari layar TV.
"Kayak nyembunyiin sesuatu gitu dari Mama." Aku mendaratkan bokong di atas sofa, membelai lembut pipi Rada yang tengah tertidur pulas tepat di sebelah Althaf duduk. Imut sekali dia.
"Menurut Al, Mama deh yang salah."
"Eh? Mama salah apa Al?" tanyaku tak mengerti sama sekali dengan apa yang dimaksud Al.
"Al yakin Mama paham apa yang seharusnya Mama perbaiki."
Pernyataan itu semakin ambigu di pikiranku.
"Kalo ngomong jangan berbelit-belit deh, Al," sambarku.
"Mama harus ikhlas."
"Huh?"
Sedetik kemudian Al dan Rada menghilang. Hilangnya mereka selaras dengan otakku yang mulai berpikir keras.
"Ikhlas ... Apa yang harus aku ikhlaskan?"
__ADS_1