
“Sudah, kamu duduk saja. Aku bisa ambil sendiri,” ujar Arjuna saat Zea berdiri dan mengambilkan makan untuknya. Saat ini keduanya berada di meja makan, siap menikmati sarapan setelah itu Arjuna akan menemani Zea mencari perlengkapan bayinya yang belum lengkap.
“Aku hanya mengambilkan, yang masak bibi,” sahut Zea.
“Iya, aku tahu. Duduklah,” titah Arjuna setelah Zea meletakan piring yang sudah terisi makanan. “Kamu juga makan.”
“Hm.”
Arjuna semakin tidak tega melihat pergerakan istrinya, semakin mendekati hari perkiraan kelahiran dia semakin gugup. Apalagi perut Zea yang terlihat semakin besar.
“Ini yakin kita mau ke baby shop, kamu nggak pesan dari katalog aja?”
“Nggak ah, aku mau lihat langsung. Kadang gambar sama aslinya beda loh.”
Arjuna hanya khawatir, tapi tidak berani untuk memaksakan kehendaknya. Hormon kehamilan terkadang membuat Zea aneh. Hal yang biasa bisa membuat wanita itu menangis atau emosi karena perkara kecil. Karena itu, Arjuna lebih berhati-hati menyampaikan sesuatu atau berkehendak pada istrinya.
“Haiiii,” sapa Almira yang baru saja datang tentu saja bersama Leo dan ikut bergabung di meja makan.
“Kalian berangkat kapan?” Arjuna bertanya di sela suapannya.
“Ini siap berangkat, tapi adikmu ngajak mampir dulu.”
“Almira, kamu ikut Leo bukan untuk liburan. Ini urusan penting, kalau bukan karena aku sedang siaga tidak mungkin aku biarkan hanya Leo yang berangkat. Jadi jangan menyusahkannya.”
“Hm, lihat nanti aja,” sahut Almira cuek, lalu ikut sarapan.
“Sayang, kamu sudah sarapan.” Leo menegur istrinya yang kembali mengambil makanan.
“Biarkan saja, orang hamil memang begitu. Bawaannya lapar terus,” seru Zea.
"Iya, kalian para laki-laki mana tahu rasanya hamil. Tau enaknya saja dan mengerang waktu berada di atas tubuh perempuan." Arjuna menggelengkan kepala mendengar pernyataan adiknya.
“Almira, mulutmu,” tegur Leo.
Zea hanya tersenyum melihat interaksi keluarga kecilnya.
Saat ini Leo dan Almira sudah meninggalkan kediaman Abraham yang ditempati oleh Arjuna dan Zea. Arjuna sudah meminta supir panaskan mobil karena mereka akan keluar. Semenjak Zea hamil, Arjuna sudah menyiapkan supir untuk mengantarkan ke manapun istrinya pergi selama ada izin darinya.
“Sayang, mau berangkat sekarang?”
Arjuna menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa.
“Zea, kamu kenapa?” tanya Arjuna yang panik melihat istrinya meringis. “Apa sudah waktunya?”
“Dari semalam ada rasa sakit yang hilang timbul.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
__ADS_1
“Bisa jadi kontraksi palsu, tapi ini kok agak lama biasanya bentaran juga hilang.”
Arjuna mengusap perut istrinya, “Kita ke rumah sakit ya?”
“Nggak usah, sudah hilang kok sakitnya. Kita ke baby shop aja,” ajak Zea.
Arjuna merangkul pinggang Zea menuju mobil. Baru saja mobil melewati gerbang kediaman mereka, Zea kembali mendesis menahan sakit yang mendera.
“Sakit lagi?”
Zea mengangguk sambil mengusap perutnya.
“Pak, kita ke rumah sakit,” titah Arjuna pada supirnya.
“Loh, kok ke rumah sakit?”
“Kita pastikan keadaan kamu, sepertinya anakku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan daddynya.”
Saat tiba di UGD, Zea segera dibaringkan di brankar dan dibawa ke ruang tindakan khusus melahirkan. Dokter melakukan pemeriksaan dalam, Arjuna sempat meringis melihat istrinya yang tidak nyaman saat diperiksa.
“Wah, sudah pembukaan lima,” ujar dokter.
“Hahh, pembukaan? Maksudnya gimana, dok?”
Dokter tersenyum lalu menjelaskan singkat maksud pembukaan dalam proses melahirkan. Arjuna tidak membawa Zea pulang, lebih baik menunggu di rumah sakit dengan peralatan dan tenaga medis yang lengkap. Sudah hampir tiga jam Zea merasakan kontraksi, dengan rasa sakit yang hilang timbul. Bahkan saat sakit itu muncul, Arjuna harus sabar mendengar keluhan dan cengkraman tangan istrinya.
“Biar aku saja, Cuma ganti dengan yang bersih. Aku ahlinya,” sahut Arjuna.
“Ish, panggil perawat. Takutnya ini air ketuban.”
Arjuna masih tidak percaya dengan bayi mungil yang berada di pelukannya. Melihat perjuangan Zea melahirkan bayi mereka, bukan hanya rasa sakit yang wanita itu rasakan tapi perjuangan antara hidup dan mati.
Bahkan Arjuna menitikan air mata ketika Zea berhasil mengeluarkan bayinya.
“Terima kasih sayang,” bisik Arjuna sambil mendaratkan kecupan di kening Zea.
Pria itu menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan seorang wanita ketika melahirkan, merasa sangat bersalah pada mendiang ibunya atas kesalahan di masa lalu, juga berdosa pada wanita yang pernah dipermainkan olehnya.
“Kalau lihat kamu tersiksa begini, cukup satu aja. Rasanya aku tidak sanggup melihat kamu kesakitan seperti tadi,” tutur Arjuna.
“Eh. Yang bilang sakit siapa? Biasa aja ah, aku masih sanggup kok,” sahut Zea.
...***...
“Opa,” teriak bocah berumur lima tahun.
Omar tersenyum menyambut kedatangan anak dan menantunya, bahkan dia sudah berdiri di beranda rumah.
__ADS_1
“Deva, hati-hati.” Arjuna yang menurunkan Emilio putra keduanya yang saat ini berumur dua tahun. “Ajak adikmu,” titah Arjuna membuat Deva berbalik dan meraih tangan Emil lalu berjalan menghampiri Omar.
“Cucu-cucu Opa, apa kabar?” Emil langsung diraih ke dalam gendongan dan tangan Deva digenggam lalu beranjak masuk.
“Pelan-pelan,” ucap Arjuna memegang tangan Zea, perlahan wanita itu keluar dari mobil.
Saat ini Zea sedang mengandung lagi bahkan perutnya sudah terlihat besar dengan usia kehamilan tujuh bulan. Terdengar keriuhan dari dalam rumah, karena kedatangan mereka.
“Opa, aku akan punya adik perempuan,” ujar Deva pada Omar.
“Owh ya, kamu senang?”
“Iya, dia pasti cantik seperti mommy.”
Omar begitu bahagia melihat Zea akhirnya bahagia dengan keluarganya. Tidak menyesal menyerahkan tanggung jawab putrinya pada seorang Arjuna.
“Benar perempuan?” tanya Mirna. Diakui atau tidak, dia ikut berbahagia dengan kehadiran Zea beserta keluarga kecilnya. Putrinya Lea tidak berhasil dengan rumah tangganya, jangankan mendapatkan cucu bahkan Lea saat ini masih menjadi tanggung jawab Omar.
“Menurut USG, ya begitu,” jawab Zea.
“Kalau adik bayi yang keluar nanti bukan perempuan, Daddy dan Mommy akan buat adek bayi lagi,” ujar Deva.
“Mommy, ba …yi,” celoteh Emil.
“Tidak, laki-laki atau perempuan sama saja. Sudah cukup Mommy melahirkan, tidak akan ada adek bayi lagi,” tutur Arjuna.
“Ayo, kita makan dulu,” ajak Omar pada kedua cucunya diikuti oleh Mirna.
“Kalau benar bukan perempuan, aku tidak boleh hamil lagi?” Zea mempertegas pernyataan Arjuna
“Tidak, sudah cukup. Keberadaan kalian sudah membuat hidupku sempurna.”
“Masa?”
“Hm, makin lama aku makin cinta,” bisik Arjuna sambil memeluk Zea.
“Aku lebih cinta.”
...~ TAMAT ~...
Haiiii, akhirnya cerita Arjuna dan Zea tamat. Terima kasih yang sudah membaca dan mendukung kisah ini, mohon maaf jika alur atau karakter berhasil membuat kalian emosi. Tinggalkan hal negatif yang tersirat dan ambil hikmah dari kisah mereka. Cerita ini murni hasil karangan dan untuk hiburan semata.
Sekali lagi terima kasih dan sehat selalu untuk kita semua.
#Jangan lupa nantikan Kisah Aiden mengejar cintanya (Kelanjutan Pesona Cinta Majikan)
__ADS_1