
Malam itu aku terlelap bersama tiga orang yang aku sayangi. Berpikir malam ini adalah malam terakhir aku bersanding dengan mereka. Sebelum meraih mimpi, aku mengamati wajah mereka satu persatu, lalu mendaratkan kecupan pada masing-masing kening.
"I love you," lirih mas Raihan dengan mata yang sudah tertutup.
"Love you more," balasku sebelum benar-benar beranjak menuju alam mimpi.
Sebenarnya aku tidak ingin tidur dan membiarkan semua ini berakhir, namun badan yang lelah dan terasa hampir remuk membuatku menyerah juga.
Meski ranjang terasa penuh dan membuat kami susah bergerak, namun kebersamaan juga kehangatan yang tersalur bagai memberi arti tersendiri bagi kami.
...----------------...
Suara kicau di luar jendela menyadarkanku jika malam telah berganti pagi. Seberkas sinar yang bergerak lurus melalui ventilasi jendela menerpa wajahku. Mataku terasa sulit terbuka karena bengkak pada bagian bawahnya.
Sepertinya aku terlalu banyak menangis. Bahkan saat baru membuka mata pun air bening itu langsung luruh melalui sudutnya.
Menolehkan kepala ke kanan dan kiri, meneliti setiap jengkal kamar yang menyimpan banyak kenangan ini. Membuat senyum piluku terbit seketika. Apa yang aku harapkan? Bukankah aku sudah ikhlas?
"Mereka telah pergi .... " lirihku seraya bangkit dari tempat tidur yang kini terasa kosong itu.
Dengan langkah berat, aku membimbing tubuh menuju kamar mandi. Mengabaikan rasa sepi yang mulai mendera.
Tak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan ritual mandi pagiku. Kini kaki ini sudah berada di jalan menuju rumah nenek Surti. Sepanjang perjalanan aku terus melempar senyum palsu pada setiap orang yang ditemui.
Pura-pura baik-baik saja. Tapi nyatanya hatiku tetap rapuh jua. Di hadapan nenek Surti tangisku pecah. Aku menceritakan semua yang baru aku alami.
"Nenek sudah berusaha memberitahumu. Tapi kamu melupakan pesan Nenek," ujar nenek Surti membuatku mengernyitkan dahi.
"Maksud Nenek?"
"Waktu itu Nenek memintamu untuk menaburkan garam yang sudah didoakan ke sekitar rumah 'kan? Apa kamu melaksanakan sesuai perintah?"
__ADS_1
Aku menunduk. "Maaf Nek. Aku lupa."
"Lewat cara itu Nenek mau kasih tahu kamu, kalau yang selama ini tinggal sama kamu bukan manusia."
Lagi-lagi dahiku berkerut tak paham. Sebelum pertanyaan meluncur bebas dari bibir ranumku, nenek Surti kembali menjelaskan.
"Jika garam yang Nenek kasih waktu itu kamu taburkan ke sekitar rumah, maka makhluk halus apapun tidak bisa memasuki rumah. Karena melalui garam itu, Nenek memberi pagar ghaib untuk makhluk astral. Termasuk suamimu."
Ingatanku sontak kembali ke masa saat aku berdebat dengan hantu pelakor dulu. Benar juga. Waktu aku melempar bungkusan berisi garam ke arah makhluk menyebalkan itu, sosoknya langsung lenyap. Sedangkan mas Raihan sudah hilang entah kemana. Apa dia sadar dengan apa yang aku bawa, lalu menghindariku?
"Ooo!" Mulutku refleks membentuk huruf o tatkala mengingat kejadian tempo lalu.
"Jadi, kamu berniat ingin menutup mata batinmu, Nduk?" tanya nenek Surti mengingatkan tujuanku yang mendatanginya.
"Iya, Nek."
"Kamu sudah siap tidak akan melihat anak dan suamimu lagi?"
"Harus siap, Nek. Aku udah ikhlas."
"Baik, Nek."
Aku lantas memilih menuju kran air yang terletak di halaman depan. Berhubung kami sedang berada di ruang tamu, jarak kran itu lebih dekat daripada kamar mandi.
Tapi tujuanku sebenarnya ialah ingin menghampiri sosok di luar pagar, yang sejak tadi sudah memandang ke arahku. Namun langkahku langsung dicegah olehnya dengan isyarat tangan, saat aku baru melintasi ambang pintu.
Sosok itu benar. Aku harus tetap fokus pada tujuan awal. Berdoa sejenak lalu mengambil air wudhu dengan hikmat. Kesegaran air di luar kulit bagai merasuk dalam kalbu. Rasanya sejuk dan menenangkan.
Selepas wudhu, dengan langkah yang lebih ringan dari sebelumnya, aku pun kembali masuk menemui nenek Surti. Sedikit tersentuh ketika menyaksikan segelas air putih sudah tersedia di atas meja. Jujur aku begitu haus, mengingat sejak bangun tidur tadi aku sama sekali belum membasahi tenggorokan.
Aku hampir membuka mulut, tapi nenek Surti menyela lebih dulu. "Duduklah."
__ADS_1
Aku menurut.
"Iya, Nek. Harusnya gak usah rep—"
"Pejamkan matamu," potong nenek Surti tak mengizinkanku berkata-kata lebih lanjut.
Sebelum aku menuruti perintah itu, kuedarkan pandangan ke arah luar jendela, memusatkan manik mata tepat pada luar pagar kayu itu. Dimana mas Raihan—dengan Rada dalam gendongannya—dan Althaf sedang berdiri sembari melambaikan tangan ke arahku.
'Semoga akur,' harapku dalam hati.
Kubalas lambaian itu dengan singkat. Menyungging senyum, berharap aku bisa menahan diri agar tidak menangis. Selepasnya aku pun memejamkan mata perlahan guna melepas semua hal yang seharusnya memang tak terlihat oleh pengelihatan normal.
"Aku ikhlas .... " rapalku disertai hembusan nafas panjang.
Nenek Surti segera melantunkan untaian doa. Aku sedikit tersentak saat merasakan percikan air pada wajah.
"Buka matamu dan minumlah air ini. Tapi sisakan sedikit. Jangan dihabiskan semuanya."
Arahan itu segera aku indahkan. Meski ada setitik rasa aneh tapi, ya, sudahlah. Aku menurut saja, toh aku yang meminta bantuan darinya.
Dengan tiga kali teguk, kini air dalam gelas itu tinggal seperempat gelas saja.
"Sudah, Nek," ucapku.
Mataku terbuka lebar saat nenek Surti memasukkan tangannya ke dalam gelas. Dan yang membuatku tak kalah terkejut, ketika tangan keriput yang basah itu disapukan pada wajahku dari atas ke bawah.
'Gile. Ekstrim amat,' batinku gusar.
Kembali kubuka mata dengan kondisi pengelihatan yang lebih segar dari sebelumnya. Meski ada sedikit bau-bau jengkol tapi itu tak jadi masalah besar bagiku.
Pengelihatan mataku terasa berbeda. Aku merasa seolah ini adalah awal dari kehidupanku yang baru.
__ADS_1
Saat baru membuka mata, tempat pertama yang kutuju adalah halaman depan. Melihat tidak ada siapa pun di sana, sebenarnya hatiku terasa nyeri seperti dicubit.
Rasanya perih dan sesak saat kita tidak bisa melihat orang yang kita sayangi lagi. Karena merelakan mereka yang sudah tidak ada kehadirannya di bumi adalah puncak tertinggi dari keikhlasan.