Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Rencana


__ADS_3

“Shittt,” maki Arjuna. “Leo, lebih cepat!’ titah Arjuna pada Leo yang sedang mengemudi. Keduanya baru saja selesai dengan pertemuan bersama rekanan dan akan kembali ke kantor.


“Kamu pikir kita di sirkuit balap.”


“Ck, Papi datang ke kantor dia pasti menemui Zea karena kejadian semalam,” tutur Arjuna. “Apa lo nggak bisa bantu gue?”


Leo bergeming dengan pertanyaan Arjuna. Bukannya dia tidak ingin membantu Arjuna, tapi sudah menyaksikan sendiri bagaimana Zea menyetujui perjanjian dengan Abraham.


“Arjuna, hati-hati dengan keputusanmu. Bisa jadi itu malah membuat Zea semakin sulit.”


“Tenang saja, aku akan buat Mauren dan keluarganya mundur dari perjodohan gila ini. Aku hanya perlu meyakinkan Papi kalau Zea adalah yang terbaik untukku, lagipula untuk apa dia ikut campur dengan urusanku. Sepertinya aku harus mencari jalan dengan mengalihkan perhatiannya,” tutur Arjuna.


“Memang ada hal yang bisa membuat Pak Abraham tidak memikirkan perusahaan, keuntungan dan masa depan perusahaan?” tanya Leo sambil tersenyum sinis.


Arjuna menyandarkan siku tangan kirinya pada jendela mobil lalu memijat dagunya seraya berpikir bagaimana mengalihkan perhatian papinya. Arjuna menoleh ke arah Leo yang sedang fokus mengemudi lalu terkekeh. Hal ini memuat Leo mengernyitkan dahinya, menduga Arjuna terlampau serius dan cenderung gila dengan sikapnya.


“Aku tahu bagaimana mengalihkan perhatian Papi,” ujar Arjuna sambil menepuk bahu Leo. “Sekali tepuk dua tiga pulau terlampaui, lo bakal berterima kasih ke gue nanti,” ungkap Arjuna yang tidak dimengerti oleh Leo. “Cepetan, gue udah kangen dengan cinta gue. Dia pasti lagi sedih karena ucapan Papi,” seru Arjuna.


“Cinta, makan tuh cinta.”


Arjuna dan Leo sudah tiba di kantor, keluar dari lift Arjuna bergegas untuk menemui Zea. Tidak melihat wanita itu di meja kerjanya.


“Ke mana dia?”

__ADS_1


Bahkan ruang kerja Arjuna pun kosong. Arjuna menghubungi Zea tapi tidak dijawab, ternyata ponsel wanita itu ada di atas meja.


Arjuna menuju pantry dan memanggil OB yang bertugas menanyakan keberadaan Zea.


“Ibu Zea di dalam Pak,” jawab OB.


“Hahh.” Arjuna memasuki pantry dan melihat Zea yang sedang menikmati mie instan dalam cup. “Astaga Zea, aku khawatir sampai ujung kepala taunya kamu malah enak makan di sini,” seru Arjuna.


Zea hanya menoleh sekilas, “Apaan sih Pak, saya tuh lapar.”


“Ikut aku!” titah Arjuna ketika Zea membuang cup yang sudah kosong . Ada hal yang ingin dibicarakan tapi tidak mungkin mengatakan di pantry yang jelas-jelas tempat umum. Apa yang ingin dibicarakan adalah urusan pribadi terkait hubungan mereka berdua.


Arjuna beranjak dari pantry setelah memastikan Zea sudah selesai dengan urusan makannya. Saat ini keduanya duduk berhadapan hanya terhalang meja kerja Arjuna.


“Maksud Pak Arjuna?”


“Sudahlah Zea, aku tahu tadi Papi ke sini dan dia temui kamu,” ujar Arjuna. “Apa dia mengancam kamu?”


Zea menghela nafasnya.


“Setiap orang tua mungkin akan menggunakan ancaman untuk melindungi anaknya.”


“Zea, aku serius apa yang dia katakan?”

__ADS_1


“Banyak Pak, saya lupa.”


Arjuna mendengus kesal mendengar jawaban Zea.


“Ingat Zea, Mauren bukan masalah lagi. Dia tidak akan berani lagi mengancamku, tinggal meyakinkan Papi saja. Kamu tidak menyerah ‘kan?”


“Aku sudah bosan terus menderita, kalau sekarang harus menderita juga apalagi harus sabar dengan keadaan … sepertinya aku tidak bisa.”


“Apa maksudmu?”


Zea mengedikkan bahunya.


“Jangan main-main denganku Zea.”


“Ternyata kalian memang Ayah dan anak, tidak ayahnya tidak anaknya. Mengancamku agar jangan main-main, kalian pikir aku mempermainkan apa?”


Pintu ruang kerja Arjuna terbuka, Leo datang untuk menghentikan Arjuna khawatir berbuat nekat.


“Bisakah kalian berdua tidak berdebat membahas urusan pribadi. Ada hal lain yang butuh perhatian,” ungkap Leo. Dia menghidupkan tablet yang dibawanya lalu memutar video dan meminta Arjuna serta Zea menyimak apa isi video tersebut.


\=\=\=\=


__ADS_1


__ADS_2