Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Gara-gara Parfum


__ADS_3

Arjuna menatap aneh Zea yang sedang asyik memakan nasi goreng buatannya. Padahal  sudah dicicipi dan tidak seenak kalau mereka beli. Anehnya Zea menikmati seakan belum makan dari pagi.


“Kamu yakin itu enak? Kita bisa beli di ….”


“Nggak, aku maunya ini,” sahut Zea dengan tatapan tidak lepas pada layar televisi.


Selama menunggu Arjuna memasak, Zea menonton drama yang sedang viral. Bahkan saat makan pun masih meneruskan tontonannya. Arjuna melayani istrinya seperti ratu, bahkan memastikan Zea tidak tersedak saat minum.


“Jam berapa kamu datang?”


“Hm, tadi sore. Habis mandi aku langsung tidur jadi nggak sempat hubungi kamu,” sahut Zea.


“Bukannya masih minggu depan kontrak selesai?”


“Aku percepat, kebetulan sudah ada ganti yang baru. Memang kamu nggak suka aku sudah kembali?” tanya Zea sambil menatap suaminya.


“Tentu saja suka, ini yang aku nantikan sejak kita menikah. Tinggal bersama dan berbagi kasih sayang kapanpun kita mau.” Arjuna merangkul pundak Zea sambil berbisik, “Pindah kamar, yuk. Kamu tadi sudah janji loh.”


“Tapi ini belum selesai,” tunjuk Zea pada layar televisi.


“Bisa lanjut nanti, yang ini tidak bisa ditunda.” Arjuna menunjuk aset tubuhnya yang memang terlihat sudah mengeras.


Zea terkekeh menatap suaminya yang sudah menahan rindu.


...***...


Arjuna tersenyum menatap Zea yang masih bergelung di bawah selimut. Bahu putih mulus wanita itu terekspos dan ada beberapa jejak cinta di kulit tubuh Zea. Saat ini Arjuna sudah rapi, bahkan dasi pun sudah tersemat di kerah kemeja yang dia kenakan.


“Akhirnya kamu ada saat aku membuka mata,” gumam Arjuna masih menatap wajah Zea yang terlihat kelelahan. “Kelihatannya pucat, apa mataku yang bermasalah.”


Arjuna mengucek kedua matanya, khawatir dia salah lihat. Ternyata Zea bergerak dan meregangkan otot tubuhnya walau mata masih terpejam. Wanita itu mengerjapkan matanya pelan lalu menatap sekeliling dan menyadari saat ini berada di kamar Arjuna.


“Kamu sudah rapi? Kenapa nggak bangunkan aku,” keluh Zea yang berusaha untuk duduk.


“Bangunkan kamu untuk apa? Mengulang yang semalam?” tanya Arjuna dengan senyum simpul.


“Enak aja, badanku rasanya remuk.” Zea kembali berbaring dan menutupi seluruh tubuh dengan selimut bahkan sampai kepala.


“Istirahatlah, nanti kita bicara lagi. Banyak yang harus kita obrolkan,” seru Arjuna lalu pamit.


Tiba di kantor, Arjuna terlihat bersemangat tentu saja membuat Leo heran. Berbeda sekali dengan kemarin yang terlihat kusut dan tidak mood. Bahkan saat ini Arjuna bersenandung dan bersiul.


“Tumben amat,” ujar Leo tanpa menatap Arjuna.


Keduanya duduk berhadapan untuk briefing mengenai project dan hal lain sebelum membahas dengan tim manajemen.


“Hari ini dan kedepannya, gue akan selalu full power.” Arjuna mengangkat kedua tangan penuh semangat.


“Ada angin apaan kali.”

__ADS_1


“Angin ribut, kayak lo yang ngajak ribut terus. Gue semangat salah, nggak semangat juga salah. Cinta gue udah pulang, luruh sudah kangen gue,” tutur Arjuna.


“Hah, maksudnya Zea?”


“Ya siapa lagi Leo. Cinta gue Cuma Zealia Cinta.”


“Makan tuh cinta, dulu kamu sendiri yang bilang nggak akan jatuh cinta. Sekarang malah bucin. Terus urusan aku sama Almira gimana, dia ngerengek terus nih.”


Bukan hanya Almira yang tidak sabar, Leo pun sama. Melihat Arjuna yang begitu bahagia bisa bersama Zea, pria itu pun ingin mengikuti jejak atasan sekaligus sahabatnya untuk segera menikah.


“Masksud gue, pernikahan kalian sekalian aja resepsi gue dan Zea. Biar sekali aja capeknya,” usul Arjuna.


“Ya udah, aku setuju.”


“Bilang sana sama Almira, nanti gue bilang ke Zea.”


“Pagi, Pak Arjuna, Pak Leo,” sapa Bella yang sudah ada di antara Arjuna dan Leo.


“Hm,” sahut Arjuna.


“Hari ini ada pertemuan dengan Pak Gavin, menindaklanjuti pengajuan kerjasama beliau,” tutur Bella yang mula membacakan janji temu Arjuna.


Entah kenapa Arjuna teringat Zea mengatakan kalau Gavin menemui istrinya setelah mereka resmi menikah.


“Di mana pertemuannya?”


“Di kantor. Pak Arjuna yang mengusulkan untuk pertemuan di sini.”


Tiga jam kemudian. Gavin sudah tiba dan saat ini sudah berada di ruang kerja Arjuna. Pria itu ditemani oleh sekretarisnya, begitupun Arjuna yang sudah bersama Bella.


“Apa kabar?” tanya Arjuna berbasa basi, walaupun dia tidak peduli bagaimana kabar pria dihadapannya.


Gavin menjawab pun sama, hanya urusan kesopanan. Kalau bukan karena perusahaan dan bisnis, rasanya Gavin enggan menemui pria yang saat ini ada dihadapannya.


“Oke, langsung saja karena setelah ini saya ada janji dengan istri saya,” ungkap Arjuna sambil melirik arlojinya.


“Zea? Dia ada di Jakarta?”


Arjuna mengernyitkan dahinya, mendengar Gavin menanyakan Zea. Padahal mereka sedang berada dalam pertemuan resmi.


“Hm. Dia sudah kembali ke Jakarta. Anda tahu kalau Zea sekarang istri saya?” Arjuna bersedekap menunggu jawaban Gavin.


Gavin berdehem untuk menghilangkan gugup, bagaimana bisa dia mengakui kalau dia sudah menemui Zea tepat sehari setelah wanita itu menikah bahkan mengusulkan untuk rujuk.


“Yah, begitulah,” jawab Gavin sambil mengedikkan bahunya.


“Kami tidak bisa berjauhan, jadi Zea yang mengalah dan kembali ke Jakarta dan kami sedang mesra-mesranya” tutur Arjuna membuat Gavin semakin panas. “Oke, Bella bawa kemari berkasnya.”


Arjuna dan Gavin fokus pada urusan bisnis dan melupakan sementara perseteruan mereka.

__ADS_1


“Berikutnya tim operasional yang akan mengurus, saya harap kerjasama ini berjalan baik dan kita sama-sama menghormati juknis yang sudah tersusun.”


“Oke, terima kasih Pak Arjuna. Semoga kerjasama ini selesai sesuai jadwal dan kita bisa bekerja sama lagi,” seru Gavin. keduanya sudah berjabat tangan, Arjuna mengantarkan Gavin sampai keluar ruangan.


“Ah, sayang. Sudah datang?” Arjuna menyambut Zea yang baru saja tiba.


Zea tersenyum, Arjuna merangkulnya.


“Apa kabar, Mas?” tanya Zea pada Gavin yang memasang wajah kesal karena Zea sudah tidak tercapai. Apalagi wanita itu terlihat bahagia bersama Arjuna.


“Baik, semoga kalian selalu berbahagia.” Gavin berbesar hati untuk mendoakan pasangan dihadapannya. Bagaimanapun juga, dia ingin yang terbaik untuk Zea mengingat apa yang pernah dia lakukan dulu.


“Untuk apa kalian bertemu?” tanya Zea.


Saat ini Zea sudah duduk di kursi kebesaran Arjuna, sedangkan pemiliknya berdiri sambil menghubungi Bella untuk mengantarkan makan siang yang sudah dipesan sebelum Gavin dan Zea datang.


“Urusan bisnis, sayang. Kalau bukan karena hal itu, untuk apa aku bertemu dia. Rasanya ingin sekali menghajar wajahnya yang sombong.”


Zea terkekeh, mendengar Arjuna yang emosi dengan Gavin.


“Sayang, Almira dan Leo sudah waktunya menikah. Aku berencana, untuk resepsi dibarengkan dengan pernikahan mereka. Bagaimana menurutmu?”


“Ikut aja, nggak masalah.”


“Kamu tidak ada konsep pernikahan yang diinginkan?” Arjuna serius bertanya, khawatir jika istrinya menginginkan atau memimpikan bentuk pernikahan seperti yang Almira selalu utarakan.


“Tidak. Bagiku kehidupan setelah pernikahan lebih penting dibandingkan resepsi.”


“Bijak banget, istri siapa sih?” Arjuna mencubit hidung Zea lalu mendekat bermaksud mencium wanita itu.


Grab.


Kedua tangan Zea menahan tubuh Arjuna agar tidak semakin dekat bahkan perlahan mendorong tubuh itu.


“Kenapa?”


“Jauhan deh, kamu pakai parfum apa sih?”


“Parfum yang biasa,” jawab Arjuna.


“Wanginya nggak enak.”


“Hahhh.”


 


 \=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_1


 


__ADS_2