Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Mencintainya


__ADS_3

“Apa?” tanya Arjuna setelah Zea mengatakan kalau nanti malam ada pertemuan dengan keluarga Mahendra.


“Makan malam bersama keluarga Mahendra,” ulang Zea.


“Siapa yang gagas?” tanya Arjuna lagi, saat ini dia sudah bersandar dengan kedua tangan dilipat di dada menatap Zea dengan raut wajah kesal.


“Pak Abraham.”


“Zea, aku itu atasan kamu. Jadi ikuti apa arahanku,” tegas Arjuna.


“Tapi Pak Abraham yang menggajiku.”


“Astaga Zea ….”


“Setengah delapan malam, di resto X. Jangan sampai terlambat, entah Pak Abraham akan semarah apa kalau Pak Arjuna tidak datang  dan ... tidak ada alasan untuk menolak. Saya dan Pak Leo sudah menyesuaikan jadwal, mulai nanti sore sudah dikosongkan jadwal Pak Arjuna jadi ….”


“Bagaimana kalau kita bertemu dengan Ayahmu saja?” ajak Arjuna sambil mengerlingkan kedua matanya.


“Hanya itu saja jadwal Pak Arjuna,” sahut Zea. Mengabaikan ide usil Arjuna dan tetap bersikap kaku agar Arjuna kesal dan membencinya.


“Hei, kemari!” titah Arjuna.


Zea hanya melangkah maju hanya satu langkah semakin dekat dengan meja Arjuna. Pria itu berdecak karena maksudnya meminta Zea mendekat ke sampingnya.


“Kamu yang kesini atau aku yang ke situ.”


Zea pun berjalan memutar meja Arjuna dan berdiri di samping Arjuna, tapi berjarak. Tanpa menatap ke arah pria yang masih gregetan dengan sikap Zea.


“Kamu kenapa semakin menyebalkan ya?”


Gotcha, memang itu yang Zea harapkan.


“Tapi aku suka,” ujar Arjuna sambil menopang kepalanya dengan tangan kiri menatap Zea. “Karena semakin menyebalkan, semakin menggemaskan. Jadi pengen ngurung kamu di kamar.”


“Mesum,” gumam Zea.

__ADS_1


“Ahh, itu tau kalau aku mesum. Makanya jangan mancing-mancing aku. Laki-laki itu sebagian besar isi otaknya hal mesum dan itu normal,” tutur Arjuna.


“Aneh, hal begituan malah bangga,” gumam Zea.


“Aku tidak akan hadir nanti malam, sampaikan itu pada Pak Abraham,” ujar Arjuna lalu fokus pada layar komputernya. Zea menghela nafasnya, penolakan Arjuna pasti akan menyusahkannya. Entah ide atau cara apa yang bisa digunakan untuk membuat Arjuna menghadiri acara tersebut.


Zea sudah berada di meja kerjanya, belum melakukan apapun. Sudah menyampaikan pada Leo terkait penolakan Arjuna. Baik Arjuna, Leo dan Zea sudah mengerti maksud dari pertemuan keluarga Arjuna dengan keluarga Abraham. Tentu saja untuk membahas kelanjutan perjodohan Mauren dengan Arjuna.


...***...


“Ayo, ingat kamu asisten aku dan kamu harus dampingi aku ke dalam,” titah Arjuna. Bersama dengan Zea baru saja keluar dari mobil melangkah menuju pintu utama restoran tempat pertemuan keluarga Abraham dan Mahendra.


Bertempat di salah satu private room, Zea membuka pintu untuk Arjuna. Sudah ada Mauren dan Ayahnya serta Abraham di dalam. Yang mendampingi Abraham menunggu di luar, Zea pun berinisiatif menunggu di luar ruangan tapi Arjuna menarik tangannya untuk tetap berada di dalam.


“Hai sayang,” sapa Mauren langsung memeluk Arjuna.


Tentu saja interaksi tersebut membuat Ayah Mauren dan Pak Abraham tersenyum.


“Maaf Pak Abraham, karena ini pertemuan keluarga. Saya harap yang bukan keluarga tidak perlu hadir,” ujar Ayah Mauren.


“Dia bersamaku, Papi yang menempatkannya sebagai asistenku. Selama aku ingin dia tinggal, jangan ada yang mengusiknya.”


“Maaf Pak Arjuna, biar saya ….”


“Tidak, tetap di sini," titah Arjuna.


Zea pun tidak ingin berdebat di hadapan mantan mertuanya dan Ayah Arjuna. Mauren melihat ada sesuatu antara Arjuna dengan Zea. Dirinya tidak pernah diminta untuk tinggal, malah selalu diusir.


“Kak Zea, kamu melepaskan kakakku hanya untuk menjadi seperti pelayan,” ejek Mauren. “Arjuna, jangan sampai kamu tergoda ya, aku banyak mendengar para pimpinan yang ada hubungan gelap dengan sekretaris atau asisten mereka. Aku harap kamu bukan salah satunya,” tuturnya lagi.


“Kalau memang mereka saling mencintai, masalahnya di mana. Selama keduanya berstatus single,” sahut Arjuna.


“Hentikan, kita akan mulai makan malamnya. Panggilkan pelayan,” titah Abraham menatap Zea.


Zea pun sadar dengan maksud Abraham, baru saja membuka pintu dikejutkan dengan Gavin yang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


“Mas Gavin,” gumam Zea. Lalu bergeser untuk memberi jalan.


Zea memutuskan tidak kembali ke dalam, hanya akan menambah rasa serba salah dan terus terpojok. Ternyata pintu ruangan tidak tertutup rapat dan dia bisa mendengar apa yang dibicarakan di dalam.


“Jadi, kalian sudah benar-benar bercerai?” tanya Abraham pada Gavin.


“Iya, baru beberapa hari yang lalu ketuk palu,” jawab Gavin tidak semangat.


Arjuna tersedak saat mendengar kenyataan Zea sudah bercerai dengan Gavin. Karena dia tidak tahu mengenai hal itu. Bahkan berencana menanyakan hal ini pada Zea.


“Sayang, pelan-pelan dong,” seru Mauren sambil menyodorkan gelas minum Arjuna.


“Setelah Mauren menikah, baru aku akan pikirkan masalah Gavin,” usul Tuan Mahendra.


“Kalau begitu, kita percepat saja pernikahan mereka," ujar Abraham.


Prank.


Arjuna melepaskan sendoknya, “Papi, kita belum sepakat untuk hal ini. Jangan sampai aku permalukan papi di sini,” ancam Arjuna. “Sudah aku katakan kalau aku sudah punya pilihan sendiri dan saat ini statusnya sudah aman untuk aku nikahi, dia bukan milik orang lain.”


Gavin menoleh ke arah pintu, terlihat Zea yang menunduk sambil mengusap matanya lalu menatap Arjuna. Mencermati apa yang Arjuna barusan katakan.


Apa Zea ada hubungan dengan Arjuna, batin Gavin.


Zea terlihat beranjak dari posisinya, Gavin pun pamit ke toilet. Pria itu mengikuti langkah Zea dan ….


“Zea,” panggil Gavin.


Zea menoleh. “Maaf Mas, aku harus ke toilet.”


Gavin menahan tangan Zea, “Kamu menangis? Karena dihina oleh Mauren atau karena Arjuna akan dijodohkan dengan Mauren?” tanya Gavin.


Zea mengernyitkan dahinya, “Maaf aku nggak ngerti dengan pertanyaan Mas Gavin.” Zea kembali akan melangkah tapi Gavin meraih tubuh Zea dan menghimpit ke dinding. Kedua tangan Gavin berada di sisi kiri dan kanan tubuh Zea.


“Apa kamu mencintainya?” tanya Gavin.

__ADS_1


__ADS_2