
Leo dan Zea berdiri tidak jauh dari mimbar, memastikan acara berjalan dengan lancar. Sejak acara dimulai, Zea hanya menatap kosong ke depan dan Leo menyadari hal itu. Sebagian tamu undangan adalah sesama pengusaha atau rekan bisnis Abraham, ada juga para pejabat dan politikus yang juga sudah hadir memenuhi undangan.
Keluarga Mahendra juga hadir di tengah acara. Bukan hanya Gavin, tapi ayahnya dan Mauren adiknya. Zea tidak menyadari Gavin di tengah para undangan, tapi sebaliknya. Gavin bisa melihat jelas Zea dari posisinya saat ini.
Gavin memandang lekat pada wanita yang akan menjadi janda, hanya dengan satu kali sidang lagi. Gavin baru menyadari pesona seorang Zea, wanita itu terlihat cantik walaupun tidak dilengkapi dengan aksesoris dan perhiasan dengan harga selangit.
“Kak, itu bukannya kakak ipar?” tanya Mauren pada Gavin yang masih menatap Zea.
“Hm.”
“Jangan berisik, apalagi untuk membicarakan perempuan itu. Aku bersyukur dia bukan lagi menantu keluarga Mahendra, bikin malu saja. Untuk apa dia berdiri di sana kalau hanya menjadi pelayan keluarga Abraham,” tutur Ayah Gavin.
“Kakak benar sudah bercerai dengannya?” tanya Mauren lagi. Tapi diabaikan oleh Gavin. “Arjuna mana sih, dari tadi aku belum lihat.”
Seseorang tampak berbisik pada Leo, menyampaikan Arjuna sudah bersiap di posisinya. Akan hadir sesuai dengan rencana dan instruksi.
“Bersiaplah, sebentar lagi sambutan Pak Abraham,” tukas Leo.
Pembawa acara mempersilahkan Abraham untuk memberikan sambutan diiringi riuh tepuk tangan. Pria paruh baya itu berjalan menuju panggung didampingi oleh petugas yang terlihat seperti bodyguard. Abraham menatap para undangan dengan tatapan bangga.
Dalam sambutannya Abraham menjelaskan singkat awal mula usahanya sampai dengan saat ini.
“Jadi, kesuksesan yang saya dapatkan bukan hasil pemberian atau sebuah doorprize melainkan usaha dan perjuangan. Tidak mudah untuk berada di posisi ini, apalagi saya sudah tua sudah saatnya menikmati hidup. Bahkan putri saya yang masih belia sedang menikmati hidupnya, keliling dunia.” Terdengar kekehan pelan para undangan mendengar lelucon Abraham.
“Tentu saja saya telah mempersiapkan calon pengganti CEO dari Alberto Corporation. CEO pengganti dan orang itu adalah ….” Abraham menjeda ucapannya membuat tamu yang hadir penasaran dengan pengganti Abraham. Bahkan para petinggi perusahaan itu ketar ketir menunggu nama yang akan disebut oleh Abraham.
“CEO pengganti saya adalah … Arjuna Kamil, satu-satunya putra keluarga Abraham Alberto.”
Pintu utama ballroom terbuka, Arjuna melangkah diiringi tepuk tangan para undangan yang berdiri menyambut kedatangan Arjuna. Para pekerja yang mengenali Arjuna sebagai Juna si OB tentu saja sangat terkejut, tidak terkecuali Ucup. Tidak menduga dan tidak pernah menyangka, kalau rekan kerja mereka adalah putra Abraham dan sekarang menjadi atasan mereka.
Zea menundukkan wajahnya untuk menahan air mata, Leo menyadari itu lalu menepuk pelan punggung Zea.
__ADS_1
“It’ s okay. I’m fine.”
“Arjuna Kamil,” ujar Abraham lalu berdiri berhadapan. Abraham tersenyum dan memeluk Arjuna, kembali diiringi tepuk tangan. Posisi Arjuna tepat menatap Zea yang kembali menunduk. Abraham menepuk punggung Arjuna lalu mengurai pelukannya, memasang senyum bangga penuh kemenangan.
Pria itu mengakhiri sambutan lalu menuruni anak tangga, membiarkan Arjuna untuk mengenalkan dirinya sebagai orang nomor satu di perusahaan.
Arjuna melakukan hal yang sama seperti Abraham, menatap para undangan untuk menguasai keadaan. Leo dan Zea berjalan menaiki panggung yang sama dan berdiri di belakang tubuh Arjuna.
“Saya Arjuna Kamil, putra dari Abraham Alberto akan melanjutkan dan memperjuangkan Alberto Corporation untuk lebih baik lagi. Tidak perlu khawatir, orang-orang terpercaya Pak Abraham akan menjadi asisten dan orang terpercaya saya juga. Bersama Leo dan Zea, kami akan berjuang memberikan yang terbaik untuk kemajuan Alberto Corporation.”
Para undangan kembali berdiri dengan tepukan tangannya. Zea menyadari saat ini dia berada dekat dengan Arjuna, sangat dekat. Tapi mereka begitu jauh untuk saling merengkuh. Menatap punggung kokoh Arjuna dan pernah merasakan bersandar pada tubuh itu, kini Zea harus pasrah meredam rasa yang ada. Keadaan mereka saat ini bagi bumi dan langit. Zea hanya bumi yang selalu dipijak sedangkan Arjuna bak langit yang selalu bisa dipandang.
...***...
Rangkaian acara sudah berakhir, saat ini pada undangan sedang beramah tamah. Ada yang menikmati hidangan ada pula yang sekedar saling sapa untuk menjalin silaturahmi. Zea menepi khawatir kalau Arjuna akan mengajaknya bicara.
“Mana Zea?” bisik Arjuna sambil menyapa rekan bisnis Papinya yang akan menjadi rekanannya.
“Fokus dengan tugasmu saat ini, jangan ganggu Zea.”
“Arjuna Kamil, kita bertemu lagi,” seru Gavin sambil mengulurkan tangannya.
Arjuna menyambut dan menjabat tangan Gavin. Saling menyapa walaupun dalam hati ingin sekali Arjuna melayangkan tinjunya pada wajah tampan Gavin. Bukan dendam pribadi tapi membalaskan apa yang Gavin pernah lakukan pada Zea.
“Sayang,” panggil Mauren langsung memeluk Arjuna. “Kamu hebat deh, keren banget. Jadi makin suka,” ungkap Mauren.
Arjuna mendorong tubuh Mauren agar menjauh, tapi perempuan itu masih menempel memeluk lengan Arjuna sambil berucap manja. Leo sempat berdeham tapi tidak dimengerti oleh Arjuna, sampai Gavin menoleh dan ….
"Zea," panggil Gavin.
"Selamat malam, Mas," sapa Zea.
__ADS_1
Arjuna terpaku mendengar suara Zea, artinya wanita itu ada di sana dan menyaksikan tubuhnya dihimpit oleh Mauren.
“Hai Kakak ipar, eh mantan kakak ipar,” sapa Mauren.
Zea hanya mengangguk tanpa membalas sapaan apalagi menjawab. Arjuna menoleh dan benar saja, Zea berdiri di belakangnya. Tidak ingin Zea salah paham, Arjuna kembali melepaskan tangan Mauren yang memeluknya
“Kak Gavin mending reunian dengan Kak Zea. One night stand kek, siapa tahu aja bisa buat hubungan kalian membaik,” usul Mauren.
“Maaf, Pak Arjuna. Anda sudah ditunggu Pak Abraham," sela Leo memecah suasana yang terlihat canggung.
“Saya permisi, Pak Gavin,” pamit Arjuna lalu beranjak diikuti oleh Zea.
Mauren menghentakan kakinya kesal, diabaikan oleh Arjuna. Saat sudah menjauh dari Gavin dan Mauren, Arjuna menghentikan langkahnya lalu menatap Zea.
“Kita harus bicara," titah Arjuna.
“Hentikan, kamu masih menjadi pusat perhatian. Kamu pikir Pak Abraham tidak akan tinggal diam dan tidak mengawasimu,” ungkap Leo sambil menahan tangan Arjuna yang akan mendekati Zea.
“Setidaknya bicaralah Zea. Kamu bisa maki aku atau tampar aku tapi jangan diam begini,” keluh Arjuna.
“Maaf Pak. Saya berusaha profesional, kita masih berada ….”
“Persetan dengan semua ini, Zea kamu percaya aku ‘kan?”
“Arjuna,” pekik Leo.
Tidak jauh dari tempat mereka ada Abraham yang sedang bicara dengan relasinya. Namun, tatapan pria tua itu mengarah pada Arjuna berada.
“Shittt, Leo aku sedang ….”
“Jangan buat posisi Zea semakin sulit, kalian akan bicara tapi tidak sekarang,” ujar Leo.
__ADS_1
Arjuna menghela nafasnya, lalu menunjuk wajah Zea. “Aku menunggu saat itu, jangan menghindariku.”