
“Arjuna apa kabarnya?” tanya Omar.
Zea sedang mengunjungi kediaman Ayahnya, sekaligus menyampaikan undangan resepsi pernikahannya juga pernikahan Leo dan Almira.
“Baik Yah, dia sedang di luar kota ada masalah dengan kantor cabang.”
“Sudah berapa bulan?” tanya Mirna sambil menunjuk ke arah perut Zea.
“Masuk empat bulan.”
“Kalian ini aneh, menikah tapi diam-diam,” singgung Mirna. Waktu Omar menikahkan Arjuna dengan Zea memang tidak dihadiri oleh banyak orang dan Omar setuju dengan hal itu, yang penting pernikahan mereka sah dari pada direncanakan seperti sebelumnya malah gagal.
“Sudahlah, yang penting sudah sah,” sahut Omar.
“Ya juga, untung saja Arjuna mau bertanggung jawab walau sudah terlambat. Aku pikir kamu bisa jaga diri taunya malah sempat hamil di luar nikah walaupun akhirnya keguguran.”
Zea menghela nafasnya, tidak aneh kalau Ibu sambungnya itu selalu menyinggung perasaan Zea.
“Eh, ada nyonya Arjuna,” ujar Lea yang baru saja datang. “Aku pikir Kak Zea nggak akan bertemu lagi dengan Arjuna.”
“Sepertinya kami memang diciptakan berjodoh, aku sudah menjauh malah dipertemukan dan langsung dinikahkan oleh Ayah.”
“Sudahlah tidak usah ribut. Paling tidak Ayah sudah lega karena Zea sudah bersama pria yang tepat.”
Zea pun pamit pulang, berlama di kediaman ayahnya tidak baik untuk kesehatan dan emosinya.
“Hati-hati, jaga kesehatanmu. Salam untuk Arjuna dari Ayah, nanti Ayah akan hadir di pesta kalian,” tutur Omar mengantarkan Zea sampai ke mobil.
Zea tidak langsung pulang, menuju butik yang mana Almira sudah menunggu di sana. Akan melakukan fitting pakaian yang akan dikenakan saat resepsi nanti. Di pesta tersebut Zea hanya akan dua kali berganti pakaian dengan model dan ukuran menyesuaikan dengan kondisi kehamilannya. Berbeda dengan Almira yang akan mengenakan beberapa pakaian.
“Aku tunggu di sini saja,” tunjuk Zea pada sofa ruang tunggu. “Kamu pastikan dulu gaun dan pernak-pernik lainnya, jangan sampai nanti ada yang tidak sesuai.”
“Hm.”
Almira pun meninggalkan Zea menuju ke ruang ganti ditemani oleh dua orang pramuniaga butik. Sambil menunggu, Zea membuka ponselnya dan berkirim pesan pada Arjuna yang sudah siap kembali ke Jakarta.
“Zea, kejutan sekali bisa bertemu di sini.”
__ADS_1
Zea menoleh, ada Mauren yang langsung duduk di salah satu sofa tanpa bertanya apakah Zea keberatan atau tidak.
“Kamu sedang hamil?”
“Hm.” Zea menjawab tanpa menatap wanita itu.
“Aku tidak percaya kalau kedatangan Arjuna ke Bali malah berakhir pernikahan denganmu. Aku pikir kamu akan kembali bersama Kak Gavin.”
“Untuk apa aku minta cerai kalau akhirnya kembali pada kakakmu.”
“Apa kamu benar-benar yakin menjadi istri Arjuna, dia itu player. Tidak mungkin kamu tidak tahu bagaimana masa lalunya,” tutur Mauren.
Zea menatap Mauren, menunggu kelanjutan apa yang akan dikatakan oleh wanita itu.
“Kenapa? Apa kamu tidak percaya apa yang aku katakan? Bahkan denganku, kami biasa ….”
“Cukup! Saat ini Arjuna sudah menjadi suamiku. Bagaimanapun masa lalunya aku sudah menerima dan yang terpenting adalah dia sudah meninggalkan jauh masa-masa kelamnya.”
“Bisa saja dia rindu masa-masa itu, bebas bermain dengan siapapun. Karena cinta dan setia bukanlah prinsip hidup Arjuna.”
“Mauren, kalau kamu hanya ingin memprovokasi agar aku bermasalah dengan Arjuna atau kami berakhir, usahamu sia-sia. Aku percaya Arjuna begitupun sebaliknya. Walaupun dia ingin kembali dengan masa lalunya, mungkin sudah dia lakukan saat aku pergi. Namun, dia tidak lakukan itu dan masih berharap denganku. Jadi, hentikan usahamu untuk menjauhkan aku dengan Arjuna atau ingin mendapatkan Arjuna. Carilah pria lain.” Zea berkata panjang lebar dan berhasil membungkam mulut Mauren.
Mauren pun akhirnya beranjak pergi, Zea masih menunggu Almira dan tidak menduga kalau Arjuna sudah tiba di Jakarta bahkan sedang menuju ke butik.
“Sudah beres?”
“Sudah,” sahut Almira yang duduk bersebrangan dengan Zea. Gadis itu mengambil botol air mineral dan meneguk isinya.
“Kita langsung pulang, aku sudah lelah,” ajak Zea masih fokus dengan ponselnya.
“Tunggu dulu, aku dijemput Kak Leo.”
“Bukannya Pak Leo dan Arjuna masih diperjalanan?”
“Upss. Keceplosan.”
“Memang tidak bisa diajak kerja sama, jadi nggak kejutan lagi deh.”
__ADS_1
Zea menoleh ke arah suara, ternyata Arjuna benar ada dihadapannya. Almira merentangkan tangannya menyambut kedatangan Leo.
“Jadi kalian sepakat bohongi aku?”
“Bukan gitu sayang, aku hanya ingin buat kejutan,” jawab Arjuna yang sudah duduk di samping istrinya, memeluk lalu mengusap perut Zea yang sudah membuncit. “Ayo kita pulang,” ajak Arjuna. “Disini nggak bisa mesra-mesraan. Kamu juga pulang, ingat kalian belum halal,” titah Arjuna pada Almira dan Leo.
Sampai di rumah, Zea masih memasang wajah tidak bersahabat. Tentu saja hal ini membuat Arjuna salah tingkah.
“Sayang, aku bukan bohongi kamu tapi ….”
“Bukan tentang itu.”
“Lalu?”
Zea yang sudah duduk di tepi ranjang menatap Arjuna yang masih berdiri dihadapannya.
“Kamu nggak akan macam-macam di belakangku ‘kan?”
“Macam-macam gimana, maksudnya?” tanya Arjuna.
“Nggak akan ada perempuan lain.”
Arjuna duduk di samping istrinya, mengusap punggung berusaha menenangkan wanita itu.
“Aku sudah berjanji di hadapan Ayahmu dan dihadapan Tuhan, bagaimana mungkin aku macam-macam. Mungkin aku tidak akan menunggu kalau memang tidak serius denganmu.”
“Aku percaya, tapi kata-kata Mauren bikin aku ….”
“Mauren? Kamu bertemu Mauren?”
Zea mengangguk.
“Hanya kamu Zea, hanya ada kamu dan anak-anak kita. Please, percaya aku.”
Zea mengangguk. “Mau peluk,” pinta Zea.
≈\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1