Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Kejutan


__ADS_3

Zea dan Gavin sudah berada di restoran hotel. Keduanya duduk berhadapan, di mana Gavin tidak melepaskan pandangannya dari wajah Zea. Ternyata informasi yang disampaikan Mauren sangat tepat, Zea bekerja di hotel ini.


“Maaf Mas, saya sedang bertugas jadi tidak bisa berlama-lama,” ujar Zea.


Gavin menghela nafasnya sebelum dia mulai bicara.


“Aku mendapatkan informasi dari Mauren kalau kamu ada di sini. Sudah lama aku mencarimu,” tutur Gavin lalu menjeda kalimatnya.


Zea mengernyitkan dahi mendengar pria itu mencari-cari dirinya. Untuk apa? Sedangkan jelas mereka sudah tidak ada urusan.


“Aku masih dengan niat yang sama untuk mengajakmu rujuk,” ungkap Gavin.


“Rujuk?”


“Iya. Sebenarnya aku ingin menemui langsung setelah mendapatkan kabar dari Mauren, tapi ada hal urgen yang harus aku selesaikan,” tutur Gavin lagi.


“Mas Gavin, aku sudah sampaikan kalau kita tidak mungkin rujuk. Urusan kita sudah selesai, apalagi saat ini rencana itu sudah dipastikan tidak akan bisa terjadi.”


“Beri aku kesempatan Zea, aku akan berubah. Setelah kita berpisah, aku baru menyadari kalau aku mencintaimu.”


“Maaf, tapi aku tidak bisa karena….”


“Zea, please,” pinta Gavin bahkan meraih tangan Zea dan menggenggamnya.


Zea terkejut lalu melepaskan tangannya dari cengkraman pria itu. Gavin sempat melihat cincin di jari manis wanita itu.


“Aku sudah menikah.” Zea mengatakan kenyataan yang ada antara dirinya dan Gavin.


“Kamu sudah menikah?” tanya Gavin meyakinkan apa yang dia dengar. Berharap kalau Zea hanya bergurau dan kalaupun benar bukan Arjuna pria yang beruntung itu.


Zea menganggukkan kepalanya dan memperlihatkan cincin pernikahannya. Gavin terlihat kecewa karena harapannya sudah benar-benar pupus.


“Siapa pria itu?”


“Arjuna,” jawab Zea dengan yakin dan bangga.


“Kenapa harus dia?”


“Kenapa tidak? Kami saling mencintai meskipun dengan segala macam masalah dan cobaan yang ada," ungkap Zea. “Maaf Mas Gavin, aku rasa sudah jelas dan tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Aku juga tidak ingin suamiku merasa tidak nyaman dengan pertemuan ini, jadi selamat malam.”


Zea beranjak dari duduknya.


“Kapan?” tanya Gavin lagi.


Zea menoleh kembali.


“Kapan kalian menikah?”

__ADS_1


“Kemarin,” jawab Zea.


Kalau saja saat itu aku langsung menemui Zea, aku yakin pernikahan itu tidak akan terjadi dan Zea bisa saja menjadi milikku, batin Gavin sambil menyaksikan Zea yang berjalan menjauh meninggalkannya.


Tengah malam, saat Zea baru saja selesai bertugas sudah berada di kamar kontrakan yang ditempati selama ini. Sudah berganti piyama bahkan sudah berbaring di ranjang. Senyum tersungging di wajahnya melihat banyak pesan dari Arjuna.


Wanita itu harus siap dengan keposesifan suaminya, juga rayuan gombal yang memang sering dia dapatkan dari Arjuna. Mengingat pertemuan dengan Gavin sore tadi, Zea tidak ingin hal itu menjadi masalah di kemudian hari dia pun menyampaikan pada Arjuna.


“Dia nggak ada maksa kamu ‘kan?”


“Nggaklah, maksa gimana orang aku sudah jadi istri orang.”


“Hm. Aku percaya denganmu sayang tapi ….”


Arjuna terdiam membuat Zea bertanya-tanya.


“Tapi apa?”


“Tapi aku kangen. Dua bulan lama, aku mana sanggup,” rengek Arjuna.


Zea tertawa mendengar Arjuna merajuk.


“Weekend aku datang, bersiaplah sayang,” ujar Arjuna di ujung telepon.


“Siapa takut,” tantang Zea.


Cukup lama mereka bicara hanya melalui sambungan telepon. Sepakat untuk tidak melakukan video call karena akan menambah rasa rindu. Arjuna yang berinisiatif mengakhiri pembicaraan karena Zea yang sudah pasti lelah dengan aktivitasnya.


Sudah hampir dua bulan, Zea dan Arjuna menjalani pernikahan dengan kondisi terpisah. Walaupun setiap weekend Arjuna akan menyusul Zea. Tapi minggu ini Arjuna tidak bisa menemui Zea karena ada urusan perusahaan yang tidak bisa ditinggal.


Zea sudah mengatakan kalau kontrak kerjanya akan berakhir seminggu lagi dan Arjuna sendiri yang akan menjemput wanita itu untuk kembali ke Jakarta.


“Lebih baik kamu pulang, istirahat atau hubungi Zea deh,” usul Leo.


Dua hari ini Arjuna terlihat tidak bersemangat, walaupun pekerjaannya tetap lancar. Apalagi sejak tadi siang, Arjuna mengeluhkan kalau Zea akhir-akhir ini sikapnya aneh bahkan hari ini mereka belum berkomunikasi.


Arjuna melirik arloji di tangannya, memang sudah menunjukkan waktu pulang.


“Baiklah, aku pulang. Sebenarnya aku ingin bicarakan pernikahanmu dengan Almira tapi mood aku sedang tidak baik,” tutur Arjuna.


“Hm. Pergilah, langsung pulang dan istirahat agar pikiran kamu tetap sehat dan waras.”


Arjuna sudah berada dalam mobil, dia mencoba menghubungi Zea kembali. Lagi-lagi panggilannya tidak dijawab.


“Sesibuk apa sih di sana, sampai tidak bisa menjawab teleponku,” gumam Arjuna.


Tidak sampai satu jam, Arjuna sudah tiba di apartemennya. Melempar kunci mobil ke meja sofa, melepaskan jas serta dasi yang terasa mencekik leher lalu meletakkan di atas meja. Beranjak ke dapur, membuka lemari es dan mengambil botol berisi air dingin.

__ADS_1


“Aneh,” gumam Arjuna.


Arjuna menyadari kalau dia melihat sepatu wanita saat masuk dan melepaskan sepatunya sembarangan. Arjuna pun menuju pintu untuk memastikan apa yang tadi dia lihat dan benar saja ada sepasang sepatu wanita yang berada tidak jauh dari pintu.


“Ini milik siapa?”


Arjuna mengingat kejadian dulu saat Mauren yang tiba-tiba ada di atas ranjangnya. Perlahan pria itu melangkah menuju kamarnya, semakin curiga karena pintu kamar yang setengah terbuka. Melangkah masuk dan terkejut dengan seseorang yang berbaring di ranjangnya. Tidak jelas siapa karena posisinya berbaring membelakangi pintu dan selimut menutupi sampai bahu.


Tangan Arjuna terjulur untuk menarik selimut berbarengan dengan orang itu menggeser posisi tidurnya dan berbalik menampilkan wajahnya.


“Zea.”


Pekikan Arjuna membuat Zea terjaga.


“Kamu lama banget sih pulangnya, aku sampai ketiduran,” keluh Zea sambil mengerucutkan bibirnya.


“Zea, kamu di sini?” tanya Arjuna langsung merangsek menaiki ranjang dan menimpa tubuh Zea dengan memeluk erat.


“Ih, lepas. Mandi dulu sana, bau kamu nggak enak,” keluh Zea sambil mendorong tubuh Arjuna.


“Nggak enak gimana, kemarin-kemarin pas kita bertemu kamu senang dengan aroma tubuhku.”


“Iya, tapi sekarang nggak. Mandi dulu sana,” usir Zea.


Arjuna pun beranjak dari ranjang dan melangkah menuju toilet.


“Tunggu, kamu ke Jakarta kok nggak bilang. Sejak tadi pagi aku hubungi nggak dijawab pula.”


Zea beranjak duduk dan tersenyum. “Sengaja, ‘kan mau kasih kejutan.”


“Ini bukan kejutan lagi tapi aku benar-benar terkejut. Gimana kalau tadi ….”


“Ck, nggak usah berlebihan dan cepat mandi. Kecuali kamu mau tidur di sofa,” ancam Zea.


Arjuna sebenarnya masih ingin memeluk wanita itu lebih lama, tetapi ancaman tidur di sofa artinya berjauhan dari wanita yang sangat dia rindukan membuatnya bergegas ke toilet untuk membersihkan diri.


“Sudah wangi ‘kan?” tanya Arjuna merentangkan tangannya.


Zea mengangguk lalu menepuk sisi ranjang di sebelahnya berbaring. Arjuna tidak menyiakan kesempatan tersebut dengan langsung merangkak naik.


“Banyak yang ingin aku tanyakan, tapi itu bisa ditunda. Aku kangen kamu, sayang. Boleh ya?” pinta Arjuna dengan tatapan sendu, bahkan tubuh Arjuna sudah mengungkung di atas tubuh Zea.


Zea tersenyum lalu mengusap wajah Arjuna.


“Boleh, tapi aku mau makan dulu. Nasi goreng spesial buatan Arjuna.”


“Hahhh.”

__ADS_1


 \=\=\=\=\=\=\=



__ADS_2