Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Dua Syarat


__ADS_3

Zea sudah tiba di hotel dimana dia memenuhi undangan dari Abraham. Bertemu dengan Leo di lobby lalu menuju ruangan tempat pertemuan.


“Rileks saja, kamu kelihatan tegang,” ujar Leo.


“Eh, iya Pak.”


Akhirnya Leo dan Zea sudah berada di depan pintu salah satu private room. Sudah ada seorang pelayan yang menunggu di depan pintu dan dua orang pria bertubuh kekar. Sudah pasti itu pengawal Abraham, karena dari penampilannya seperti bodyguard.


“Selamat malam Pak,” sapa Leo saat sudah masuk ke dalam ruangan. Zea pun ikut menyapa Abraham.


“Duduklah!” titah pria itu.


Zea dan Leo duduk berdampingan berhadapan dengan Abraham. Entah mengapa suasananya membuat Zea agak sungkan dengan pria itu, tidak seperti biasanya. Seakan Zea sedang berada posisi telah melakukan kesalahan atau memang dia bersalah karena membawa nama Abraham dalam urusan perceraiannya.


Leo membuka percakapan dengan Abraham, Zea hanya diam dan mendengarkan. Sampai akhirnya Abraham menanyakan perihal perceraian Zea.


“Mohon maaf Pak, kalau nama Bapak sampai dibawa-bawa dalam urusan ini. Saya juga tidak tahu kenapa bisa sampai menjadi pemberitaan,” ujar Zea.


Abraham hanya menganggukkan kepalanya, kemudian menanyakan kabar Ayah Zea. Tentu saja Zea terkejut karena Abraham mengetahui kalau Ayah Zea telah menjalani perawatan di Rumah Sakit.


“Sepertinya pernikahan kamu dengan putra Mahendra benar-benar ditujukan untuk menopang perusahaan Ayahmu,” tutur Abraham sambil memegang cangkir dan menyesap isinya. “Berdasarkan hasil dari analisa Leo, dalam hitungan bulan dipastikan perusahaan Ayahmu bisa gulung tikar dan menyisakan banyak hutang.”


Zea menelan saliva mendengar Abraham menjelaskan kondisi perusahaan Ayahnya. sebagai seorang pebisnis yang berpengalaman tentu saja apa yang disampaikan pria itu tidak perlu diragukan. Karena dengan pengalamannya, dia bicara berdasarkan fakta dan data.


“Bagaimana kalau aku bisa bantu mengembalikan kondisi perusahaan Ayahmu?”

__ADS_1


Zea menatap wajah Abraham dengan penuh tanda tanya lalu menoleh ke arah Leo yang terlihat menganggukkan kepalanya.


“Maaf Pak Abraham, mengembalikan kondisi perusahaan Ayah bukan dengan uang yang sedikit. Hampir lima puluh persen saham ditarik oleh Mas Gavin dan rekannya. Tidak mungkin Pak Abraham melakukan hal itu cuma-cuma, apa balasan yang harus saya lakukan? Apa ini ada hubungannya dengan rencana Pak Abraham terkait CEO pengganti Bapak?”


Abraham terkekeh mendengar penuturan Zea.


“Leo, ini yang aku suka dari Zea. Dia cerdas dan berani.”


Zea menarik nafasnya karena penasaran dengan kompensasi yang harus dia lakukan sebagai imbalan untuk tawaran yang diberikan. Karena tidak mungkin Abraham ingin menjadikan Zea sebagai istrinya, benar-benar tidak mungkin. Kalau Abraham menarik kembali rencana Zea sebagai kandidat CEO, tentu saja akan disambut baik oleh wanita itu.


“Hm. Kamu hanya perlu lakukan dua hal untukku, setelah aku membantu Ayahmu.”


“Dan hal tersebut adalah ….”


Abraham kembali terkekeh. “Lihat Leo, dia sudah tidak sabar.”


“Zealia Cinta, kami akan bantu perusahaan Ayahmu dengan dua syarat. Yang pertama, jangan dekat dengan putraku. Walaupun dia bukan pria yang baik seperti Leo tapi aku menginginkan menantu yang masih berstatus lajang,” ujar Abraham.


Zea sempat terpaku sesaat kemudian dia tersenyum dan menyanggupi permintaan Abraham.


“Apa kamu serius?” tanya Abraham.


“Tentu saja Pak, saya tidak akan dekat dengan putra Bapak apalagi menjalin hubungan dengannya,” ujar Zea dengan yakin. Leo menatap Zea yang duduk di sampingnya, ingin sekali dia berteriak kalau pria yang saat ini Zea sukai adalah putra Abraham.


“Kau dengar Leo, dia bersedia,” seru Abraham.

__ADS_1


Dalam hati Zea bersyukur karena langkah untuk membantu Ayahnya semakin dekat, tanpa harus tersiksa menjadi istri Gavin dia bisa mengembalikan perusahaan Ayahnya. Jika benar hal itu terjadi, Zea berjanji akan mengajukan syarat pada Mirna dan Lea agar tidak mengganggu hidupnya.


“Hal berikutnya yang perlu kamu lakukan adalah tetap berada di perusahaanku. Entah itu sebagai CEO atau bukan. Bukan tanpa alasan aku mempertahankan keberadaanmu, tapi persoalan siapa CEO berikutnya akan terjawab di malam perayaan perusahaan,” tutur Abraham.


Untuk hal yang ini, Zea agak ragu. Memikirkan bagaimana kalau dia benar diangkat menjadi CEO tentu saja dia merasa belum sehebat itu.


“Kamu tenang saja, walaupun benar CEO akan jatuh ke tanganmu. Aku pastikan akan ada asisten yang siap membantu seperti Leo. Bahkan bisa jadi Leo yang akan mendampingimu,” ungkap Abraham. “Bagaimana, kamu siap?”


Zea masih bergeming dengan persyaratan kedua yang ditawarkan Abraham kepadanya.


“Kalau kamu siap, saat ini juga Leo akan menemui Ayahmu dan besok bisa kami pastikan kondisi perusahaan Ayahmu mulai membaik dan cenderung stabil.”


“Saya siap, Pak.”


Abraham kembali terkekeh dan Zea hanya tersenyum. Sedangkan Leo menghela nafasnya dengan wajah datar, dia benar-benar tidak suka dengan pertemuan dan kesepakatan ini. Menduga kedepannya akan ada drama dan kondisi yang tidak harmonis di perusahaan.


“Leo, keluarkan draft kerjasama dan biarkan Zea menandatanganinya.”


Tanpa berkata apapun, Leo mengeluarkan berkas yang sudah dipersiapkan. Tidak menduga jika persyaratannya akan seperti ini. Menyerahkan dokumen tersebut pada Zea dan dengan penuh keyakinan wanita itu mengisi perjanjian yang harus dia lakukan dan menandatanganinya.


“Zealia Cinta, perjanjian yang sudah kita lakukan bukan hal sepele dan tidak main-main. Jangan pernah mengingkarinya."


Abraham kemudian berdiri, Leo dan Zea pun ikut berdiri dan menatap langkah Abraham meninggalkan ruangan.


“Zea,” panggil Leo saat pria itu sudah kembali duduk.

__ADS_1


Zea terkejut karena Leo tidak bersikap profesional seperti biasanya, memanggilnya tanpa sebutan Ibu seperti biasa.


“Aku harap kamu tidak menyesali keputusanmu malam ini.”


__ADS_2