
Ceklek
Setelah mendapat persetujuan, aku memasuki kamar yang katanya bekas orang bunuh diri itu. Melongokkan kepala guna melihat kondisi di dalam.
Sepi, sunyi, dan mistis. Itulah yang kurasakan saat pertama memijakkan kaki dalam kamar tersebut.
"Ayo, Mas. Buruan." Aku menoleh ke arah bellboy yang terlihat ragu dan ketakutan.
Jujur, aku juga sama ketakutannya dengan dia. Tapi demi membuktikan jika suamiku ada di dalam sini dengan pelakor itu, apapun akan aku lakukan.
Netraku menyapu setiap benda yang ditemui. Semua permukaannya dipenuhi dengan debu. Ruangan ini seperti tak terjamah.
Saat menemui pintu kamar yang tertutup, kutempelkan telinga berharap bisa mendengar suara dari dalam. Namun nihil. Tak ada suara apapun di dalam sana.
Ceklek
Kubuka saja kamar itu karena penasaran. Dan benar saja. Dalamnya ternyata kosong, tak ada siapapun.
"Argh!"
Kami sama-sama terkejut ketika tiba-tiba mendengar teriakan yang berasal dari kamar sebelah. Kami saling pandang seolah menanyakan ada apa gerangan. Akhirnya langkah kaki menuntunku mendekati kamar di sebelah kami.
"Jangan, Mbak," bisik bellboy itu. Tak aku hiraukan sama sekali. Karena aku yakin itu tadi suara mas Raihan.
Siap-siap kau pelakor, aku sudah menangkap basah dirimu bersama suamiku.
Tak lupa aku mempersiapkan video ponsel yang siaga untuk merekam setiap kejadian di dalam sana.
"Mbak, jangan masuk ke dalam." Lagi-lagi bellboy itu menghentikan aktivitasku yang sudah memegang handel pintu.
"Diem, Mas. Mas-nya tinggal ikuti saya apa susahnya, sih?!" gertakku geram.
__ADS_1
Ceklek.
Kriieett ....
Suara engsel pada pintu membuat suasana tambah mencekam saja. Tetapi niatku sudah sebulat tahu yang digoreng dadakan. Maka tetap kulangkahkan kaki masuk lebih dalam, dengan kamera yang terus merekam.
Terus melangkahkan kaki sepelan mungkin agar suara heels yang aku kenakan tak terdengar.
"Mas Raihan?" lirihku dengan tangan yang sudah bergetar menahan amarah, saat melihat suamiku tengah terbaring di atas ranjang.
Sempat melirik pada bellboy yang terkejut mendapati seorang pria yang tak lain ialah suamiku di atas ranjang sana.
"Bagaimana bisa .... " gumamnya terkaget.
"Sudah saya bilang 'kan, Mas. Suami saya tuh masuk ke kamar ini sama wanita lain. Mas-nya sih gak percayaan," omelku.
Dia hanya membuka mulutnya tanpa mampu membalas perkataanku.
"Ayo, Mas. Jangan diem aja. Bantuin saya nemuin itu pelakor. Biar bisa saya jambak rambutnya sampai botak," sungutku. Menarik bellboy itu masuk ke dalam kamar mandi yang aku pikir pelakor tersebut ada di dalamnya.
"Mbak, saya takut. Kamar ini angker," cicit bellboy itu lagi yang tak ingin aku dengar. Sudah bosan dengan segala ocehannya tidak berguna.
Kami memeriksa setiap bilik. Namun tetap tak menemui siapapun selain mas Raihan yang masih terbaring di atas ranjang.
"Sial! Apa dia sudah kabur?" geramku.
"Gak mungkin ada orang yang bisa keluar dari kamar ini kecuali lewat pintu, Mbak. Apalagi ini lantai 20. Lewat jendela pun pasti tidak akan selamat, kecuali .... "
"Kecuali apa, Mas?"
"Dia hantu, Mbak."
__ADS_1
"Ngawur." Aku melengos. Sudah serius mendengar ucapannya namun lagi dan lagi ternyata dia mengucapkan kata yang sama.
Hantu, hantu, hantu. Bellboy ini lama-lama membuatku muak juga. Ingin sekali aku melemparkannya dari lantai ini melalui jendela.
"Arghh .... "
Erangan datang dari arah ranjang, tempat mas Raihan berbaring. Namun bukan erangan biasa, dia terdengar seperti kesakitan.
"Mas?" Aku menghambur mendekatinya sebab cemas.
"Arghh .... " Mas Raihan menggeliat seraya memegangi kepalanya.
"Mas, kamu kenapa?" tanyaku khawatir.
"Sakit ... Arghh .... " rintihnya.
"Apanya yang sakit, Mas? Kamu ini sebenarnya kenapa, sih?"
Semakin cemas dengan keadaan mas Raihan yang terlihat begitu tersiksa, rasa amarahku redam begitu saja.
"Mas, bantuin dong! Jangan diem aja. Gak tau apa orang lagi panik gini?!" omelku pada bellboy yang hanya diam termangu di tempatnya.
"I-itu ... A-ada .... " racaunya menunjuk ke arah luar kamar.
"Apaan, Mas? Ngomong yang jelas. Jangan buat saya makin bingung dong."
Brugh!
Yaelah. Bukannya menjawab, bellboy itu malah sudah pingsan duluan. Akhirnya kutuju arah pandang bellboy tadi, berharap mengetahui sesuatu yang membuatnya mendadak pingsan seperti ini. Menambah repot orang saja dia itu.
Deg.
__ADS_1
Sepasang mata merah nyalang menatap lurus ke arahku. Matanya melotot seolah hampir keluar dari tempatnya. Kepalanya miring ke kiri dengan lidah terjulur. Sedangkan di bagian leher terlihat luka melingkar, seperti bekas jeratan tali yang terlihat sudah membusuk.
Mataku tak mungkin salah. Dialah wanita yang tadi aku lihat memasuki kamar ini bersama mas Raihan. Ternyata benar yang dibilang bellboy tadi. Wanita itu ... hantu.