
“Sial,” maki Arjuna lalu mendorong Mauren bahkan wanita itu terjerembab dan mengaduh.
“Arjuna, kamu kok tega sih.”
Arjuna mengabaikan Mauren, bergegas untuk menemui Zea. Tidak ingin wanita yang dicintainya itu salah paham dengannya. Saat Zea masuk ke dalam ruangan tepat ketika Mauren duduk di pangkuan Arjuna, bahkan memeluk manja dan mencium pipi Arjuna.
“Zea,” panggil Arjuna sudah berada di samping wanita yang dimaksud.
“Maaf Pak, berkas ini harus segera di approve sudah ditunggu oleh divisinya dan setelah ini saya ingin lekas pulang,” tutur Zea.
Arjuna meraih ballpoint di meja Zea lalu membuka dokumen yang dimaksud dan membubuhkan tanda tangan.
“Ini biarkan OB yang mengantar ke divisi kamu ikut aku,” titah Arjuna.
“Arjuna, kita ‘kan ada janji,” seru Mauren yang berdiri di tengah pintu.
Zea meraih tasnya dan membawa dokumen yang akan diantar sendiri.
“Selamat sore Pak,” ujar Zea meninggalkan Arjuna yang geram dengan tingkat Mauren. Arjuna menatap kepergian Zea.
Untuk saat ini aku akan biarkan kamu, tapi setelah aku bereskan wanita ular ini kamu tidak akan lepas dariku Zea, batin Arjuna.
Arjuna kembali ke ruangannya diikuti oleh Mauren.
“Diam di sana,” titah Arjuna saat melihat Mauren akan mendekat ke arahnya. “Aku serius Mauren, bujuk Ayahmu untuk menghentikan ide bodoh orangtua kita atau aku akan sebarkan video mesum kamu,” ancam Arjuna.
“Atau aku kirimkan saja video ini ke Ayahmu, bagaimana?”
“Tapi Arjuna, bukankah kita pernah saling menyayangi? Apa susahnya kita kembali bersama,” jelas Mauren. “Aku bisa berubah, asal kamu mau melanjutkan perjodohan ini,” serunya lagi.
“Dengar, kita pernah bersama bukan karena saling mencinta. Itu hanya kenakalan masa lalu kita dan aku tidak peduli kamu akan berubah atau tidak. Sampai besok pagi aku tidak mendengar apapun dari Papi terkait urusan perjodohan kita, siap-siap adeganmu dinikmati pengguna media sosial.”
“Arjuna ….”
“Pergilah, aku hanya ingin memastikan hal itu bukan ingin bersenang-senang denganmu.”
Mauren meninggalkan Arjuna sambil menghentakkan kakinya. Saat melewati lobby, masih ada Zea di sana. Mauren pun menghampiri rivalnya.
“Sebenarnya apa rencanamu, kenapa serakah dengan mendekati Pak Abraham juga Arjuna?” tanya Mauren.
“Aku tidak tertarik menjawabnya,” sahut Zea lalu beranjak meninggalkan mantan adik iparnya. Tanpa diduga, Mauren menarik cepolan rambut Zea dari belakang.
“Aaaa,” teriak Zea sambil memegang rambutnya yang terasa sangat nyeri, seakan kulit kepalanya mau lepas. “Lepaskan!” teriak Zea.
__ADS_1
“Kamu memang pantas mendapatkan ini,” ujar Mauren bahkan semakin menarik erat membuat kepala Zea semakin tertarik ke belakang.
Kejadian itu membuat heboh suasana di lobby, beberapa orang berusaha memisahkan Mauren dan Zea.
“Lepaskan aku,” teriak Mauren yang sedang ditahan oleh security setelah berhasil dilerai. “Dia pantas mendapatkan itu, dasar jal4ng.”
Zea terduduk di lantai sambil memegang kepalanya yang terasa sakit sambil terisak.
“Ada apa ini?” tanya Leo yang melewati lobby dan melihat ada keramaian, ternyata ada Zea dan Mauren juga.
Salah satu security menceritakan kronologis kejadian dimana Zea mendapat jambakan dari Mauren. Leo pun menghampiri Zea dan berjongkok di hadapan wanita itu.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Owh, jadi semua petinggi di perusahaan ini sudah kamu dekati ya? Bener-bener murahan, untung aja udah bukan ipar aku lagi. Malu banget punya ipar kayak dia,” ejek Mauren.
Zea beranjak berdiri di bantu oleh Leo.
“Saya nggak apa-apa, tolong Pak Leo urus perempuan itu. Mudah-mudahan saya nggak ada niat untuk melaporkan dia ke polisi. Ini termasuk penyerangan dan penganiayaan,” tutur Zea.
Setelah kepergian Zea, Leo menghampiri Mauren. “Aku harap ini terakhir kalinya kamu menginjakan kaki di sini, kamu akan masuk ke dalam list tamu yang tidak diterima di sini.”
...***...
Zea berjalan di taman kota yang cukup ramai walaupun hari sudah gelap. Tempat yang sering dikunjungi Zea saat masih menjadi istri Gavin, karena letaknya tidak jauh dari apartemen Gavin. Ternyata akhir-akhir ini Gavin pun sering mendatangi tempat itu, termasuk saat ini.
“Zea,” panggil Gavin sambil menepuk pundak wanita itu.
“Mas Gavin,” sahut Zea.
Akhirnya kedua insan itu duduk berdampingan menatap danau buatan yang diterangi oleh lampu taman. Keduanya melamun sampai akhirnya Gavin menanyakan mengapa Zea ada di tempat itu. Zea hanya terkekeh pelan, kemudian terisak. Dia sudah tidak tahan dengan beban yang dirasakannya saat ini.
Gavin yang merasa iba, merangkul bahu wanita yang pernah menjadi istrinya dan berusaha menenangkannya. Tanpa mereka sadari ada seorang pria yang berkeliling terlihat mencari seseorang dan terpaku saat melihat momen Gavin merangkul Zea.
Kedua tangannya mengepal kesal, apalagi Gavin mengusap punggung Zea. Pria itu adalah Arjuna, dia memang mengikuti Zea dan hampir kehilangan jejak wanita itu.
Tidak lama setelah Leo mendapati Zea dan Mauren, Arjuna pun tiba di lobby mendengarkan singkat apa yang diceritakan oleh Leo dan langsung mengejar Zea.
“Apa yang mereka lakukan di sini?” gumam Arjuna langsung berjalan mendekat. “Ikut aku,” titah Arjuna dengan suara lantang dan menarik tangan Zea.
“Arjuna.”
“Arjuna, hentikan. Kamu menyakiti Zea,” ujar Gavin.
__ADS_1
“Jangan ikut campur, sebaiknya lo urus adik lo yang udah bikin Zea kayak gini,” pekik Arjuna.
“Mauren? Kamu kenapa Zea?” tanya Gavin.
“Zea urusan gue,” ujar Arjuna lalu berjalan sambil memastikan tangan Zea tidak lepas dari cengkramannya.
“Arjuna lepaskan aku,” titah Zea saat Arjuna membuka pintu mobil untuknya.
“Masuk!”
“Tapi ….”
“Masuk!” titah Arjuna dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
Zea hanya bisa pasrah dengan titah Arjuna, pria itu sedang emosi dan tidak ingin menambah keruh suasana hati Zea. Mobil yang dikendarai Arjuna menuju apartemennya dan tepat ketika mobil tersebut memasuki kawasan apartemen yang terlihat begitu mewah, Zea pun bertanya mengapa dia dibawa ke tempat itu.
“Sejak tadi aku sangat khawatir karena ulah Mauren, ternyata lo malah asyik sama mantan lo itu,” tutur Arjuna yang sudah menghentikan mobilnya. “Ayo turun,” titah Arjuna lagi.
“Aku mau pulang,” ujar Zea yang sudah menginjakan kakinya di basement.
Arjuna menghampiri Zea dan menarik tangan wanita itu lalu berjalan menuju lift.
“Arjuna ….”
“Diam atau aku gendong,” ancam Arjuna lalu keduanya melangkah memasuki lift yang sudah terbuka.
Helaan nafas terdengar dari bibir Zea, karena Arjuna semakin menunjukkan sifat posesif dan memaksa. Walaupun dia berbuat itu mengatas namakan cinta tapi Zea agak takut melihatnya. Dia pernah merasakan kekerasan dalam rumah tangga saat bersama Gavin dan tidak ingin hal itu terjadi lagi bersama Arjuna.
“Arjuna lepaskan tanganku,” pinta Zea.
“Untuk membiarkan kamu pergi dan kembali dengan mantanmu?”
Zea menggelengkan kepalanya karena tidak mungkin dia melakukan hal itu. Dia sudah menutup buku kehidupan bersama Gavin dan berharap bisa bahagia bersama pria disampingnya walaupun rencana itu sepertinya mustahil.
Arjuna masih mencengkram lengan Zea, apalagi saat pria itu menekan passcode untuk mengakses pintu apartemen.
“Kenapa membawaku ke sini?” tanya Zea ketika Arjuna melepaskan cengkramannya dan menghempaskan Zea ke atas ranjang. Peringatan bahaya dari dalam tubuh Zea seakan berbunyi dan menandakan kalau dirinya berada dalam situasi berbahaya.
“Aku harus pulang,” ujar Zea menutupi rasa takutnya. Zea beranjak duduk dan hendak menurunkan kedua kakinya tapi Arjuna kembali membaringkan tubuh Zea dengan paksa lalu mengungkungnya.
“Hentikan, jangan membuatku takut,” pekik Zea.
“Aku akan memberikan hukuman untukmu sayang karena sudah berani bermesraan dengan pria lain,” cetus Arjuna.
__ADS_1
\=\=\=\=