
"Aku ingat tempat terakhir yang kudatangi sebelum sadar tadi, Mas. Gudang tua di belakang rumah pak Kades. Ya, aku tak mungkin salah."
Setelah mengatakan petunjuk itu, aku dan mas Raihan mendatangi rumah pak Kades untuk membuktikan jika ucapanku benar adanya. Seperti sebelumnya. Rumah besar itu tak ada penjaganya sama sekali.
Hal itu memudahkan kami menyelinap sampai di halaman belakang rumah. Ganjil memang. Rumah sebesar ini sama sekali tidak ada penjaga atau hanya sekadar asisten rumah tangga, bahkan tukang kebun untuk bersih-bersih.
"Dimana, Dek?" tanya mas Raihan berjalan di belakangku dengan tidak sabar.
"Itu lho, Mas. Masa gak lihat?" tunjukku dengan jari telunjuk mengarah ke pintu kayu yang tersamarkan oleh tanaman rambat dan ilalang setinggi pinggang orang dewasa.
Mas Raihan memicingkan matanya agar bisa melihat dengan jelas ke arah yang kutunjuk. "Oh, itu seperti bilik kayu terbengkalai. Mana mungkin di dalamnya ada sesuatu. Paling juga udah dimakan rayap."
"Makanya kita cek dulu, Mas."
Mas Raihan berjalan mendahuluiku. Mendekati bangunan itu,lalu mencoba membuka pintu kayu sambil sesekali menoleh ke arah rumah pak Kades. Berjaga-jaga jika ada yang mengamati kami dari sana.
"Fokus saja membuka pintunya, Mas. Dobrak saja kalau perlu. Biar aku yang mengawasi keadaan," saranku. Dibalas anggukan olehnya.
Terlalu nekat memang. Mengingat kami hanya berdua. Tapi rasa penasaran yang sama-sama kami rasakan, menetralisir segala bentuk ketakutan yang ada.
Brak! Brak!
"Udah belum, Mas?" desakku. Takut orang di dalam rumah mendengar keributan yang kami hasilkan.
"Sabar, Dek. Kayunya kokoh banget. Kualitas super ini."
__ADS_1
Brak! Brak! Krakk!
Beberapa dobrakan keras membuat kayu yang sudah sedikit lapuk itu retak di beberapa tempat. Hal tersebut dimanfaatkan mas Raihan untuk mengintip melalui celah yang dia hasilkan.
"Astaghfirullah! Kamu bener, Dek. Ada lilin menyala dan peti besar di dalam sana." Mas Raihan terkejut.
Krakk! Krakk!
Dibukanya celah itu agar semakin lebar. Memungkinkan kami untuk memasuki ruangan aneh tersebut.
Brak!
Tiba-tiba pintu kayu yang tak kuat menahan gempuran tangan kekar suamiku ambruk dan hancur di atas tanah. Mas Raihan masuk terlebih dahulu. Meninggalkanku yang masih mengamati sekitar.
"Mas, tungguin dong!" omelku. Segera mengikuti suamiku dari belakang.
"Eh, Mas. Mau ngapain?Jangan macam-macam deh," tegurku saat mas Raihan maju hendak menarik kain merah di atas peti itu.
"Memastikan sesuatu," sahutnya acuh.
"Jangan, Mas. Kalo bahaya gimana?"
"Sttt... Diem di situ." Mas Raihan menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
Srett!
__ADS_1
Ditariknya kain merah tersebut, lalu menghempaskannya begitu saja di atas lantai. Sangat ketara wajah serius yang ditunjukkan oleh suamiku. Bahkan peluh di dahinya terlihat mengkilat saat disinari oleh nyala lilin yang menari-nari mengikuti arah angin.
Tangannya yang sedikit bergetar menyentuh gembok yang mengunci rapat peti tersebut.
"Sial! Dimana kuncinya?" umpatnya, sadar tak bisa membuka peti berwarna coklat tua itu.
Mau dicongkel pun sepertinya mustahil. Gembok itu terlihat seperti masih baru. Aku mengamati sekeliling ruangan. Berharap menemukan apa yang kami cari. Namun nihil. Tak ada apapun di sini.
"Sepertinya pak Kades yang membawa kuncinya. Atau mungkin Bryan?" usulku.
"Sepertinya begitu. Tapi aku penasaran apa yang ada di dalam peti ini. Jika dugaanku benar, berarti memang hal ini ada hubungannya dengan segala hal aneh dan beberapa larangan di desa ini," ungkap mas Raihan yang membuatku bingung.
Tanpa aku sadari ternyata suamiku lebih mengetahui banyak hal dibandingkan aku yang memiliki mata batin.
"Memangnya dugaan, Mas apaan?"
"Keluarga pak Kades ini melakukan ritual pemujaan setan."
"Apa?! Yang benar saja!" Mataku melebar sempurna menatap wajah serius mas Raihan.
"Jadi mengenai tumbal itu, pelakunya—"
"Hey! Siapa kalian?! Apa yang kalian lakukan di sana?!" Suara bariton dari arah pintu mengagetkan kami berdua. Membuat ucapanku sontak terpotong.
Langsung saja kami menolehkan kepala ke sumber suara yang terdengar marah itu. Kami melihat mata merah menyala tengah memandang kami secara bergantian. Lalu pandangannya berhenti pada peti yang kain penutupnya sudah berakhir di atas tanah yang kami pijak.
__ADS_1
"Berani-beraninya kalian!"