Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
27. Rogo Sukmo


__ADS_3

"Jangan ambil suamiku!"


Teriakan itu membuat telingaku pengang. Reflek menutup kedua telingaku dengan telapak tangan sambil memejamkan mata kuat-kuat.


"Pergi!" pekikku. Berharap aku hanya berhalusinasi.


Tapi memang dasarnya mata batin ini merepotkan, dia terus terbuka tak ingin menuruti perintah untuk terpejam. Bukannya pergi, makhluk itu malah terbang mendekat. Kulit wajahnya yang sudah mengelupas di beberapa tempat, terlihat semakin jelas karena dia sekarang telah berada tepat di depan mukaku.


Mataku tak bisa terpejam. Sehingga kita saling beradu tatap dengan mata yang sama-sama nyalang.


"Kamu yang pergi!" tekannya.


"Makhluk sepertimu yang harusnya pergi meninggalkan dunia ini. Lagipula ini rumahku," balasku tak mau kalah.


Aneh memang. Aku sudah menutup telingaku rapat-rapat, namun suaranya masih terdengar jelas.


"Tidak. Ini rumahku! Kamu yang sudah mengambil rumahku, suamiku. Semua yang aku miliki!"


"Sepertinya Mbak ini salah orang. Aku gak pernah mengambil hak milik orang lain. PERGI!!" jeritku.


Aku memaksa mata untuk menutup, dan berhasil. Kemudian melantunkan ayat kursi serta surat-surat pendek. Berharap dia pergi dari hadapanku.


Seketika suasana sepi-senyap. Merasa sudah aman, kubuka mata perlahan. Betapa terkejutnya saat mataku terbuka dan aku malah berada dalam ruangan gelap dengan lilin berjejer di atas papan. Dan di bawahnya terdapat sebuah peti yang ditutup dengan kain merah. Beberapa sesajen dan dupa di letakkan pada sekeliling peti itu.


Nafasku tercekat. Mengendus aroma dupa bercampur dengan wewangian bunga, dan bau busuk seperti bangkai membuat kepalaku terasa berat. Ruangan ini seperti tak asing. Aku pernah melihatnya. Tapi dimana?


"Arghhh!" Kepalaku mulai tersiksa. Sakit yang kian menjadi selaras dengan ruangan yang semakin menggelap. Cahaya lilin meredup hingga semuanya benar-benar gelap.


"Via!"


"Via!"

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?!"


"Akh!" erangku seraya bangkit dari posisi tidur.


Ku arahkan kedua netra untuk memandangi sekeliling, dengan ingatan yang masih samar.


"Aku dimana?" gumamku. Sedikit tercengang karena aku sedang tak berada di kamar, melainkan di ruang tamu yang entah ini milik siapa.


Ku pandangi satu persatu wajah di sekeliling. Ada mas Raihan, Althaf dan sepasang suami-istri yang kutahu itu ustadz Khalid dan istrinya. Satu-satunya ustadz yang betah tinggal di desa ini.


Namun keduanya jarang bersosialisasi dengan warga di sini. Ustadz Khalid keluar rumah hanya untuk pergi ke masjid selebihnya aku tak pernah tahu. Ada yang bilang bahwa beliau juga mengisi ceramah di beberapa tempat.


"Kamu sudah baikan?" tanya mas Raihan yang membuatku bingung.


"Memangnya aku kenapa? Kok bisa aku ada di sini?"


Ustadz Khalid mengambil alih. "Jiwa Mbak Via baru saja diajak pergi ke alam lain. Raganya memang masih ada di sini tapi tidak dengan rohnya."


"Kamu tadi teriak-teriak gak jelas, Dek. Terus tiba-tiba pingsan. Tubuhmu terasa dingin dan kaku, dipanggil-panggil juga gak nyaut. Mas khawatir, makanya Mas sama Al bawa kamu ke rumah ustadz Khalid."


Bukannya paham, perkataan Mas Raihan malah membuatku seperti orang linglung.


"T-tapi aku gak kemana-mana, Mas. Aku tadi di kamar kok, terus ada perempuan di sana. Dia ganggu aku. Makanya aku suruh pergi. Lalu—"


"Itu namanya rogo sukmo." Ustadz Khalid kembali bersuara.


"Rogo sukmo bisa terjadi saat seseorang melepaskan jiwa dari raganya. Nanti jiwa itu akan mengembara, bahkan beberapa kasus bisa saja masuk di benda atau tubuh orang lain. Hanya saja, tubuh asli dari orang yang mempraktekkan rogo sukmo akan diam tidak bergerak."


"Hal ini juga pernah terjadi pada sufi yang mashur, Abu Yazid al-Busthami yang suatu hari ruhnya mengembara ke alam sana untuk berdialog dengan Tuhan," sambung ustadz Khalid lagi.


"K-kenapa itu bisa terjadi padaku? Padahal aku tak memiliki kemampuan itu, Ustadz?" tanyaku.

__ADS_1


"Karena ada yang menginginkan jiwamu untuk dibawa ke alam lain."


"Kenapa harus aku?" protesku.


"Saya juga belum tau, Mbak."


"Apa ini ada hubungannya dengan kutukan makam keramat itu?"


Air muka orang-orang di ruangan itu seketika berubah. Semuanya saling pandang dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Saya siapkan minuman dulu." Istri ustadz Khalid undur diri. Masuk ke dalam salah satu bilik.


Kenapa semua orang selalu menghindar saat membicarakan tentang makam itu. Bahkan sekelas istri ustadz sekalipun.


"Sebenarnya mengenai makam itu, kami tak ambil pusing. Itu hanya kepercayaan warga sini dan kami sebagai pendatang baru hanya bisa menghormati tanpa harus ikut mempercayai. Saling toleransi saja," jelasnya.


"Aku melihat perempuan mengenakan gaun pengantin, Ustadz. Dan berpikir jika dia adalah Sekar."


"Sekar?" Mas Raihan yang tadi hanya menyimak akhirnya bersuara.


Aku tak heran jika mas Raihan tidak tahu menahu tentang Sekar. Tapi aku yakin jika ustadz Khalid mengetahui sesuatu. Raut wajahnya tak bisa berbohong.


"Maaf, kalau hal itu saya tidak bisa mengatakan apa-apa. Anggap saja saya tidak tau." Ustadz Khalid menunduk setelah mengucapkan kalimat itu.


Apa dia juga sama seperti Yati? Ada seseorang yang harus ditumbalkan sehingga dia mengetahui fakta tentang Sekar?


"Ustadz tau sesuatu 'kan?" desakku karena rasa penasaran akut.


Ustadz Khalid diam saja. Aku tahu jika berbohong adalah hal yang paling tidak bisa dilakukan oleh seorang ustadz. Tapi bagaimana jika dia berbohong untuk kebaikan? Entahlah.


"Aku juga melihat sebuah ruangan gelap dengan beberapa lilin menyala di dalamnya, Ustadz." Aku terus saja mengoceh, padahal ustadz Khalid seperti ingin pembahasan ini berakhir karena takut sesuatu yang tak diinginkan akan terjadi.

__ADS_1


Aku paham itu. Namun, aku tak bisa membiarkan semua misteri ini terus tertutup rapat. Tentu ada sesuatu di balik semua kejadian yang sudah terjadi.


__ADS_2