Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Dengan Atau Tanpa Restu


__ADS_3

Zea menggeser duduknya agar bisa menatap Arjuna. Tatapan pria itu seakan memohon agar Zea menerima lamarannya. Alih-alih menjawab, Zea kembali menoleh pada Ayahnya.


“Ayah tahu dia siapa?”


“Tahu,” jawab Omar pendek.


“Ini tuh nggak semudah yang Ayah duga, kamu juga kenapa sih suka seenaknya sendiri,” ujar Zea pada Arjuna.


“Niat baik tidak boleh ditunda-tunda,” sahut Arjuna.


“Kita lanjutkan ini nanti, aku harus bicara dulu dengan kamu empat mata,” tutur Zea.


“Boleh,” cetus Arjuna dengan senyum menawannya.


“Ayah serius dia atasannya Kak Zea?” tanya Lea memastikan kembali apa yang Omar katakan.


Omar berdecak mendengar pertanyaan Lea, untuk apa juga dia harus memastikan siapa Arjuna karena tidak ada urusan dan hubungan dengan Lea.


“Ayo, kita pergi,” ajak Zea sambil menarik tangan Arjuna karena pria itu enggan beranjak.


“Lihat Om, bukan hanya aku yang ngebet ingin cepat nikah,” canda Arjuna sambil terkekeh.


Plak


Zea mendaratkan tangannya pada lengan Arjuna.


“Jangan ngadi-ngadi kamu, ayo,” ajak Zea lagi.


Arjuna pamit pada keluarga Zea karena kekasih hatinya mengajak pergi dengan tergesa.


“Kita mau kemana?”

__ADS_1


“Cari tempat untuk bicara,” jawab Zea tanpa menatap Arjuna. Keduanya sudah dalam mobil meninggalkan kediaman Omar.


“Apartemenku atau apartemen kamu?” tanya Arjuna hati-hati, khawatir wanita di sampingnya akan menjawab dengan emosi, pekikan atau bahkan teriakan. Benar saja, Zea menoleh dengan tatapan dan raut wajah garang.


“Tempat yang ada orang lain walaupun kita bicara serius. Usulan kamu itu aneh, karena ada ide mesum di otak kamu,” ejek Zea dan di jawab Arjuna dengan senyuman.


“Normal dong, apalagi aku sudah merasakan … kamu. Rasanya nagih dan ….”


“Bisa diam nggak?” Zea memotong ucapan Arjuna yang mengarah pada kejadian malam itu. “Aku tuh rasanya mau unyeng-unyeng wajah kamu kalau pergi aku cakar sekalian.”


“Maaf sayang, aku khilaf dan emosi. Sungguh, aku begitu karena kamu Zea. Kalau di kasih kesempatan lagi aku nggak nolak loh, atau kita cepat nikah ya.”


Zea menghela nafasnya mendengar keinginan Arjuna. Entah apa yang membuat pria itu benar-benar bucin seperti ini . Jangankan untuk membenci Arjuna, untuk mengusir agar tidak ada di depanku saja rasanya sulit.


“Terus, ini jadinya kita kemana?” tanya Arjuna masih fokus pada kemudi.


“Café terdekat aja.”


“Kenapa? Takut kekasih kamu tahu masalah ketidak normalan kamu.”


 “Aku normal Zea, buktinya malam itu aku berhasil bikin kamu termehek-mehek dan kekasih aku ya kamu,” ujar Arjuna.


Zea merasa makin lama Arjuna makin menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Dia ingin tetap diterima sekaligus dimaafkan oleh Zea.


“Menepi aja, nggak usah kemana-mana. Kita bicara di mobil,” usul Zea         


“Nggak seru dong, kalau nanti kita mau berubah jadi genre romantis gimana?” tanya Arjuna.


Arjuna pun akhirnya menepikan mobilnya dan melepas seatbelt lalu menggeser duduknya agar bisa berhadapan dengan Zea.


“Gimana sayang, apa jawabanmu?”

__ADS_1


“Arjuna, ini tidak sesimpel apa yang ada di pikiran kamu,” sahut Zea.


Bagaimana Zea tidak berpikir jauh ke depan, kalau dia ada perjanjian dengan Papi Arjuna untuk tidak mendekati Arjuna apalagi menjalin hubungan.


“Kenapa? Papi larang kamu berhubungan denganku?” tanya Arjuna yang sukses membuat Zea terkejut karena Arjuna sudah mengetahui apa yang dia tutupi selama ini.


“Ka-kamu sudah tahu?”


 "Tahu apa?" tanya Arjuna yang refleka mendapatkan pukulan di lengannya.


"Aku serius Arjuna. Kamu nggak ngerti rasanya tuh di sini sesak," ujar Zea sambil menepuk dadanya pelan. "Aku harus menahan perasaan bahkan aku jadi benci karena kamu jahat udah ...."


Zea menghentikan ucapannya lalu memukuli dada Arjuna, pria itu diam saja membiarkan cintanya meluapkan perasaan yang semua karena ulah dirinya.


Saat Zea mulai terisak, Arjuna meraih kedua tangan Zea dan mencium punggung tangan itu.


"Sayang, maafkan aku," ucap Arjuna lirih. "Sungguh aku khilaf dan aku serius ingin menikahimu."


"Tapi nggak bisa," sahut Zea. "Aku sudah janji dengan Pak Abraham kalau aku tidak akan berhubungan dengan putranya."


"Kenapa kamu mengiyakan, permintaan konyol itu?"


"Karena aku hanya kenal Juna si OB bukan anaknya Pak Abraham," ketus Zea sambil memgusap air matanya.


Arjuna menghela pelan, ternyata ulahnya menyamar malah menyusahkan Zea juga. Benar kata Leo kalau dia hanya membuat posisi Zea semakin sulit.


"Urusanku dengan Mauren sudah selesai, kita akan menikah dengan atau tanpa restu Papi."


"Tapi ...."


...*****...

__ADS_1



__ADS_2