Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Gagal ....


__ADS_3

Zea keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe terkejut melihat Arjuna sudah berada di kamarnya bahkan berbaring di ranjang miliknya.


“Bagaimana kamu bisa masuk?”


“Arjuna,” ujarnya sambil menepuk dada seakan menunjukkan kalau dia hebat.


“Keluar!” titah Zea sambil menunjuk arah pintu.


“Zea, kita akan menikah. Aku hanya membiasakan diri selalu ada dekat kamu, sayang,” tutur Arjuna. Sungguh hanya sebuah alasan tidak masuk akal dan modus Arjuna agar bisa berdekatan dengan Zea.


“Terserah, apapun alasan kamu. Cepat pergi!”


Arjuna beranjak turun dari ranjang Zea, memandang wanita itu lalu berdecak sambil melangkah keluar dari kamar. Arjuna sendiri merasa aneh karena dia selalu ingin dekat dengan Zea, rasanya ingin segera menghalalkan wanita itu.


“Memang kamu nggak kangen aku?” tanya Arjuna yang sudah berada di tengah pintu.


“Nggak, jadi cepat keluar!”


“Peluk dulu ya,” pinta Arjuna.


“Nggak ada, keluar!”


Zea merasa lega setelah memastikan Arjuna sudah keluar dari apartemennya.


“Heran, tau aja passcode ku. Padahal sudah diganti,” ujar Zea. Segera mengotak-atik lagi mesin kunci otomatisnya untuk mengganti kembali kode pembuka pintu otomatis.


“Kok gagal terus,” gumam Zea. “Arjuna,” pekik Zea karena pria itu telah merubah hak akses hanya dirinya yang bisa merubah kode atau pin baru.


***


“Kamu jangan kangen ya,” ujar Arjuna pada Zea yang fokus pada layar komputernya. Leo sudah menunggu Arjuna di lobby, mereka akan bertemu dengan pihak rekanan. Namun, Arjuna masih berada di hadapan Zea.


“Pak Arjuna sebaiknya cepat turun, Pak Leo sudah menunggu,” titah Zea tanpa mengalihkan pandangannya.


“Kalau bukan untuk masa depan kita, aku malas loh urus-urus begini. Lebih baik aku di sini temani kamu kerja.”


Zea menoleh dengan menatap tajam Arjuna. “Cepat pergi atau aku minta Ayah batalkan semua rencana kamu,” ancam Arjuna.


“Ehh, jangan dong. Iya ini aku mau jalan,” seru Arjuna bergegas meninggalkan Zea.


Tidak lama setelah kepergian Arjuna, Zea dihubungi oleh resepsionis bahwa ada yang menunggunya di lobby. Zea sempat mengecek kembali jadwal janji temu untuk


Arjuna dan jelas hari ini tidak ada satupun janji temu di kantor.


“Mas Gavin,” ujar Zea saat melihat seorang pria yang sangat dia kenali.


Gavin yang mendengar suara Zea, langsung berdiri lalu menghampiri Zea. Melihat wajah itu, walaupun dengan penampilan yang tidak biasa karena Zea menggulung rambutnya dalam sebuah cepolan dan kaca mata menghiasi wajahnya.


“Zea, bisa kita bicara!”


“Tapi aku sedang kerja Mas,” sahut Zea.

__ADS_1


“Please Zea, tidak akan lama kok,” serunya lagi.


Mau tidak mau Zea akhirnya mengiyakan permintaan Gavin. Zea mengusulkan café yang tidak


jauh dari perusahaan, karena hal yang akan dibicarakan adalah masalah pribadi jadi Zea tidak ingin membicarakannya di kantor.


“Zea,” ujar Gavin membuka suara setelah keduanya menyebutkan pesanan hanya minuman saja. “Aku minta maaf atas sikapku saat kita masih terikat pernikahan,” tutur Gavin sambil menatap wajah Zea.


Cantik, sangat cantik. kenapa dulu, aku menyia-nyiakannya, batin Gavin.


“Sudah lewat Mas, dan aku sudah memaafkan Mas Gavin,” sahut Zea.


“Aku bermaksud mengajakmu untuk rujuk,” usul Gavin, tentu saja hal ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Zea. Bagaimana bisa pria itu malah mengusulkan rujuk, sedangkan Zea sedang dalam hubungan bersama Arjuna. Namun, Zea mengakui walaupun dia tidak dalam hubungan siapapun tidak akan menerima ajakan Gavin untuk kembali rujuk.


“Maaf Mas, aku tidak bisa,” sahut Zea.


“Aku sudah bertemu dengan Ayahmu dan dia menyerahkan sepenuhnya keputusan ini kepadamu Zea.”


“Beliau mengatakan begitu karena semua akhirnya aku yang menjalankan,” sahut Zea.


“Tapi aku serius, coba kamu pikirkan lagi Zea.”


Zea kesal karena Gavin begitu memaksa dengan kehendaknya, walaupun Zea sudah menyampaikan penolakan dengan alasan yang masuk akal. Pertemuan sudah berakhir, Zea pun sudah kembali ke meja kerjanya dan saat ini sudah hampir jam makan siang.


“Hah, tadi aja aku sekalian beli makan siang ya. Udah begini malas keluar lagi,” gumam Zea lalu beranjak menuju pantry dan membuat minuman sereal lalu menikmatinya sambil fokus pada layar ponsel.


“Mbak Zea, dipanggil Pak Arjuna,” ujar salah satu OB.


Mengetuk pintu kemudian melangkah masuk, melihat Arjuna yang berdiri menatap jendela besar yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.


“Anda sudah kembali, apa mau aku pesankan makan siang?” tanya Zea.


Arjuna bergeming, lalu dia membuka suaranya.


“Untuk apa kamu menemui Gavin?” tanya Arjuna. Pria itu kemudian berbalik dan menatap Zea dengan raut wajah datar tidak seperti biasanya ceria dan bertindak semaunya.


“Atau kamu memang sering menemuinya di belakangku? Jangan-jangan kalian berencana kembali, apa namanya ya … ah rujuk.”


Zea menelan salivanya dan berusaha sabar menghadapi pria di hadapannya saat ini. Bagaimana tidak, Arjuna diam-diam mengawasinya tapi malah menyimpulkan sesuatu menurut persepsi dan penglihatan yang tidak bisa menyimpulkan dengan benar apa yang sudah terjadi.


“Apa ini yang membuatmu menjaga jarak denganku?”


“Kamu salah, seharusnya kamu tanya saja aku akan dengan sukarela menyampaikan kenapa aku akhirnya bertemu dengan Gavin daripada memata-mataiku tapi tidak mendapatkan informasi yang benar.”


“Cukup, sepertinya rencana menikah harus kita bicarakan ulang. Untuk apa aku kita menikah kalau  kamu masih ragu dan bahkan masih ada perasaan dengan mantanmu itu,” tutur Arjuna.


Zea mengalihkan pandangannya sekilas berusaha menahan emosinya, kedua tangannya merem4as rok yang dia kenakan.


“Tidak perlu,” ujar Zea. “Tidak perlu dibicarakan ulang, sebaiknya batalkan saja, aku tidak ingin menikah dengan pria plin plan apalagi selalu mengedepankan emosi. Masih ada yang harus saya kerjakan, permisi,” pamit Zea lalu meninggalkan Arjuna.


Saat Zea menutup pintu terdengar suara gaduh di dalam lalu wanita itu menepuk dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


Menjelang waktu pulang ....


“Zea, arjuna kemana sih?” tanya Leo sambil menghubungi seseorang melalui ponselnya.


“Masih di dalam, Pak.”


“Hah.” Leo bergegas masuk, entah apa yang dibicarakan oleh keduanya. Tidak lama kemudian, Arjuna melewati meja Zea dengan tergesa.


“Zea, minta OB selesaikan kekacauan di dalam.”


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


Leo sudah berjalan agak jauh tapi kembali lagi.


“Apa kalian ada masalah?”


Zea tidak menjawab, dia hanya menggeleng pelan dan tidak yakin.


“Ada masalah dengan perusahaan milik Arjuna, dia akan keluar kota beberapa hari ke depan. Kamu cek lagi jadwalnya seminggu ini. Yang urgent tandai dan sampaikan ke saya,” titah Leo.


“Baik, Pak.”


Entah masalah apa yang dihadapi oleh perusahaan Arjuna, yang jelas pria itu lebih dari satu minggu tidak muncul di kantor. Bahkan setelahnya Arjuna  hanya datang untuk pertemuan dengan klien urusan tender atau rapat manajemen.


Komunikasi antara Zea dan Arjuna masih buruk, keduanya hanya bicara urusan pekerjaan. Ditambah dengan kondisi Abraham yang drop dan berada di rumah sakit ditemani Almira membuat hubungan Zea dan Arjuna semakin tidak jelas.


...***...


Zea sudah berada di kediaman Ayahnya karena permintaan sang Ayah. Tentu saja Omar membahas rencana Arjuna yang pernah dia sampaikan sebelumnya.


“Seingat Ayah, ini sudah sebulan lewat dari waktu dia menemui Ayah bahkan rencana tanggal yang dia sebut kan waktu itu sudah lewat dan itu dua hari yang lalu,” tutur Omar.


“Ya nggak mungkinlah Yah, CEO mau sama dia yang sudah janda bekas istri orang,” ejek Lea.


“Tidak usah berharap banyak Yah,” ujar Zea sambil menunduk. “Banyak hal yang perlu dipertimbangkan  dan kami tidak ada restu dari Pak Abraham.”


Pembicaraan berikutnya didominasi oleh Lea dan Ibunya. Zea memijat kepalanya yang sejak kemarin terasa pening.


“Zea,” panggil Omar Melihat Zea berdiri dan terhuyung. “Kamu sakit?”


“Tidak, aku hanya perlu berbaring.” Zea pun menuju kamarnya di rumah itu. rasanya dia ingin segera pulang ke apartemen tapi fisiknya tidak memungkinkan.


“Kak Zea, lebih baik kembali lagi aja dengan Kak Gavin atau jadi simpanannya atasanmu dulu, daripada kaya sekarang tidak jelas,” ejek Lea sambil terkekeh saat Zea melewatinya.


“Lea,” hardik Omar.


\=\=\=\=\= Hmmm, konflik lagi yesss maklum udh mau tamat 🥰🥰


Mampir yukkk ke karya teman Aku, ceritany menarik loh, coba aja baca kalau nggak percaya.


__ADS_1


__ADS_2