
Arjuna memundurkan tubuhnya agak jauh dari Zea. Tangannya bersedekap dengan tatapan masih mengarah pada wanita yang sudah menjadi istrinya.
“Apa?” tanya Zea.
“Kamu kenapa sih, dari semalam bilang wangi aku nggak enak. Aku wangi loh,” ujar Arjuna bahkan mengangkat kedua tangannya dan mencium aroma di sela kedua lengannya.
Zea hanya mengedikkan bahunya. Terdengar ketukan pintu, ternyata seorang OB yang mengantarkan makan siang untuk Arjuna.
“Kemarilah, kita makan dulu.” Arjuna membuka box menu makanan, aroma yang tercium benar-benar menggugah selera.
“Kamu makan di situ tapi aku tetap di sini.” Zea berkata masih bersandar pada kursi Arjuna.
Sedangkan pria itu langsung menghela nafas, berusaha memahami keinginan Zea dan berniat mengajak Zea menemui dokter sore nanti. Menurutnya, ada masalah dengan kesehatan Zea, mungkin di penciumannya atau syaraf yang bermasalah.
Zea bahkan sudah menghabiskan box miliknya, sedangkan Arjuna baru akan mulai. Sejak tadi dia hanya memperhatikan Zea yang makan sambil menatap layar ponsel yang memutar drama percintaan, sepertinya masih sama dengan yang ditonton Zea semalam.
Leo tiba-tiba masuk lalu menghampiri Zea.
“Apa kabarmu?” tanya Leo.
Zea menjawab sambil tersenyum dan menerima map yang diserahkan oleh Leo. Tentu saja Zea tahu maksud dari berkas tersebut, yaitu mendapatkan persetujuan dari Arjuna.
“Terus ini maksudnya gimana, kenapa berjauhan gini?” tanya Leo sambil menatap Zea dan Arjuna bergantian.
“Nah, kebetulan lo tanya gitu. Menurut lo, wangi gue enak nggak?” tanya Arjuna.
Leo mengernyitkan dahinya. Bagaimana tidak enak, karena dia tahu parfum yang digunakan Arjuna.
“Kenapa gitu?”
“Menurut Zea, wangi gue nggak enak.”
Leo tersenyum lalu menoleh kembali pada Zea.
“Apa ini seperti yang aku pikirkan?” tanya pria itu pada Zea.
“Entahlah, aku belum yakin,” sahut Zea.
“Semoga saja aku segera mendapatkan kabar baik dari kalian,” seru Leo lalu meninggalkan ruang kerja Arjuna.
Zea menguap dan mengatakan mengantuk dan akan pulang ke apartemen.
“Jangan, kalau ngantuk kamu istirahat di sana aja,” tunjuk Arjuna pada sebuah pintu ruang istirahat Arjuna.
Zea langsung berpindah ke ruangan tersebut, berbaring di ranjang dengan ukuran tidak terlalu besar tapi cukup nyaman. Tidak lama wanita itu sudah terlelap. Arjuna mengecek keadaan Zea, merasa aneh dengan sikap istrinya itu. Mulai dari sering merajuk saat dihubungi, ketika sudah bertemu malah tidak ingin berdekatan.
Arjuna menghela nafasnya. Semakin membulatkan tekad untuk mengajak Zea menemui dokter, dia tidak ingin ratunya ternyata ada masalah dengan kesehatan.
...***...
“Kalau ada yang darurat, hubungi Leo. Saya langsung pulang setelah ini.” Arjuna memberikan berkas yang sudah dia approve pada Bella.
“Baik, Pak.”
__ADS_1
Setelah Bella pergi, pintu ruangan istirahat Arjuna terbuka lalu keluarlah Zea.
“Hei, sudah bangun?”
Zea yang masih dengan wajah bantal hanya mengerucutkan bibirnya tanpa menjawab langsung duduk di pangkuan Arjuna dan menyandarkan kepala di dada bidang suaminya. Arjuna ragu untuk memeluk Zea, khawatir jika wanita itu mengeluhkan kembali kalau wangi tubuhnya tidak enak.
“Are you okay?” tanya Arjuna sambil mengusap rambut Zea.
Zea hanya mengangguk.
“Kangen, kangen banget,” ujar wanita itu semakin mengeratkan tangan yang mengalung di leher Arjuna.
Arjuna terkekeh, “Kemarin pas ketemu nggak ada bilang kangen, udah ditidurin baru bilang kangen.”
Zea mengurai pelukannya, menatap wajah arjuna lalu mencubit perut pria itu membuatnya mengaduh.
“Aku kangen banget sebenernya tapi kesel juga sama kamu,” ujar Zea.
“Kesel, gimana?”
“Ya nggak tahu, bawaannya kesel aja.”
Arjuna menggaruk kepalanya. Benar saja dugaannya, Zea semakin aneh.
“Ya udah, kesalnya lanjut di rumah aja.” Arjuna mengajak Zea pulang, bukan pulang tapi menemui dokter. Belum sampai pintu, langkah Zea terhenti membuat Arjuna ikut berhenti.
“Kenapa?” Arjuna bertanya, tangannya masih merangkul Zea.
“Kepala aku pusing, dari tadi sih tapi ini makin pusing.”
“Sayang, kamu kenapa sih?”
Arjuna mengekor Zea yang sudah membungkuk di wastafel, mengeluarkan isi perutnya.
“Ini sih seriusan sakit, kamu kok nggak jujur sama aku.” Arjuna memijat tengkuk Zea, kemudian mengambil tisu untuk melap wajah wanita itu.
“A-aku pusing banget dan perutku rasanya seperti diaduk.”
“Kita pulang, masih kuat jalan?” tanya Arjuna.
Zea mengangguk pelan. Dia pun merasa aneh dengan kondisi tubuhnya, sempat berpikir kalau dia hamil apalagi periode bulanannya sudah lewat. Namun, Zea ragu untuk memeriksakan kondisinya apalagi membuktikan apakah dia hamil atau tidak. Teringat dengan kehamilan sebelumnya, di mana dia harus kehilangan.
“Ayo.” Arjuna memapah Zea.
Bella sempat menanyakan kondisi istri atasannya.
“Tidak apa, dia hanya kurang sehat,” jawab Arjuna.
Saat ini pasangan itu sudah berada di mobil, Arjuna mengemudi sambil sesekali menoleh pada Zea yang bersandar dan memejamkan matanya.
“Sayang, kita langsung ke dokter ya.”
Zea membuka matanya dan menggeleng cepat.
__ADS_1
“Aku mau langsung pulang,” tolak Zea.
“Tapi kondisi kamu ….”
“Paling masuk angin, nanti mampir aja ke apotek,” seru Zea.
Arjuna ingin menyanggah usulan Zea, tapi urung. Untuk sementara dia akan turuti apa kemauan istrinya.
“Mau beli apa, biar aku yang turun.” Arjuna sudah menghentikan mobilnya tepat di depan apotek.
“Nggak usah, aku aja.”
“Yakin? Kamu tadi pusing dan munta loh?’
“Kamu tunggu aja di sini.”
Arjuna tidak melepaskan pandangannya dari Zea yang keluar dari mobil, termasuk interaksi Zea di dalam apotek. Agak lega saat Zea keluar dari apotek membawa kantong plastik, entah apa yang dibeli oleh Zea.
“Ayo, pulang!”
Arjuna urung bertanya, memilih bergegas melaju kembali. Sampai di apartemen, Zea langsung ke kamar dan diikuti oleh Arjuna. Pria itu melepaskan jas dan dasinya lalu dia melempar ke atas sofa, sedangkan Zea sudah berada di toilet.
Khawatir dengan keluhan Zea sebelumnya, Arjuna pun menuju toilet.
“Sayang,” panggil Arjuna.
Ternyata Zea tidak mengunci pintu, Arjuna berhasil membuka dan melihat Zea yang terdiam di depan wastafel.
“Kamu muntah lagi?”
Zea hanya diam menatap ketiga alat dengan merek berbeda yang digunakan untuk mengecek urine-nya. Masih belum percaya karena ketiganya menunjukkan dua garis. Pandangan Arjuna beralih ke arah wastafel lalu ….
“Ini, tespek ‘kan? Kamu … hamil?” tanya Arjuna dan menyentuh tubuh Zea agar menghadap kepadanya.
Zea mengangguk tapi wajahnya tidak menunjukkan kalau dia bahagia. Arjuna langsung memeluk tubuh Zea.
“Ya ampun, ternyata keanehan kamu karena gejala kehamilan. Maafkan aku yang tidak peka,” tutur Arjuna sambil mengusap punggung Zea.
“Tapi, aku takut.”
Arjuna mengurai pelukannya lalu menangkup wajah Zea.
“Takut?”
Zea mengangguk, kedua matanya sudah mengembun.
“Sebelumnya, dia juga ada di sini,” ujar Zea sambil mengusap perutnya. “Tapi ….”
Arjuna kembali memeluk Zea.
“Itu tidak akan terjadi lagi, karena saat itu aku bodoh dan membiarkan kamu melewatinya sendirian. Sekarang ada aku, kita pastikan semuanya aman dan sehat.”
\=\=\=\=\=
__ADS_1