
Sesaat baik Arjuna dan Zea terpaku dalam diam. Bagaimana mungkin Juna yang Zea kenal sebagai seorang OB berada di ruangan yang sama dengannya bahkan berstatus putra Abraham. Zea sudah mulai mempersiapkan hati walaupun dia nanti berjodoh dengan Juna yang hanya berprofesi sebagai OB, tapi ....
Zea membalik tubuhnya dan membuang pandangan dari Arjuna yang masih memandang ke arahnya. Dia butuh penjelasan, otaknya tiba-tiba nge-lag untuk menduga-duga terkait siapa sebenarnya Juna atau Arjuna.
"Zealia Cinta, mulai hari ini kamu adalah asisten Arjuna, putraku," titah Abraham.
"Papi," panggil Arjuna.
Papi, dia panggil pria itu Papi. Ada apa dengan kalian, untuk apa selama ini kalian membohongiku, batin Zea.
Arjuna kembali memandang wanita di sampingnya yang tidak menoleh sedikitpun dan teringat pertemuan dengan Papinya tadi pagi.
"Untuk apa Papi panggil aku pulang?" tanya Arjuna.
Abraham terkekeh mendengar pertanyaan Arjuna. Dibalik sikap kasar dan tidak peduli, Arjuna masih mencari tahu dan memastikan keadaan Abraham. Artinya Arjuna memang menyayangi Abraham, hanya dengan cara yang berbeda.
"Ini tentang pengganti Papi," ujar Abraham.
“Owh. Bukannya ada Zea yang sudah Papi percaya untuk menggantikan posisi Papi?”
Abraham menghela nafasnya.
“Awalnya begitu, tapi saat ada pemberitaan mengenai perceraian wanita itu dengan suaminya apalagi ada nama Papi terkait di sana. Papi jadi ragu, karena pemimpin baiknya memang bukan perempuan.”
“Lalu, maksud Papi panggil aku ….”
__ADS_1
“Semua yang Papi punya sudah pasti untuk kalian,” sela Abraham. “Arjuna dan Almira. Lalu kepada siapa Papi harus tunjuk pengganti kalau bukan kamu,” ungkap Abraham dan tentu saja membuat Arjuna terkejut.
Arjuna yang awalnya sangat penasaran dengan ide Abraham yang memilih Zea sebagai penggantinya bahkan ingin sekali merebut posisi itu, tapi kini berubah haluan. Dia tidak tertarik bahkan enggan menerima pelimpahan tanggung jawab yang pernah diharapkan.
“Aku sudah punya perusahaan sendiri, walaupun belum sebesar yang Papi miliki. Pilih saja Leo atau salah satu direktur yang lebih kompeten daripada Zea.”
Abraham menceritakan kondisi perusahaan Ayah Zea, di mana dia menjadi pahlawan keterpurukan keluarga Omar. Arjuna yang baru mengetahui mengenai hal itu, menyimak benar penjelasan Papinya.
“Papi sudah bantu Zea, sekarang kamu bantu Papi. Karena Papi yakin kamu akan libatkan Papi kalau tahu Zea dalam kondisi terdesak.”
Arjuna terkekeh pelan, “Ternyata Papi licik juga, aku yakin Papi pasti ada perjanjian juga dengan Zea. Tidak mungkin terlibat cuma-cuma,” tutur Arjuna.
“Terkadang kita harus menggunakan sedikit kecurangan untuk mendapatkan solusi seimbang. Papi senang kamu pun tenang,” ungkap Abraham.
“Kalian siap?” tanya Abraham menyadarkan Arjuna dari lamunannya. “Leo, kita bisa mulai acaranya.”
“Maaf, Pak. Tentu saja saya sudah siap, tapi ada yang harus saya pastikan sebelum acara dimulai. Jadi saya ….”
“Silahkan, laksanakan tugasmu. Aku tahu kamu pekerja yang berdedikasi tinggi,” ujar Abraham menyela ucapan Zea.
Zea mengangguk pelan lalu meninggalkan ruangan dimana Abraham, Leo dan Arjuna berada.
Terdengar langkah kaki Zea dengan heels-nya semakin menjauh. Zea bergegas pergi karena tidak tahan menahan emosi yang akan meledak. Memasuki toilet dan menutup pintu salah satu bilik. Jatuh duduk di atas kloset yang tertutup, kedua tangannya menutup mulut menahan suara tangisannya.
Merasa sangat bodoh dan hancur dengan kenyataan yang baru saja terungkap. Merasa hina karena sudah menukar hidup dan kebahagiaannya dengan perjanjian yang bukan untuk kepentingannya. Merasa kebahagiaan karena keadilan Tuhan yang dia rasakan akhir-akhir ini hanyalah semu.
__ADS_1
Zea yakin penampilannya kini sudah sangat berantakan, tangisannya tidak dapat dibendung. Sesekali dia menggigit bibirnya agar air matanya berhenti tapi percuma.
“Bunda … tolong aku,” lirih Zea di sela isak tangisnya. “Bawa aku, Bun. Aku tidak sanggup, mereka jahat dan dunia ini terlalu kejam untukku.”
Gumpalan tisu berserakan di lantai, yang mana digunakan untuk menyeka air mata dan cairan dari hidung saat Zea menangis. Ponselnya sejak tadi bergetar, panggilan bergantian antara Arjuna dan Leo.
Menyadari kalau acara akan segera dimulai dan Zea sudah berjanji untuk tetap setia mengabdi pada Abraham sebagai asisten Arjuna Kamil.
Zea keluar dari bilik toilet, saksi bisu kesedihan dan kepedihan hatinya. Bergegas menuju ruang panitia.
“Ibu Zea, dicari Pak Leo,” ujar Nia. Zea memperbaiki riasannya lalu menarik nafas panjang dan memukul dadanya pelan agar lebih tenang.
“Ibu Zea, baik-baik saja ‘kan?” tanya Nia.
Zea tidak menjawab, meninggalkan Nia menuju ballroom.
“Ibu Zea, ditunggu Pak Leo,” ujar Ucup yang melihat Zea.
Zea hanya tersenyum tipis lalu bergegas menghampiri pria yang sedang memberi arahan agar acara segera dimulai. Tanpa diduga, Leo menarik tangan Zea dan mereka menjauh dari keramaian.
“Aku sudah pernah bilang, kalau kamu akan menyesali keputusanmu,” cecar Leo.
“Bisakah malam ini kita fokus pada acara. Aku sudah terikat sama seperti Pak Leo yang harus menyerahkan hidup mengabdi pada Pak Abraham. Jadi, tidak perlu lagi bahas perjanjian itu. Karena saya yakin Pak Leo menjadi bagian dari kebohongan Juna … Arjuna Kamil,” tutur Zea. “Aku merasa tidak punya muka dan merasa dibodohi, tapi tenang saja karena aku akan bersikap profesional. “
“Zea … Arjuna tidak ….”
__ADS_1
“Cukup. Bisa kita mulai acaranya?”
Leo menyadari kalau Zea terluka. Walau bibir mengucap penuh keyakinan, wajah dan gesture tubuhnya terlihat baik-baik saja tapi tatapan mata Zea mengisyaratkan kelemahan seorang Zealia Cinta.