Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Bayi Siapa?


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Arjuna berada di Bali, tepatnya di Denpasar. Leo yang datang satu hari setelah Arjuna, keduanya disibukkan dengan rapat kerja dan persiapan merger salah satu cabang perusahaan.


“Setelah ini, apalagi jadwalku?” tanya Arjuna sambil fokus dengan ponselnya setelah menutup rapat kerja.


Bella menggeser layar tabletnya dan tidak menemukan kegiatan yang harus Arjuna hadiri.


“Tidak ada, Pak. Hanya besok saja peresmian merger,” jawab Bella.


Leo menutup laptopnya setelah membaca pesan dan bergegas beranjak, membuat Arjuna heran.


“Mau ke mana?”


“Adikmu benar-benar, dia udah duluan ke Seminyak. Bahkan sudah booking kamar di hotel rekomendasi untuk … ck. Benar-bener dah, sama kayak Kakaknya. Nggak sabaran,” tutur Leo


“Tunggu dulu,  acara besok di adakan di mana?” tanya Arjuna pada Leo dan Bella. “Jauhkah dari lokasi Almira?”


“Lebih jauh ke Jakarta,” sahut Leo.


“Kita pindah ke sana aja, sekalian aku mengawasi kalian,” cetus Arjuna menunjuk Leo. “Nanti lo test drive duluan adek gue.”


“Sorry ya, aku bukan kamu,” cibir Leo.


Tidak di manapun, Arjuna memang senang menyusahkan Leo. Seperti saat ini, setelah dia membereskan koper dan bawaan yang lantas diserahkan pada Leo dan Bella. Arjuna malah pergi menikmati suasana Bali.


“Kalian urus deh, jarang-jarang gue lihat sunset,” titah Arjuna yang pergi sendiri menikmati suasana pantai sore ini.


Bukan tanpa alasan Arjuna sengaja menyendiri, bukan karena egoisnya dia meninggalkan Leo dan Bella demi kesenangan sendiri. Tiba-tiba, Arjuna merasa sesak mengingat hubungannya dengan Zea. Saat ini Arjuna duduk di pasir memandang pantai dan laut lepas dengan langit semakin menunjukkan pesonanya.


Zea, aku berharap kita bertemu lagi. Berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku, batin Arjuna.


Jika sebelumnya salah satu persoalannya karena restu, seharusnya saat ini hal itu tidak perlu dipermasalahkan tapi masalahnya adalah Arjuna masih menempatkan Zea pada hatinya. Langit jingga sudah berubah semakin gelap dan keindahan sunset sudah berganti malam. Arjuna pun beranjak dari duduknya. Menepuk pasir yang mengotori celana lalu mengenakan kembali alas kakinya.


Membaca pesan yang dikirim Almira berisi share lokasi tempat adiknya berada. Arjuna menggunakan taksi menuju lokasi tersebut. Sudah lewat dari jam tujuh malam saat Arjuna tiba di hotel di mana Almira berada.


“Hm, pantas aja itu bocah maksa minta mengadakan pernikahan di sini,” gumam Arjuna yang memandang sekeliling lobby hotel.


Tanpa disadari oleh Arjuna, wanita yang tadi dia pikirkan dan ratapi berada tidak jauh darinya. Zea sedang mendampingi resepsionis melayani cek in yang memang cukup ramai sejak tadi sore ditambah sistemnya sedang ada masalah membuat Zea harus turun tangan agar tamunya tidak mengeluhkan mengenai pelayanan mereka.

__ADS_1


“Ini acces card-nya, selamat beristirahat dan menikmati suasana Bali,” ucap Zea ramah lalu melayani kembali tamu lainnya.


Arjuna berdiri tepat di belakang orang yang saat ini berhadapan dengan Zea sambil menunduk pria itu fokus dengan ponselnya mengantri untuk mengambil kunci kamarnya. Sepintas Arjuna sangat mengenal suara itu dan dia mengangkat wajahnya.


“Arjuna,” panggil seseorang.


Arjuna pun menoleh ke arah suara. Begitu pun dengan Zea yang menyadari tamu berikutnya sangat dia kenal.


“Mauren,” ujar Arjuna belum menyadari kalau wanita yang berada di hadapannya adalah Zea.


Wanita itu memilih melangkah mundur dan memberi tanda pada salah satu rekanya untuk menggantikan posisinya.


“Sepertinya kita berjodoh ya, bertemu di sini,” ujar Mauren langsung memeluk lengan Arjuna.


Arjuna mengabaikan Mauren, “Arjuna Kamil,” ujarnya pada petugas dihadapannya.


“Sebentar Pak.” Lagi-lagi sistemnya bermasalah membuat petugas itu memanggil Zea yang belum jauh.


“Mbak Zea.”


Arjuna mengalihkan pandangannya pada arah tatapan petugas di hadapannya dan tepat saat Zea menoleh.


Zea pun terpaku di tempat karena Arjuna menyadari keberadaannya.


“Zea,” panggil Arjuna berjalan mendekati Zea dan mengabaikan Mauren yang memanggilnya.


Zea yang merasa belum siap bertemu dengan Arjuna berjalan cepat menghindari pria itu.


“Zea, tunggu.” Arjuna meraih tangan wanita itu agar berhenti. “Tolong, jangan menghindar.” Arjuna menahan langkah Zea dengan menyudutkan wanita itu ke dinding.


“Pergilah, jangan buat keributan di sini,” ujar Zea tanpa menatap Arjuna yang sedang menatapnya. Saat ini Zea tidak bisa berkutik karena kedua tangan Arjuna berada di kedua sisi tubuh Zea.


“Oke, ikut aku. kita bicara,” ajak Arjuna lalu meraih tangan Zea dan memaksanya ikut.


“Arjuna, lepas,” pinta Zea sambil mengekor langkah Arjuna.


Mauren masih berada di tempat tadi menyaksikan interaksi Arjuna dan Zea. Dia pikir dunia berpihak padanya, nyatanya dia harus gigit jari.

__ADS_1


“Loh, Kak Juna sama ….” Almira dan Leo yang berada di lobby melihat Arjuna dan Zea.


“Zea,” sahut Leo. “Ketemu lagi sama pawangnya.”


Sedangkan Zea dan Arjuna yang sudah menjauh dari hotel. Zea menghempaskan tangan Arjuna yang mencengkram tangannya membuat pria itu menatap Zea. Walau hanya berada di bawah penerangan lampu taman, Arjuna bisa memastikan kalau tatapan wajah Zea adalah tatapan kecewa bukan senang atau bahagia bertemu dengannya.


“Zea, aku ....”


“Cukup!”


“Aku minta maaf, kita harus bicara. Dengarkan aku dulu,” pinta Arjuna.


Zea menggelengkan kepalanya, dengan kedua matanya yang sudah mengembun. Bertemu Arjuna mengingatkan kembali luka yang sudah dia kubur dan tinggalkan. Saat Zea mengajukan resign dan meninggalkan Jakarta, dia tidak menyadari bahwa ada kehidupan lain di tubuhnya akibat ulah Arjuna.


Pikiran kalut Zea mengkhawatirkan perusahaan ayahnya karena dia mangkir dari janji dengan Abraham serta kecewa pada sikap Arjuna membuatnya terpuruk dan fisiknya melemah. Baru menyadari kalau dirinya sedang mengandung dan harus rela kehilangan calon bayinya.


Ketika Zea sudah berusaha bangkit dan semangat menjalani hidupnya yang baru, pria itu muncul lagi mengingat semua kepedihan yang sudah dia lalui.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Tolong jangan ganggu aku,” pinta Zea lirih.


“Aku tidak mengganggumu aku ingin mengembalikan semua seperti semula. Kita bisa ….”


“Tidak,” pekik Zea. “Kamu tidak akan bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi. Kehadiran kamu hanya mengingatkan aku pada luka, kamu nggak akan bisa kembalikan kebahagiaanku termasuk calon bayiku,” jerit Zea sambil memukuli Arjuna.


“A-apa, bayi?” Arjuna menahan kedua tangan Zea sambil mengernyitkan dahinya. “Apa maksudmu Zea? Bayi ….”


Zea menarik tangannya lalu berbalik dan berlari meninggalkan Arjuna. Masih mengenakan setelan seragam hotel dan heels membuatnya sulit berlari dan akhirnya terjerembab.


Arjuna menghampiri dan melepaskan alas kaki Zea, bahkan membantu wanita itu duduk ke kursi taman yang berada tidak jauh dari posisi mereka.


Arjuna berkongkok dihadapan Zea memastikan tidak ada luka serius selain luka di lutut Zea


"Tinggalkan aku, kamu hanya buat aku lagi-lagi terluka," sindir Zea.


"Jelaskan, apa maksudmua dengan calon bayi. Bayi siapa yang kamu maksud?"


\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1



__ADS_2