
Zea sudah berbaring di ranjangnya. Setelah acara benar-benar berakhir dan Abraham sudah meninggalkan lokasi acara, Zea pun pamit pada Leo untuk pulang. Merasa Arjuna akan mengajaknya bicara jika dia tetap berada di sana. Untuk saat ini, dirinya sudah lelah. Sangat lelah jiwa dan raganya, malas untuk menanggapi Arjuna.
Merasakan bantalnya begitu nyaman, Zea mulai terlelap tapi tiba-tiba dahinya berkerut membuatnya kembali terjaga saat mendengar sensor pintu karena salah menekan password untuk membuka pintu. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Arjuna.
Zea sudah mengganti passcode untuk membuka pintu saat tiba di unitnya tadi. Tidak ingin Arjuna tiba-tiba menyelinap seperti yang biasa dilakukan. Saat ini keadaannya sudah berbeda, dia sudah berjanji pada Abraham untuk tidak berhubungan dengan Arjuna. Bahkan ponsel pun sudah Zea non aktifkan, mempersiapkan kemungkinan hal yang akan dilakukan Arjuna.
“Si*al,” maki Arjuna yang tidak bisa mengakses untuk membuka pintu. Bahkan menghubungi zea pun tidak berhasil.
“Zea,” teriak Arjuna sambil menggedor pintu Apartemen Zea.
Tidak ada respon juga, Arjuna mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang.
“Ada apa ...”
“Lo yakin Zea sudah pulang?” tanya Arjuna pada Leo.
“Ck, aku baru sampai rumah tapi sudah dicecar dengan masalah sepele begini.”
“Ini penting, Leo,” pekik Arjuna.
Terdengar hela nafas di ujung telepon.
“Sudah, sejak tadi. Dia butuh sendiri, jangan temui Zea.”
“Siapa lo, ngatur-ngatur urusan gue dengan Zea,” ketus Arjuna.
“Arjuna, aku hanya mengingatkan. Pak Abraham pasti mengawasi kalian berdua, jadi jangan bertindak gegabah yang hanya akan merugikan Zea. Di sini bukan kamu yang akan terluka, tapi Zea.”
Arjuna mengakhiri panggilan telepon, dia enggan mendengar ceramah Leo walaupun apa yang dikatakan pria itu ada benarnya.
“Zea, buka pintunya.” Arjuna kembali berteriak dan menggedor pintu unit apartemen dihadapannya.
Tetangga apartemen Zea terganggu dengan keributan yang Arjuna lakukan. Menegur Arjuna dan mengancam akan memanggil security jika Arjuna tidak berhenti membuat keributan. Arjuna pun mengalah, dia meninggalkan apartemen Zea.
...***...
Saat bangun pagi ini, Zea merasakan tubuhnya masih lelah. Namun, dia tidak mungkin menghindari dengan kenyataan hidup dan pekerjaan yang sudah dia sanggupi dihadapan Abraham. Tidak seperti biasanya, selalu semangat mengawali hari agar sepanjang hari nanti selalu merasa bahagia. Kali ini Zea merasa tidak bersemangat.
Wanita itu duduk di kursi meja rias menatap pantulan wajahnya di cermin. Zea mengatur rambutnya, membuat cepolan dan merapikan untuk memastikan tidak ada helaian rambut yang menjuntai. Memoles tipis make up di wajahnya, tidak lupa mengenakan kacamata.
__ADS_1
Zea merubah penampilannya, tidak ingin terlihat ceria, cantik atau bahkan ramah. Dia ingin terlihat dewasa, serius dan acuh. Berdoa agar bisa menata hati dan bersikap profesional menjadi asisten Arjuna Kamil.
Saat ini Zea sudah berada di ruang kerjanya, merapikan barang-barang miliknya. Karena ruangan itu akan digunakan oleh orang lain yang menggantikan posisinya.
“Ibu Zea,” panggil Ucup. Zea menoleh dan tersenyum. “Biar saya bantu, Bu.”
“Tidak usah, ini sudah selesai kok. Tidak banyak barang pribadi saya, semuanya inventaris kantor.”
“Bu, saya tidak menduga kalau Juna … maksud saya Pak Arjuna ….”
“Tenang saja, Mas Ucup. Bekerjalah seperti biasa, apa yang pernah kita lakukan pada Juna karena ketidaktahuan kita.”
Zea pun pamit pada Ucup. Walaupun masih dalam gedung yang sama, mereka tidak akan sering bertemu.
“Pagi, Zea,” sapa Leo. Dia tidak segan memanggil Zea tanpa embel-embel Ibu. Ingin membangun chemistry agar kolaborasinya dengan Zea berjalan lancar demi mendampingi Arjuna.
“Pagi, Pak Leo. Hm, di mana meja kerja saya?”
Leo menatap Zea dari atas sampai bawah, agak heran dengan penampilan wanita itu. “Di sana,” tunjuk Leo pada meja yang berada di depan ruang CEO yang akan Arjuna tempati.
Zea mengangguk pelan, lalu meninggalkan Leo yang masih memandangnya. Leo merasakan Zea masih belum bisa menerima apa yang terjadi. Perlu waktu untuk mengembalikan semua kepada tempatnya, termasuk menata hatinya.
“Selamat Pagi, Pak. Hari ini, Pak ….” Arjuna menarik siku tangan Zea mengajaknya masuk ke dalam ruangan yang akan digunakan sebagai seorang CEO.
“Maaf Pak, saya harus ….”
“Zea, dengarkan aku!”
Zea pun diam memandang pria dihadapannya yang terlihat menahan amarah. Mencoba menahan diri untuk tidak larut dalam pesona seorang Arjuna.
“Aku memang berbohong tapi tidak berniat buruk. Percayalah Zea, semua ini tidak mengurangi atau bahan merubah perasaanku,” ungkap Arjuna.
“Maaf Pak, saya tidak mengerti. Saya harus mengerjakan tugas saya, jadi ….”
“Zea,” teriak Arjuna membuat Zea tersentak. Selama mengenal pria itu baru kali ini Zea melihat Arjuna marah dan membentaknya. Arjuna mencengkram wajah Zea, “Jangan bersikap begini, ini membuatku sakit. Percayalah, kita akan bisa melewati ini semua selama kita berusaha dan bekerja sama.”
“Apa yang akan kita lewati adalah hubungan antara atasan dan bawahan, tidak ada hal lain selain itu.”
“Zea, jangan buat aku marah. Jangan munafik dan membohongi perasaanmu sendiri.”
__ADS_1
“Munafik? Aku munafik,” tanya Zea. “Maaf Pak Arjuna saya tidak munafik dan tidak membohongi perasaan saya sendiri. Pria yang berhasil menempati ruang di hati saja itu Juna, bukan Bapak. Saya tidak mengenal Anda sebelumnya. Jadi tolong hargai perasaan dan prinsip saya.”
Zea melepaskan tangan Arjuna yang menahan wajahnya lalu melangkah menuju pintu. Arjuna bergeming setelah mendengar ungkapan hati Zea yang cukup menohoknya. Wanita itu menyukai Juna, identitas yang digunakan sementara, tapi membenci diri Arjuna sebenarnya.
“Hahhhh,” teriak Arjuna.
Zea duduk di kursi kerjanya, memegang dadanya yang berdetak tidak karuan.
“Kamu bisa Zea, ini hanya soal waktu. Semua akan baik-baik saja,” gumam Zea menyemangati diri sendiri.
Zea membuka ponselnya di mana ada notifikasi pesan masuk. Ternyata dari Leo yang meminta dia datang ke ruang kerja pria itu.
“Zea, ini adalah tugas kita selama mendampingi Arjuna. List kuning adalah yang harus kamu kerjakan, setiap pagi kita diskusi terkait jadwal Arjuna setiap harinya. Acuannya tetap pada jadwal yang sudah ada,” titah Leo.
Zee membaca list yang disodorkan Leo. Mendengarkan arahan tugas sebagai asisten Arjuna. Bertanya terkait hal yang tidak diketahui dan belum mengerti. Posisinya saat ini berbeda jauh dengan jabatannya dulu.
“Zea. Aku bukannya tidak memahami perasaan kalian berdua, tapi Pak Abraham tidak suka dengan orang yang tidak menepati janji.”
“Jangan khawatir, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk profesional. Justru, Pak Arjuna yang ….”
“Aku yang akan mengurusnya,” potong Leo. “Aku harap akan ada jalan untuk kalian bisa bersama.”
Zea terkekeh mendengar harapan Leo, entah mengapa dia merasa hal itu adalah kemustahilan. Saat ini Zea akan berusaha tidak peduli, walaupun mungkin sangat sulit.
Setelah berdiskusi dengan Leo, Zea kembali ke meja kerjanya. Mulai mengerjakan tugasnya sebagai asisten CEO, salah satunya menyusun jadwal Arjuna.
“Hei, aku ingin bertemu Arjuna, dia ada di dalam ‘kan?” tanya seseorang membuat Zea mengalihkan perhatiannya menatap wanita yang sedang berdiri di depan mejanya.
“Ah, kakak ipar,” ujar Mauren. "Kenapa dandananmu begini, seharusnya kamu berpenampilan lebih cetar dan seksi. Kamu 'kan janda, siapa tau ide itu berhasil."
Belum sempat Zea menjawab, Arjuna keluar dari ruangannya.
“Zea, tolong ….”
“Hai sayang,” ujar Mauren lalu memeluk Arjuna.
Zea mengalihkan pandangannya dan berusaha bersikap tidak peduli walaupun ada rasa yang tidak biasa. Ada sesak di dada dan rasa perih menyaksikan Arjuna berpelukan dengan Mauren.
__ADS_1