Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Undangan Dari Abraham


__ADS_3

“Siapa Mauren?” tanya Zea pada Arjuna.


“Bukan siapa-siapa, hanya teman lama.” Arjuna meletakan kembali ponselnya di atas nakas. “Eh, mau kemana?” tanya Arjuna karena Zea sudah beranjak dari ranjangnya.


“Mandi.”


“Ikut dong.”


“Ikut Mauren aja,” ujar Zea lalu membanting pintu.


“Astaga,” pekik Arjuna karena terkejut dengan ulah Zea. “Perempuan kalau sudah cemburu nyeremin banget sih.”


Dalam toilet, Zea menatap cermin memandang pantulan wajahnya. Bertanya-tanya mengapa dia harus emosi dan mungkin saja cemburu pada nama yang muncul di layar ponsel Arjuna. Walaupun pria itu ingin dekat dengan wanita manapun itu sudah hak Arjuna.


Namun, selama ini Arjuna selalu berlaku seakan dia sangat mendamba Zea walaupun wanita itu berusaha menjaga jarak mengingat status pernikahannya.


“Kamu tidak berhak Zea, tidak berhak dengan hidup Juna. Dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari kamu,” gumam Zea di depan cermin.


Cukup lama Zea berada di bawah guyuran shower. Bukan hanya membersihkan diri, tapi juga mendinginkan hati dan kepalanya agar bisa berpikir jernih.


“Astaga, Juna!” pekik Zea saat membuka pintu toilet, Arjuna berdiri dengan kedua tangan dilipat di dada.


“Lama banget sih, ngapain aja di dalam. Cemburu bilang,nggak usah sembunyi di toilet,” tutur Arjuna sambil menggeser tubuhnya membiarkan Zea lewat.


“Siapa juga yang cemburu.”


“Aku malah senang kalau lihat kamu cemburu, artinya ….”


“Juna, keluarlah. Nggak pantas kita berdua di kamar begini, bukan muhrim.”


Untung saja Zea sudah membawa pakaian ganti saat masuk ke toilet, bisa dibayangkan bagaimana situasinya kalau dia keluar dari toilet hanya mengenakan handuk saja.


“Ya sudah kita jadikan muhrim aja, gitu kok repot.”


Zea mengerang kesal dengan jawaban Arjuna yang asal saja, bahkan pria itu berjalan keluar dari kamar sambil bersiul.


“Kamu nggak ada acara gitu, ini tuh weekend. Daripada gangguin aku, lebih baik manfaatin liburan kamu dan jangan bilang kalau kamu jomblo," tutur Zea yang sudah berada di dapur membuat kopi untuk menghilangkan kantuk yang masih mendera.


Arjuna yang juga berada di dapur, membuka lemari es dan mengambil botol air mineral. Setelah meneguk sebagian isi botol, Arjuna mendekati Zea.

__ADS_1


“Justru ini liburanku, bersama cinta yang suka cemburu tapi nggak mau ngaku,”ejek Arjuna.


“Gombal, nggak lucu tau.”


“Karena aku pelawak, tapi aku Arjuna yang mencari Cinta.”


Setelah menyesap pelan kopinya, Zea pun mengajak Arjuna pergi. Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, apalagi Arjuna terlalu berani pada Zea bahkan cenderung mesum.


...***...


Abraham sudah berada di kediamannya. Kondisi kesehatannya semakin baik dan dokter memutuskan untuk memulangkan Abraham. Perawatan di rumah akan lebih baik untuk pasien dibanding di Rumah sakit.


Namun, Arjuna belum ada datang menjenguk Papinya. Malah meminta informasi dari Leo. Apalagi Leo saat ini sedang bersama Abraham.


“Bagaimana rencana malam perayaan, apa ada kendala?”


“Tidak ada Pak, sampai saat ini masih aman.”


Abraham menganggukkan kepalanya. Dengan posisi bersandar pada kursi kerjanya dan kedua tangan memegang pegangan kursi. Leo agak khawatir dengan ide dan rencana Abraham, jelas akan membuat hubungan Abraham dengan Arjuna semakin tidak baik.


“Lalu, tugasmu yang lain. Apakah berjalan dengan baik?”


“Apa rencana Pak Abraham dengan ini semua?” Leo memberanikan diri bertanya, tentu saja Abraham tidak mengatakan apapun malah memberikannya tugas baru. Sepertinya Abraham akan membuat kejutan atau juga keputusan yang berhubungan dengan Zea dan Arjuna.


Bagaimana pun Arjuna adalah sahabat Leo, maka dari itu Leo tidak menginginkan sesuatu terjadi apalagi menyulitkan Arjuna. Menurutnya, Arjuna akhir-akhir ini sudah banyak berubah. Tidak lagi berulah dan tidak terlihat berkeliaran di kelab malam.(Malah sering berkeliaran di apartemen Zea🤣🤣).


“Sepertinya Pak Abraham tahu kalau Arjuna menyukai Zea, apa yang akan dilakukan pria tua itu,” gumam Leo yang saat ini sudah berada di dalam mobil setelah mengakhiri pertemuannya dengan Abraham.


Bergegas kembali ke kantor karena ada hal yang harus disampaikan pada Zea sesuai perintah Abraham juga menemui Arjuna untuk memberi warning pada bocah nakal itu.


Zea baru saja kembali setelah bertemu dengan klien. Nia mengekor langkah Zea dan menyampaikan kalau Zea dipanggil oleh Leo.


“Kapan Pak Leo mencariku?”


“Belum lama Bu, dia tadi telepon dan minta Ibu Zea segera ke ruangannya kalau sudah sampai.”


“Hm, oke aku langsung ke sana. Terima kasih ya.”


Zea meninggalkan Nia yang masih berdiri di depan mejanya. Saat menuju lift, Arjuna yang keluar dari pantry tersenyum melihat Zea.

__ADS_1


“Mau kemana?”


“Pak Leo, dia panggil aku.”


“Aku temani ya,” ujar Arjuna.


“Nggak usah aneh-aneh, ingat apa yang Pak Leo sampaikan. Jangan buat suasana semakin tidak kondusif.”


“Halah, itu sih karena dia iri. Aku bisa dekat dengan kamu tapi dia masih jomblo.”


“Terserah, yang jelas jangan ikuti aku. Ah, mas Ucup,” panggil Zea yang melihat Ucup.


“Iya Bu Zea. Ada yang bisa saya bantu?”


“Ada, tolong pastikan dia tetap di pantry. Terserah mau kamu ikat, kamu gantung yang jelas jangan sampai dia pergi.”


“Siap, laksanakan. Ayo ikut, ngapain kamu ganggu Ibu Zea.”


“Eh, tunggu. Ucup … apaan sih.”


Zea terkekeh saat memasuki lift, meninggalkan Arjuna dan Ucup yang sedang berdebat. Dia memikirkan kemungkinan alasan dipanggil oleh Leo. Sampai akhirnya pintu lift terbuka, Zea berjalan menuju ruang kerja Leo.


Ternyata Zea memang sudah ditunggu oleh Leo. Baru saja ingin bertanya pada sekretaris asisten Abraham, wanita itu langsung dipersilahkan masuk.


“Duduklah!” titah Leo yang sedang fokus pada lembaran berkas di mejanya. Zea mendaratkan pelan tubuhnya pada kursi tepat di depan meja Leo. Menunggu pria itu menyelesaikan pekerjaannya dan menyampaikan alasan keberadaan Zea di ruangan itu.


“Ibu Zea,” panggil Leo saat dia sudah menutup map dokumen dan menghentikan fokusnya. “Pak Abraham ingin bertemu dengan anda, malam ini.”


“Pak Abraham?”


“Iya. Beliau sudah pulang ke rumah, tapi tenang saja pertemuan tidak akan diadakan di rumah Pak Abraham dan saya akan temani Anda.”


“Baik, Pak,” sahut Zea. Tidak ada kata lain yang bisa diucapkan, tidak mungkin dia menolak undangan dari atasan dan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


“Tapi ada hal yang harus anda perhatikan,” ujar Leo membuat Zea kembali mendengarkan arahan dari pria dihadapannya.


“Jangan sampaikan undangan ini pada siapapun, termasuk Juna.”


 

__ADS_1


__ADS_2