Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Calon Mertua


__ADS_3

“Tumben ke tempat  beginian lagi, katanya udah insaf,” ujar Leo. Dia mendatangi sebuah klub karena permintaan Arjuna yang saat ini sedang menenggak isi gelasnya.


“Ada apa lagi sampai kalian tidak ke kantor?” tanya Leo yang masih belum dapat jawaban dari Arjuna. Pagi ini baik Arjuna ataupun Zea memang tidak terlihat di perusahaan.


Bagaimana tidak, setelah apa yang dilakukan oleh Arjuna pada Zea membuat wanita itu tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk melakukan apapun.


“Justru itu,” sahut Arjuna. “Bisa bantu gue, gue harus nikahi Zea secepatnya.”


“Arjuna, kita sudah bahas ini. Kalian bisa tunggu waktu yang lebih baik dan ….”


“Zea nggak bisa nunggu itu, gue udah ….” Arjuna kembali menyodorkan gelasnya pada bartender.


Tak.


Arjuna kembali meletakan gelasnya dan meminta bartender mengisinya.


“Sudah cukup,” bentak Leo pada Arjuna. “Besok pagi kamu harus ada di kantor, banyak hal yang harus kamu urus. Ingat Arjuna kamu ini CEO perusahaan Papi mu dan ada perusahaanmu juga yang harus diurus. Jangan karena perempuan kamu jadi lemah begini.”


“Tapi karena gue perempuan itu … Leo lo harus beneran bantu gue.”


...***...


Arjuna dan Leo sudah berada di ruang rapat, sejak dia datang pagi tadi belum melihat Zea. Padahal biasanya Zea selalu datang lebih pagi dari Arjuna. Berkali-kali Arjuna menghubungi Zea tapi tak ada jawaban, pesan pun tak ada yang dibaca.


“Apa lagi?” tanya Leo.


“Zea,” bisik Arjuna karena ruangan sudah lengkap dihadiri oleh para pejabat perusahaan didampingi oleh sekretaris mereka. “Dia nggak ada dan nggak jawab telpon gue.”


“Zea kirim pesan, dia sakit. Mungkin besok baru bisa masuk,” sahut Leo.


“Hah, sakit?” Arjuna teringat malam yang dia lewatkan bersama Zea, dengan pemaksaan. Apa hal itu yang membuat Zea sakit, apa dia sangat kasar sampai Zea dua hari ini tidak ke kantor dengan alasan sakit atau memang dia terpuruk karena ….


“Kita mau mulai, konsentrasi!” titah Leo.


Arjuna bisa bersikap profesional dengan memimpin rapat dengan baik. Pengalamannya di perusahaan sendiri tidak bisa diragukan lagi, tidak terlalu banyak kesulitan meneruskan posisi Abraham dan melanjutkan tongkat kepemimpinan.


Saat rapat berakhir, Arjuna berencana mengunjungi Zea tapi urung karena kehadiran Abraham di perusahaan. Entah apalagi yang Papinya inginkan atau ada hal apa sampai pria itu harus mengunjunginya.


“Aku nggak tahu ada keperluan apa sampai Pak Abraham datang ke sini,” ujar Leo. “Ini dadakan, aku baru tahu barusan.”


“Lain kali tempatkan anak buah lo jadi di sekitaran Papi, biar tahu semua aktivitasnya. Cerdas dikit dong,” ejek Arjuna. Keduanya baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju ruang kerja Arjuna.


“Kayak kamu cerdas aja. Otakmu pun isinya Zea doang, makanya bucin bikin orang nyebut amit-amit,” ejek Leo.


“Papi ngapain kesini nggak bilang, ‘kan bisa aku yang ke rumah,” ujar Arjuna yang sudah duduk di sofa tidak jauh dari Abraham, sedangkan Leo tetap berdiri.

__ADS_1


Abraham mengangkat tongkatnya dan akan memukul Arjuna yang ditepis oleh tangan. “Papi kenapa sih?”tanya Arjuna karena diperlakukan seperti bocah yang nakal dan diberi hukuman oleh orangtuanya.


“Kamu yang kenapa?  Mahendra memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan, apa yang sudah kamu lakukan hah?”


“Mereka sudah putuskan?” tanya Arjuna sambil bernafas lega.


“Apa yang sudah kamu lakukan sampai Mauren tidak ingin menikah denganmu?”


Arjuna berdecak.


Kenapa harus dia yang dipertanyakan dan dianggap bersalah, jelas Arjuna tidak ingin melanjutkan perjodohan karena tingkah Mauren. Bagaimana bisa dia menikah dengan perempuan yang biasa menghabiskan malamnya di night club.


Arjuna menyadari dia pun tidak lebih baik dari Mauren tapi dia sudah lama sadar sejak menemukan cintanya.


“Ini bukan tentang aku Pih, memang Papi mau punya menantu yang biasa berfoya-foya, mabuk dan tidur dengan pria random yang dia temui,” tutur Arjuna.


“Apa maksudmu?”


“Aku tahu siapa Mauren, Papi tidak perlu tahu detailnya. Aku sudah ikuti semua kemauan Papi, mulai dari pendidikan, pekerjaan sampai saat ini aku ada di sini karena kemauan Papi. Untuk masalah jodoh, biar itu jadi urusanku.”


“Maksudmu aku harus biarkan Zea menjadi menantuku?”


“Tentu saja, tidak ada wanita yang bisa menyadarkanku dan percaya akan cinta selain Zea.”


“Maaf Pak, saya hanya menjalankan tugas,” ujar Leo.


Abraham berdecak lalu meninggalkan Arjuna dan Leo.


“Jangan gegabah, sabar dan lihat situasi. Kita tidak tahu apa rencana Papimu selanjutnya,” terang Leo mengingatkan Arjuna.


“Ck, tapi aku harus tanggung jawab.”


“Tanggung jawab? Memang kamu hamilin Zea?”


“Iya ya, gimana kalau Zea hamil?” gumam Arjuna. Pria itu kemudian beranjak meninggalkan Leo.


Arjuna mengemudi dengan resah mengingat apa yang dilakukan pada Zea benar-benar  tidak terencana dan tanpa pengaman. Bagaimana kalau Zea hamil, tentu saja Arjuna sangat senang karena itu adalah peluang untuk memiliki Zea lebih besar.


“Shitt,” maki Arjuna ketika dia terjebak kemacetan. Saat ini arjuna menuju apartemen Zea, ingin menemui wanita itu dan menyampaikan kalau dia pasti bertanggung jawab baik itu Zea hamil ataupun tidak.


“Aish,” pekik Arjuna karena tidak dapat mengakses pintu apartemen Zea. “Zea, buka pintunya,” teriak Arjuna dan menekan bel berkali-kali termasuk memukuli pintu.


Zea bukan tidak ada di dalam, dia mengacuhkan kehadiran Arjuna dan tidak ingin bertemu dengan pria itu. Percaya dirinya tenggelam manakala Arjuna sudah merendahkan dirinya dengan merenggut apa yang dia miliki. Zea memang berstatus janda tapi dia sebelumnya dia masih suci sampai akhirnya Arjuna yang merusak semua.


Suasana di depan unit apartemen Zea kembali hening, ternyata pria itu sudah pergi. Zea bernafas lega karena tidak sampai didatangi oleh security yang menganggap Arjuna mengganggu kenyamanan para penghuni apartemen.

__ADS_1


Ternyata Arjuna menuju kediaman Omar, Ayah Zea. Sampai di kediaman orangtua Zea, arjuna di sambut oleh Ibu dan adik Zea.


“Kamu bukannya OB di kantornya Zea? Ada apa kemari?” tanya Ibu Zea sambil menatap Arjuna dari kepala sampai kaki. Penampilan Arjuna saat ini memang berbeda, walaupun jas dan dasi sudah dilepas dan dia tinggalkan di mobil tapi tidak mengurangi ketampanan Arjuna.


“Saya ingin bertemu dengan Ayah Zea,” pinta Arjuna.


“Siapa Bu?” tanya Lea yang berada di belakang tubuh Ibunya.


“Mau bertemu Ayahmu,” jawab Mirna.


“Oh, selingkuhannya Kak Zea,” ejek Lea.


Arjuna mencoba meredam emosinya dengan ejekan yang diterima dari Ibu dan adik Zea. Bagaimanapun dia hendak menemui Ayah Zea dan memohon restu dari pria itu bukan ingin menemui dua perempuan yang tahunya memanfaatkan orang lain yang mana ada dihadapannya.


“Apa Pak Omarnya ada?”


“Masuklah, nanti aku hubungi,” titah Mirna.


Saat Arjuna melangkah masuk dan duduk di salah satu sofa, Lea melihat mobil yang terparkir di carport kediaman Ayahnya.


“Itu mobil kamu?” tanyanya pada Arjuna. “Pasti boleh pinjam,” ejek Lea lagi.


Arjuna mengabaikan itu, dia hanya perlu menunggu. Cukup lama pria itu menunggu, akhirnya Ayah Zea pun tiba.


“Sore, Om. Saya Arjuna,” sapa Arjuna sambil mengulurkan tangan.


Omar mengernyitkan dahinya melihat siapa yang sudah menunggu dia lalu menjabat tangan Arjuna dan kembali mempersilahkan pria itu untuk duduk.


“Dia ingin bertemu Ayah, OB di tempat Zea bekerja. Ibu pernah bertemu dengannya bahkan sempat mengusir Ibu,” ujar Mirna mengadu pada Omar.


“Saya mengusir Ibu karena membuat keributan dan melukai Zea.”


“OB?” tanya Omar.


“Iya Yah, Kak Zea menceraikan Kak Gavin karena jadi simpanan pria tua pemilik perusahaan dan sekarang dekat sama OB ya dia itu,” tunjuk Lea pada Arjuna.


“Diam, tutup mulut kalian kalau tidak tahu apapun,” bentak Omar yang merasa heran kenapa istri dan putrinya menuduh Arjuna sebagai OB.


 


 


...******...


__ADS_1


__ADS_2