Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Semoga ....


__ADS_3

“Pak Arjuna, dokumen ini bukan milikku dan bukan untukku. Walaupun Anda tidak ingin tanda tangan itu tidak masalah karena bukan aku yang rugi,” jelas Zea.


Arjuna berdecak.


“Tapi kamu asistenku, memastikan apa yang aku lakukan itu tidak merugikan dan mengacaukan apapun,” bela Arjuna.


“Sudah pasti kacau, otak anda sudah bergeser dari tempatnya makanya … ahhh,” pekik Zea karena tubuhnya sudah ditarik dan terjatuh di pangkuan Arjuna.


Zea akan beranjak tapi pinggangnya ditahan oleh Arjuna.


“Pak Arjuna, tolong lepaskan tanganmu dari pinggangku.”


“Tidak akan, sebagai seorang Asisten kamu agak kurang ajar. Mana ada asisten mengancam atasannya,” keluh Arjuna semakin merapatkan tubuh Zea ke arahnya. Bahkan saat ini wajah Arjuna berada tepat di depan dada Zea.


Tangan Zea mendorong wajah Arjuna agar menjauh.


“Zea kamu jangan kurang ajar, aku ‘kan atasanmu.”


“Tapi atasanku kurang waras, aku yakin hanya ada adegan mesum di kepalanya.”


“Kamu ….”


Terdengar ketukan pintu, membuar Arjuna menghentikan ucapannya. Zea tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung beranjak dari pangkuan Arjuna dan meninggalkan pria yang memanggil-manggil nama Zea.


...***...


Sudah hampir seminggu Zea bekerja sebagai asisten Arjuna dan pria itu selalu mencari kesempatan untuk mendekati Zea bahkan tidak segan sesekali memeluknya.


Berbagai macam ide selalu Arjuna gunakan untuk mengetahui passcode pintu apartemen Zea. Dia masih saja dengan percaya diri kalau Zea hanya berpura-pura biasa saja tapi sebenarnya masih memendam perasaan untuknya.


Arjuna mengabaikan apa yang dikatakan Leo bahwa kemungkinan Ayahnya mengawasi segala tingkah laku Arjuna. Entah apa lagi yang direncanakan oleh Abraham. Pria tua itu menganggukkan kepala saat seseorang melaporkan bagaimana tingkah Arjuna selama ini.

__ADS_1


“Maksudmu, Arjuna yang selalu menggoda dan mendekati wanita itu?”


“Betul, Pak.”


Abraham menghela pelan. Mau tidak mau dia harus mengakui kalau Arjuna memang playboy dan brengsek sejak dulu.


“Awasi terus, jangan sampai mereka semakin dekat. Wanita itu sudah berjanji tidak akan dekat apalagi menyukai Arjuna.”


Sedangkan di perusahaan, Zea hari ini izin karena harus menghadiri sidang perceraiannya. Hanya Leo yang mengetahui hal tersebut.


Saat Arjuna tiba di kantor dan tidak melihat Zea di kursi kerjanya dia terlihat kecarian. Memastikan Zea tidak ada di ruangannya maupun di toilet.


“Ke mana Zea, ya,” gumam Arjuna.


Arjuna mendatangi Leo, duduk di sofa ruangan sahabat sekaligus asistennya.


“Lo tahu Zea ke mana?”


“Pekerjaanku berhubungan dengan dia bahkan gue lebih semangat kalau ada dia. Lo jomlo mana paham masalah beginian,” ejek Arjuna.


“Memang kamu yakin Zea mau sama kamu. Yang ada kita sama-sama jomlo.”


...***...


Zea bersama penasehat hukumnya menunggu giliran jadwal sidang. Dalam keadaan menunggu, terlintas dibenak Zea hidup yang sudah dia lewati. Pernikahan dengan Gavin bahkan saat ini sedang menunggu ketuk palu perceraian. Dua tahun berstatus sebagai istri Gavin hanya merasakan sakit hati dan kecewa.


Ketika dia merasakan benih cinta dan terpesona pada seseorang, dia harus kembali bersabar karena kisahnya harus berhenti bahkan belum dimulai.


“Zea.”


Mendengar namanya disebut, Zea pun menengadah. Sudah ada Gavin berdiri dihadapannya menatap dengan tatapan sayunya.

__ADS_1


“Zea, masih ada waktu untuk kita ….”


“Tidak, Mas. Biarkan terjadi, sudah jalannya begini.”


“Tapi, Zea.”


“Mas, tolong ….” Zea tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia tidak ingin bersedih dan terlihat lemah di depan siapapun.


Gavin dan Zea yang didampingi penasehat hukum masing-masing akhirnya mendengarkan putusan perceraian pasangan itu dan ketukan palu resmi menandakan kalau Zea dan Gavin bukan lagi pasangan suami istri.


Saat menerima permintaan Ayahnya untuk menikah dengan Gavin, Zea tidak menolak. Menduga pernikahan itu akan berakhir bahagia walaupun awalnya mereka tidak saling mengenal apalagi mencintai. Seiring berjalannya waktu akan membuat rasa cinta itu tumbuh dan menguat, ternyata itu adalah harapan yang tidak menjadi nyata.


Zea menunduk, dia sudah berusaha tegar tapi air matanya tetap jatuh. Gavin menghampiri Zea dan meraih tubuh wanita yang bukan lagi menjadi menjadi istrinya ke dalam pelukan.


“Maafkan aku Zea, maafkan aku sudah memperlakukanmu tidak baik,” bisik Gavin.


Zea menatap wajah Gavin, merapikan pakaian Gavin dengan tangan yang agak kusut karena pelukannya. “Hiduplah dengan baik dan cari pendamping hidup yang bisa membahagiakan dan merawatmu dengan baik,” tutur Zea.


“Tidak akan ada, karena hanya kamu yang bisa melakukannya.”


Zea mengulurkan tangannya, Gavin pun menjabat tangan Zea.


“Aku berharap masa depan kita adalah bersama. Saat ini hanya kerikil untuk membuat kita bisa bersama lagi," harap Gavin yang disambut Zea hanya dengan senyuman.


Zea sudah berada dalam mobilnya, mengemudi dengan tujuan entah ke mana. Pikirannya sedang kalut dan dia belum mau pulang.


Sempat menepi untuk membuka ponselnya yang sejak tadi bergetar. Ternyata pesan dari Abraham yang meminta Zea untuk mengatur pertemuan dengan keluarga Mahendra.


Tentu saja Zea tahu maksud Abraham, yang ingin membicarakan kelanjutan hubungan Arjuna dengan Mauren.  Kenapa harus Zea, karena Abraham ingin menunjukan bahwa dia bukan wanita yang layak untuk menjadi menantu keluarga Abraham juga untuk mengingatkan mengenai perjanjiannya dengan Abraham.


“Semoga Mauren bisa membuatnya tidak menggangguku lagi,” gumam Zea.

__ADS_1


__ADS_2