
Zea masih berada di rumah Ayahnya, selain dalam keadaan tidak sehat dia sedang memikirkan rencananya ke depan. Tetap berada di dekat Arjuna bukan pilihan yang tepat. Zea pun memutuskan untuk pergi, bukan hanya dari Arjuna saja tapi dari pekerjaan dan keluarganya.
Omar hanya diam saat pagi ini Zea mengutarakan niatnya.
“Aku harap tidak akan ada yang terjadi dengan perusahaan Ayah setelah aku pergi. Karena perjanjianku dengan Pak Abraham adalah tidak berhubungan dengan putranya, itu yang ditekankan oleh beliau.”
“Pergilah Zea, raih kebahagiaanmu. Selama ini kamu selalu berbuat untuk keluarga kita dan mengabaikan kebahagiaanmu sendiri.”
Zea meraih tangan Omar dan mengusap punggung tangan itu.
“Terima kasih, Yah."
Setelah meninggalkan kediaman Ayahnya, Zea langsung menuju kantor. Memang masih terlalu pagi, tapi dia sengaja melakukan itu agar tidak bertemu dengan orang yang memang sedang dihindari. Membereskan meja kerjanya dan membawa barang-barang pribadinya. Tidak lupa dia meletakan surat pengunduran diri di meja Leo.
Saat melangkah keluar dari lobby, Zea berbalik menatap gedung yang selama bertahun-tahun ini dia kunjungi seakan rumah kedua baginya.
“Semangat Zea, kamu berhak bahagia,” gumam Zea menyemangati dirinya sendiri.
...***...
Leo baru saja tiba di kantor, lebih siang dari biasanya karena harus ke rumah sakit melihat kondisi Abraham serta diskusi dengan Arjuna terkait beberapa pekerjaan. Dahinya berkerut saat melihat amplop di mejanya bertuliskan pengunduran diri.
“Zea,” ucapnya setelah membaca isi surat tersebut.
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Zea sedangkan tangan lainnya masih menggenggam surat.
“Tidak aktif,” gumam Leo.
Ternyata ada pesan masuk dari Zea.
Pagi, Pak Leo
Maaf, pengunduran diri saya tidak melalui prosedur yang berlaku karena membutuhkan waktu yang agak lama untuk acc. Saya butuh sendiri dan menenangkan diri. Saya sadar sudah menyalahi perjanjian dengan Pak Abraham. Tolong jaga Arjuna, jangan biarkan dia kembali ke hidupnya yang lalu.
Hubungan saya dan Arjuna tidak berhasil dan terus berada di sampingnya hanya membuat kami saling menyakiti.
Leo menghela nafasnya, menghubungi HRD untuk memproses pengunduran diri Zea. Untuk sementara dia tidak menyampaikan hal ini pada Arjuna yang sedang konsen pada kondisi Abraham. Dia pun sedang bingung karena Abraham menitipkan Almira padanya dan berharap tetap bersama Arjuna untuk mengembangkan perusahaan.
Di tempat berbeda, tepatnya di rumah sakit.
“Ju … na,” panggil Abraham lalu terbatuk. Kondisi tubuh pria itu semakin lemah bahkan ada beberapa alat medis yang terhubung ke tubuhnya.
“Papi, sudah jangan bicara dulu. Tidak baik untuk kondisi Papi.”
__ADS_1
Tangan Abraham bergerak mencari tangan Arjuna yang langsung digenggam oleh putranya.
“Maaf, maafkan Papi. Papi tidak akan bisa melihatmu menikah.”
“Jangan begitu Pih, papi akan sembuh,” sahut Arjuna.
“Menikahlah, dengan wanita pilihanmu Papi tidak akan ikut campur. Almira, restui dia bersama Leo.”
Abraham kembali batuk lalu ada bunyi tidak biasa dari salah satu alat medis membuat Arjuna menekan tombol darurat. Almira yang sedang berbaring di ranjang penunggu pasien karena lelah semalam bersama Arjuna mendampingi Papinya pun terjaga.
“Papi,” panggilnya saat ada dokter dan beberapa perawat datang.
“Bergeser dulu Pak,” titah perawat pada Arjuna.
“Papi,” panggil Almira yang hendak menghampiri bed di mana Abraham berbaring sedang mendapatkan tindakan.
Arjuna menarik Almira dan memeluk gadis itu, karena kondisi di depan mereka menunjukkan kalau Abraham sudah pergi. Terdengar dokter menyebutkan waktu kematian, membuat Almira menjerit dalam tangisnya.
...***...
Sudah hampir seminggu kepergian Abraham, Arjuna pun berniat kembali ke perusahaan. Sudah cukup dia berduka, masih ada tanggung jawab yang lebih besar menunggunya. Setelah kepergian Abraham, Arjuna tinggal di kediaman Ayahnya.
“Bik, lihat-lihat Almira. Hubungi saya kalau kondisinya semakin lemah,” titah Arjuna. Almira sedang sakit, terpukul karena kepergian Abraham. Gadis itu menyesal karena selama ini tidak ada untuk Papinya malah asyik berwisata ke beberapa negara.
“Kemana dia? Seingatku, Zea tidak hadir di pemakaman Papih termasuk menemuiku untuk mengucapkan duka cita,” gumam Arjuna. Berniat menghubung Leo tapi yang dimaksud sudah datang.
“Hari ini ada dua peresmian kerjasama baru. Aku sudah atur waktunya agar tidak bentrok,” tutur Leo sambil fokus pada dokumen yang dia bawa lalu diserahkan kepada Arjuna.
“Zea kemana?” tanya Arjuna tanpa menatap Leo karena sedang membubuhkan tanda tangan di atas dokumen.
“Mengundurkan diri.”
Deg.
Arjuna bergeming memastikan yang dia dengar tidak salah.
“Maksudnya?”
“Mengundurkan diri, berhenti kerja. Masa CEO nggak paham kalimat itu,” ejek Leo sambil terkekeh.
Arjuna berdecak, “Sejak kapan dan kenapa tidak izin denganku?” Arjuna merasa seperti ada yang hilang dan teriris dalam hatinya.
“Sebelum Pak Abraham tiada. Urusan rekrut dan pemberhentian karyawan itu tugas HRD bukan tugas kamu.”
__ADS_1
Arjuna menyandarkan punggungnya lalu mengusap kasar wajahnya. Hubungannya dengan Zea belum membaik dan mereka terpisah masih dalam kondisi itu.
“Nggak mau tanya Zea ke mana?”
Arjuna pun menoleh. “Memang ke mana Zea pergi?”
“Aku juga nggak tahu,” sahut Leo lalu beranjak dari hadapan Arjuna.
“Shittt,” maki Arjuna.
“Nggak usah hubungi dia, nggak aktif kontaknya. Mulai besok akan ada sekretaris baru yang bantu pekerjaanmu,” seru Leo yang sudah berada di pintu.
Setelah Leo sudah menghilang di balik pintu, Arjuna bergegas membuka ponselnya. Menghubungi Zea dan benar nomor itu sudah tidak aktif.
“Apartemen,” gumam Arjuna.
Pria itu sudah berada di lantai unit apartemen Zea berada, menekan passcode untuk membuka pintu tapi gagal terus karena sandi yang dimasukkan salah.
Tiba-tiba pintu terbuka dan keluarlah seorang pria yang mana Arjuna tidak mengenalnya.
“Di mana Zea?”
“Zea,” ujar pria itu.
“Pemilik apartemen ini,” ujar Arjuna.
“Aku baru pindah dan sekarang unit ini milikku.”
Arjuna menyadari kalau Zea benar-benar pergi, bukan hanya sekedar menepi. Baru saja dia ingin menghubungi Leo, ada pesan masuk yang dikirimkan oleh Leo di mana berisi pesan yang dikirimkan Zea.
Penyesalan yang Arjuna rasakan. Entah bagaimana sakitnya dan kecewanya Zea karena ulahnya. Merasa dirinya begitu brengsekk, mengingat apa yang sudah dia lakukan pada wanita itu. Alih-alih mencintai Zea, Arjuna yang mempersulit hidup Zea dan menyakitinya.
“Maafkan aku, Zea.”
Sedangkan yang dimaksud saat ini sedang memandang laut lepas di depannya. Berada di tempat itu bukan hanya bekerja tapi juga merasakan berlibur setiap harinya. Zea bekerja di salah satu hotel bintang lima sebagai asisten manager. Bukan jabatan tinggi, paling tidak Zea sangat menikmati pekerjaannya saat ini.
“Ibu Zea, ada keributan di resepsionis. Ada tamu yang mengajukan tukar kamar dan ….”
“Aku segera ke sana,” ujar Zea mengakhiri panggilan.
\=\=\=\=
__ADS_1