Makam Di Samping Rumah

Makam Di Samping Rumah
30. Tumbal


__ADS_3

"Berani-beraninya kalian!" Pak Kades segera mendekati peti.


Membuat kami mundur beberapa langkah menghindari amukannya. Bukannya menyerang kami seperti yang kami kira. Ternyata pak Kades malah memungut kain merah di atas tanah.


Namun tangan mas Raihan terjulur untuk ikut meraihnya juga. Terjadilah tarik menarik dari dua pria beda generasi itu.


"Mas!" pekikku heran. Ngapain dia itu?


Kenapa pula mas Raihan malah meladeni pak Kades yang nampak seperti orang kesurupan seperti itu? Bukankah ini kesempatan kita untuk lari keluar. Firasatku sudah tidak enak sejak tadi. Apa lagi setelah memasuki ruangan ini. Dia malah asyik main tarik-tarikan dengan pak Kades.


"Ayo, kita keluar aja, Mas," ajakku, menarik baju belakang mas Raihan.


Satu orang setengah baya melawan dua yang berusia lebih muda diatasnya tentu sudah jelas siapa yang akan menang. Pak Kades yang tak bisa menjaga keseimbangan tubuh, akhirnya limbung. Tubuhnya yang gempal jatuh di atas salah satu nampan berisi sesajen.


Sedangkan salah satu tangannya tak sengaja mengenai beberapa lilin hingga membuatnya jatuh ke bawah lalu padam. Raut ketakutan sontak meliputi wajah keriputnya.


Ada apa gerangan?


Kenapa dia ketakutan seperti itu? Dimana wajah garang yang tadi dia tunjukkan? Seperti hilang, lenyap begitu saja.


Akhirnya jawaban dari pertanyaan dalam benakku itu muncul juga. Seketika asap putih mengepul keluar dari sela penutup peti. Pak Kades merangkak menjauh dari peti yang entah apa isinya itu.


"Kalian akan menerima balasannya! Kalian sudah mengganggu istirahatnya. Salah satu keluarga kalian harus menjadi tumbal selanjutnya! Atau jika perlu kalian semua harus mati!" seru pak Kades menunjuk wajah kami bergantian dengan jari telunjuknya yang bergetar.


Apa dia baru saja mengancam kami? Bahkan kami saja tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa dia waras? Lalu siapa yang istirahatnya kami ganggu?


"Jangan bicara omong kosong. Bertobatlah, Pak. Sebelum terlambat!" tantang Mas Raihan dalam situasi membingungkan seperti ini.

__ADS_1


Suasana semakin mencekam, hawa dingin tiba-tiba menusuk kulit hingga ke dalam tulang belulang. Aura mistis yang aneh kental terasa di sekitar kami.


Brak! Brak!


Kami tersentak mendengar gedoran dari dalam peti. Hal itu sukses membuatku dan mas Raihan terbengong. Apakah ada makhluk di dalam peti tersebut?


Brak!


Akhirnya penutup peti itu terbuka lebar dengan sendirinya. Asap putih yang semakin pekat membuat pandangan mata kami memburam. Namun tak menyulitkan kami memandang sosok yang perlahan keluar dari dalam sana.


Sosok hitam besar dengan mata merah menyala menatap nyalang pada kami bertiga.


"Arghh! Berani-beraninya kau mengusikku. Mana makananku? Aku ingin makan jantung perjaka!" pekik makhluk hitam besar yang baru saja keluar dari peti itu.


Suaranya yang nyaring membuat telingaku sakit. Entah yang lain merasakannya atau tidak. Yang jelas kalimat itu membuat kami ketakutan setengah mati. Hingga dalam benak aku bertanya-tanya.


"Ampun, Ndoro. Mereka yang sudah mengusik istirahat Ndoro. Seingatku dua orang ini memiliki anak laki-laki yang masih perjaka. Ambillah jantungnya." Pak Kades dengan tak tahu dirinya menawarkan anak laki-laki kami pada makhluk itu.


Aku menatap mas Raihan yang mematung di tempat sama sepertiku. Berarti dia juga bisa melihat makhluk itu. Yang sudah aku duga dari awal, makhluk itu adanya makhluk peliharaan keluarga pak Kades.


"Ke parat!! Dasar tua bangka! Seenaknya saja bicara. Tidak ada yang perlu ditumbalkan di sini. Jika ada yang harus mati itu kamu!" maki mas Raihan tak terima ucapan pak Kades pada makhluk hitam itu.


"Akh! Apa yang—"


Tanpa kami duga, makhluk itu malah menyerang pak Kades. Tangannya memanjang dengan kuku yang hitam dan tajam itu mencengkeram leher pria setengah tua tersebut.


Aku beringsut ke belakang mas Raihan. Tak tega dengan pemandangan keji di sana. Bibir kami tak lepas dari dzikir dan doa saat menyaksikan tubuh pak Kades menggelinjang selaras dengan semakin diperkuatnya cengkraman tangan makhluk entah apa namanya itu.

__ADS_1


"T-tolong berhenti .... " lirihku, sudah tak sanggup melihat penyiksaan tepat di depan mata kami. Air mataku pun sudah turun dari tempatnya bernaung.


Jleb!


Tangan yang lain dari makhluk itu merobek kulit dan kini sudah menembus dada pak Kades. Mengorek ke dalam tubuh hingga menemukan apa yang dia cari. Pria yang semula masih sempat bergerak dengan penuh penolakan kini lemas tak bertenaga.


Srett!


Ditariknya jantung pak Kades dengan sekali hentakan, beberapa organ dalam juga ikut keluar dari lubang yang dia buat. Kemudian dimakannya dengan rakus jantung yang masih berdenyut itu. Bau anyir darah sudah tercium begitu menyengat. Mengingat darah itu kini sudah menggenang membentuk danau kecil. Menyesakkan dada bagi siapapun yang melihatnya.


Brugh!


Tak kenal ampun, makhluk itu menghempaskan tubuh pak Kades dengan keras di atas tanah. Membuat tubuh tanpa nyawa itu tergolek seperti seonggok daging tak berharga.


"Bapak!!"


Teriakkan lantang dari luar ruangan mengalihkan atensi kami. Bryan lari secepat mungkin mendekati jasad bapaknya yang terbaring mengenaskan dengan dada berlubang penuh darah. Sedangkan kedua matanya masih melotot sempurna. Menandakan penyiksaan yang begitu menyakitkan sebelum nyawanya dipisahkan dari raga.


Ketika menolehkan kepala ke tempat semula, kami tercengang karena tak menemukan makhluk hitam yang tadi sudah memangsa pak Kades.


"Loh? Kok ilang?" gumamku terkejut.


"Dasar kalian pembunuh!" Pandangan Bryan menghujam lurus ke arah kami.


Sorot teduh yang terakhir aku lihat dari matanya, kini lenyap sudah. Digantikan dengan sorot marah penuh dendam.


"Althaf!!" pekik mas Raihan tiba-tiba yang membuatku ikut panik.

__ADS_1


__ADS_2