Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Move On


__ADS_3

“Dia sudah dapat kunci kamar, bahkan sudah diantar ke kamarnya tapi nggak cocok. Lalu turun lagi minta tukar, semua tipe kamar yang sama sudah full,” terang salah satu petugas resepsionis yang menunggu Zea di pintu lobby.


Langkah Zea terhenti saat melihat wanita yang masih berbicara sambil menunjuk-nunjuk petugas.


“Mauren.”


Zea bergegas karena sudah ada beberapa tamu berdiri minta di layani juga.


“Selamat siang, Nona. Bisa bergeser ke sebelah sini, biar tamu lain tetap bisa dilayani,” sapa Zea dengan senyum.


Wanita dihadapan Zea mengerutkan dahinya seperti mengenal petugas itu. Sambil bersedekap dan memandang Zea.


“Kamu Zea ‘kan?”


“Betul, saya Zealia Cinta. Nona Mauren, kamar anda sudah disiapkan sesuai dengan pesanan anda. Karena saat ini sudah full untuk type sejenis jadi kami tidak bisa memberikan permintaan tukar.”


“Kalau gitu berikan aku kamar lain, type di atasnya ….”


Zea menatap tablet di tangannya, “Hm, kebetulan masih ada beberapa yang kosong. Kami bisa berikan tapi anda harus menambah selisih harga kamar.”


Mauren kembali berteriak dan sekarang menunjuk wajah Zea.


“Nona, janganlah anda permalukan diri sendiri. Saya rasa anda mampu untuk membayar kamar paling mewah pun, jadi silahkan terima kamar yang sudah kami siapkan atau tukar sesuai ketentuan.”


Mauren menatap Zea dengan setelan seragam hotel berwarna hitam dengan ikat kain bercorak di pinggang. Rambut yang ditata dengan cepolan rapi dan polesan make up.


Mauren akhirnya mengambil kunci kamar yang sebelumnya.


“Kenapa kamu bekerja di sini? Kalau saja kamu terima ajakan Kak Gavin untuk rujuk setahun yang lalu kamu tidak akan bersusah payah begini.”


“Selamat siang Nona Mauren, selamat menikmati pelayanan di hotel kamu,” seru Zea tidak ingin menanggapi ucapan Mauren.


Mauren terkekeh, “Kamu pikir akan dapatkan Arjuna, setelah Pak Abraham meninggal kamu malah di tendang ya,” ejek Mauren lalu menyeret kopernya menjauh dari Zea.


Sudah setahun aku pergi, lama juga ya tapi Pak Abraham? Apa benar dia sudah tidak ada, batin Zea.


“Ibu Zea terima kasih,” ujar salah satu resepsionis.


“Hm. Kerjakan saja tugas kalian dengan baik,” sahut Zea lalu melangkah menuju ruang kerjanya. Sebagai asisten manager dia mendapatkan kubikel yang bergabung dengan asisten lainnya.


Wanita itu memandang layar komputer di mejanya, membuka salah satu browser dan mencari tahu tentang Abraham. Zea bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika membaca berita kepergian pria itu.


“Dari tanggalnya berarti tidak lama setelah aku resign,” gumam Zea.


“Semoga Arjuna bisa lebih bijak dengan tanggung jawab yang harus dia emban,”  ujarnya lagi sambil memandang foto Arjuna di layar tersebut.


Masih ada desiran rasa dan kecewa yang tersirat. Bagaimana tidak, setelah apa yang dilakukan Arjuna, pria itu malah menuduhnya macam-macam dengan Gavin. Entah karena cemburu atau posesifnya Arjuna sudah membuat hubungan mereka kacau dan berakhir.


“Mbak Zea, ayo. Rapatnya sudah mau dimulai,” ujar salah seorang rekan kerja Zea menyadarkan dari lamunan.


...***...

__ADS_1


“Hah, Gavin Mahendra?” tanya Arjuna sambil menghentikan langkahnya.


Saat ini dia menuju ruang pertemuan perusahaannya sendiri, ada klien yang sudah tiba untuk membicarakan proyek.


“Kamu yakin dia Gavin Mahendra?” tanya Arjuna lagi pada sekretarisnya.


“Yakin Pak, di proposalnya memang nama Gavin sebagai direktur.”


Arjuna malah menuju ruang kerja Leo.


“Pak, pertemuannya gimana?” tanya Bella sekretaris Arjuna masih mengekor pria itu.


“Leo,” ujar Arjuna saat membuka pintu.


Leo hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Arjuna yang tidak berubah.


“Kok bisa yang akan gue temui itu Gavin. Gavin Mahendra!”


“Memang kenapa? Apa perusahaan ini sudah ada aturan baru memilih kerjasama bukan dengan orang-orang tertentu. Kerjasama berjalan kalau persyaratan dan segalanya menguntungkan kedua belah pihak bukan karena siapanya.”


Arjuna hanya diam dengan posisi sudah duduk bersandar di sofa.


“Memang kalian ada apa? Belum bisa move on? Kalaupun mau kamu hindari bukan Gavin tapi mantan Gavin.”


“Ck, diamlah,” ujar Arjuna.


Sedangkan Bella masih berdiri tidak jauh dari sofa.


Almira tiba-tiba keluar dari ruangan khusus di ruang kerja Leo, yang mana tempat pria itu beristirahat. Terkejut karena ada Arjuna di sana.


“Sedang apa kamu dan kenapa keluar dari sana?”


Almira dan Leo saling tatap.


“Jangan kemana-mana, kita akan bicarakan ini setelah aku bertemu Gopin,” ancam Arjuna lalu beranjak dari sofa.


“Kak Leo, gimana ini. Kak Juna pasti salah paham,” ujar Almira saat Arjuna sudah pergi.


“Ya tinggal jelaskan saja. Duduklah, kakakmu bilang jangan kemana-mana, turuti saja,” imbuh Leo yang tetap fokus pada layar laptopnya.


“Tunggu di mana, di sana,” tunjuk Almira pada sofa. “Atau di sana,” tunjuknya lagi pada pangkuan Leo.


“Jangan mancing-mancing.”


“Bukan mancing, aku bertanya.”


Arjuna dan Bella sudah duduk berhadapan dengan Gavin juga sekretarisnya. Sebelumnya saling sapa dan berjabat tangan. Baik Arjuna ataupun Gavin bersikap profesional dengan tidak membahas apapun selain proposal yang ada di hadapan mereka.


“Intinya kami menunggu kabar baik, untuk kerja sama ini,” ujar Gavin.


“Nanti sekretarisku yang akan menghubungi pihak kalian untuk kelanjutan hal ini.”

__ADS_1


“Tentu saja, kami sangat menantikan hal itu,” ungkap Gavin lagi.


Arjuna hanya menganggukkan kepala sambil menyentuh dagunya. Diskusi terkait pekerjaan sudah selesai, dia tertarik untuk bertanya sesuatu pada Gavin.


“By the way, kalian jadi rujuk bukan?” tanya Arjuna sangat penasaran dengan jawaban Gavin. karena yang terpatri dalam benaknya dan yang diyakini dari perselisihan bersama Zea adalah permintaan Gavin untuk rujuk.


Gavin yang tahu maksud pertanyaan Arjuna, berkesimpulan bahwa Arjuna menduga dia dan Zea sudah kembali bersama. Pria itu memilih tidak menjawab dan memberikan senyum.


“Tidak usah dijawab,” ujar Arjuna lalu berdiri.


Setelah pertemuan selesai, Arjuna kembali menemui Leo dan Almira. Pasangan itu sudah duduk berdampingan berhadapan dengan Arjuna yang memasang wajah tidak ramah.


“Sebelum Papi pergi, dia menitipkan kamu termasuk pernikahanmu. Lalu apa maksudnya kamu keluar dari sana, kalian sedang ….”


“Kak Juna salah paham.”


“Di mana salah pahamnya.”


“Aku memang tiap hari ke sini temui Kak Leo.”


“Nah ini, terus lo apain Adek gue Leo,” cecar Arjuna sedangkan yang dimaksud hanya diam dengan wajah datarnya.


“Tadinya aku ‘kan mau bujuk Kak Leo untuk bicarakan masalah kami tapi dianya cuek aja. Aku udah capek, jadi aku memutuskan untuk menerima cinta teman kuliahku.”


“Hahhh,” pekik Leo.


“Nah, tadi itu aku mau terima telepon dan tidak ingin didengar Kak Leo makanya masuk ke ruangan itu.”


“Jadi tadi kamu terima telepon dari cowok lain?” tanya Leo.


“Temui aku dengan temanmu itu, yang ini sudah tidak bisa diharapkan. Otaknya nge-lag kalau urusan percintaan,” ejek Arjuna.


“Nggak bisa, aku bisa bicara serius terkait Almira denganmu. Kayak dianya sukses aja sama urusan hati,” ujar Leo pada Arjuna.


Perdebatan tersebut masih berlangsung. Sedangkan Gavin yang sudah berada di mobil mendapatkan panggilan dari Mauren.


“Hm,” jawab Gavin.


“Kak, aku baru saja bertemu dengan wanita yang sudah buat kakak gak bisa move on,” ujar Mauren di ujung telepon.


“Siapa?”


“Zea, memang siapa lagi,” sahut Mauren membuat Gavin terpaku saat mendengar nama itu. Yang dia susah lacak keberadaannya.


“Di mana?”


“Bali. Aku akan kirim detail alamatnya.”


...*****...


__ADS_1


__ADS_2