
"Apa kamu mencintainya?" tanya Gavin. "Arjuna," seru Gavin lagi.
Bugh.
Gavin terjerembab karena pukulan yang dilayangkan oleh Arjuna, melepaskan kungkungannya pada tubuh Zea.
Zea sempat teriak karena terkejut. Arjuna berdiri di depan tubuh Zea seakan ingin melindungi wanitanya.
"B4ngsat, apa maksudmu memukulku?" tanya Gavin.
"Itu balasan dan itu belum seberapa," jawab Arjuna.
"Arjuna, hentikan," pinta Zea.
"Dia cinta gue atau nggak, bukan urusan loe" ujar Arjuna lagi sambil menunjuk Gavin.
"Ada apa ini?" tanya Mauren yang merasa aeh karena Arjuna dan Gavin keluar bergantian. Melihat wajah Gavin lebam, dan Zea dalam perlindungan tubuh Arjuna
"Kalian bertengkar? Karena apa, Zea?" tanya Mauren sinis.
"Ah ini satu lagi, kalian kakak beradik yang serasi banget. Kalian sangat cocok," ejek Arjuna. "Yang kakak senang main perempuan, adiknya senang berkencan dengan pria random."
"Arjuna, jangan sok suci," tegur Gavin.
"Aku pernah khilaf tapi aku ngga bego macam kalian," pekik Arjuna.
__ADS_1
"Jadi ,benar kalian saing suka?" tanya Mauren.
"Bukan urusan lo, mendingan bujuk Ayah lo untuk hentikan perjodohan gak jelas ini atau aku sebarkan video mesum kamu di salah satu club," ancam Arjuna.
"Arjuna," tegur Gavin.
"Arjuna, apa maksudmu?" tanya Mauren.
"Tidak usah mengelak, aku tau bagaimana ulahmu setiap malam. Bagaimana bisa aku menikah denganmu yang biasa memeluk pria lain."
"Ini pasti ulah kamu Zea," teriak Mauren. "Pengaruh apa yang kamu berikan pada Arjuna," teriak Mauren.
"Mauren, hentikan," ujar Gavin berusaha menenangkan adiknya. Meeeka sedang berada di tempat umum dan tidak ingin membuat keributan dengan ulah adiknya.
Zea sudah ingin pergi sejak tadi, tapi tangannya ditahan oleh Arjuna. Pria itu mencengkram erat tangan Zea.
"Arjuna, please. Lepaskan aku," ujar Zea lirih.
"Terserah kamu, yang jelas kalian ingat ucapanku. Aku tidak main-main," ancam Arjuna lagi.
Gavin dan Mauren menatap kepergian Arjuna dan Zea. Jika Mauren menatap penuh kebencian karena tidak berhasil mendapatkan Arjuna. Berbeda dengan Gavin, dia merasakan cemburu dan penyesalan karena sudah menyia-nyiakan Zea. Arjuna tidak akan memperjuangkan Zea sedemikian rupa kalau Zea bukan wanita yang spesial.
"Kak Gavin, bantu aku. Aku ingin bersama Arjuna, bagaimana bisa dia malah terpikat dengan Zea."
"Ck, bukan urusanku," sahut Gavin.
__ADS_1
"Kak ...."
Arjuna menarik tangan Zea menuju parkiran, meninggalkan makan malam tanpa pamit.
"Arjuna, kita belum pamit. Pak Abraham ...."
"Masuk!" titah Arjuna membuka pintu mobil.
"Arjuna, aku ...."
"Masuk," sela Arjuna. "Atau aku paksa masuk."
Zea pun akhirnya pasrah, masuk ke dalam mobil tanpa menjawab atau mengelak. Sempat takut karena Arjuna mengemudi dengan kasar bahkan ugal-ugalan.
"Arjuna, hentikan. Kalau kamu mau mati jangan bawa-bawa aku. Aku masih ingin hidup."
Arjuna menepikan mobilnya, "Masih ingin hidup, tapi diam saja saat Gavin menindasmu termasuk Mauren. Zea aku tidak bisa berjuang sendiri, tolong bantu aku."
"Aku tidak diam, perjuanganku tidak sepertimu yang selalu menggunakan fisik dan ancaman. Tantanganku Pak Abraham dan aku tidak bisa mengelak dari ini. Aku tidak bisa mengabaikan keputusannya," tutur Zea.
"Kita menikah, habis perkara. Ayo kita temui Ayahmu."
"Tidak, aku tidak ingin nantinya aku atau kamu malah menderita dan sulit. Pak Abragam tidak akan tinggal diam. Sekarang, lebih baik kita jalani saja hidup kita masing-masing," usul Zea dan itu membuat Arjuna semakin emosi.
"Maksud kamu, aku harus terima wanita itu sebagai istriku?"
__ADS_1
\=\=\=\=\=\= to be continue