Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Ancaman Si Pria Tua


__ADS_3

“Mauren, kamu ingin aku menerima Mauren?” tanya Arjuna dengan raut wajah tidak biasa. “Jawab Zea!”


Zea sampai terperanjat dengan pekikan Arjuna.


“Bukan begitu, aku hanya tidak ingin kita berdua susah. Kamu sudah tahu jalan kita tidak akan mudah, Pak Abraham ….”


“Papi urusanku, kamu hanya jaga hati tetap untukku.”


Zea menatap Arjuna, menatap sorot mata yang menunjukan keseriusan serta penegasan kalau pria itu tidak main-main.


“Hubunganku dengan Papi tidak baik, sejak lama. Paling tidak aku masih ada solusi agar dia tidak terlibat terlalu jauh dengan urusan pribadiku,” jelas Arjuna.


“Arjuna, Pak Abraham sudah terlibat dalam urusan keluargaku. Tidak mungkin aku bisa melawannya, ini akan menjadi bumerang untuk hidupku juga.”


“Ada aku Zea, ada aku. Kita akan pikirkan solusinya … atau aku saja. Kamu cukup menjadi Zea-ku saja. Karena ketika rencana kita jalankan, aku akan sangat membutuhkan peranmu.”


“Memang kamu ada ide apa?”


“Halah, banyak bicara … itu urusanku,” seru Arjuna lalu meraih tengkuk Zea dan menyambar bibir yang ketika bicara selalu menjadi perhatian dan menggoda Arjuna untuk melahapnya. Zea berusaha melepaskan diri, tapi sulit karena Arjuna menahan tengkuk bahkan semakin memperdalam pagutannya.


Arjuna terkekeh, setelah mengurai pagutan dan melihat Zea yang terengah sambil mengerucutkan bibirnya. Tangan Zea yang terayun akan memukul Arjuna, tertahan dalam genggaman pria itu.


“Kondisikan bibirmu, jangan memancingku lagi. Bisa-bisa aku khilaf.”


“Dasar mesum,” ejek Zea memperbaiki posisi duduknya menghadap ke depan mengabaikan Arjuna yang kembali menggodanya. “Jalan atau aku turun,” ancam Zea.

__ADS_1


Arjuna berdecak, “Diam atau aku cium!”


Saat ini mobil yang dikendarai Arjuna sudah terparkir di basement apartemen Zea. Walaupun sudah meminta Arjuna menghentikan mobilnya di lobby, Zea hanya bisa mendengus kesal karena pria itu mengabaikannya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut Zea ke unitnya.


“Tidak usah ikut aku ke dalam,” titah Zea.


“Suka-suka aku dong, lagi pula aku atasan kamu. Bagaimana bisa malah kamu yang mengaturku,” tutur Arjuna.


“Arjuna, please. Aku hanya ingin istirahat dengan tenang. Seharian tadi emosiku benar-benar kacau dan itu ulahmu.”


“Loh sama dong, aku juga ingin istirahat. Lalu masalahnya di mana?”


“Masalahnya di otak kamu, aku tahu ada ide mesum di pikiran kamu jadi jangan aneh-aneh. Setelah aku turun langsung pergi,” ketus Zea.


Arjuna bukannya menurut dengan perintah Zea tapi dia perlu bertemu Leo dan mencari cara dan bukti lain agar bisa terlepas dari perjodohan dengan Mauren. Setelah Zea menutup pintu, Arjuna melajukan kembali roda empatnya meninggalkan apartemen Zea.


Sejak tadi pagi, Zea tidak melihat Arjuna dan Leo. Namun, berdasarkan jadwalnya memang Arjuna ada pertemuan dengan rekanan. Zea bersyukur karena bukan dia yang bertugas menemani Arjuna. Ketika dekat dengan Arjuna, ada saja hal yang dilakukan pria itu yang membuatnya tersanjung dan semakin meningkatkan kadar perasaannya.


Namun, Zea tidak menunjukkan dan mengekspresikan hal itu. Dia harus siap dengan kemungkinan terburuk kalau mereka tidak bisa bersama.


Saat sedang fokus pada dokumen yang akan diserahkan pada Arjuna ketika pria itu tiba, Zea dikejutkan dengan kehadiran seseorang.


“Pak Abraham,” ujar Zea sambil beranjak berdiri. “Si-silahkan Pak,” ujar Zea sambil mempersilahkan Pak Abraham masuk ke dalam ruang kerja Arjuna.


Abraham menempati salah satu sofa, Zea menduga pria itu menunggu putranya ternyata tidak. Abraham sengaja datang untuk menemui Zea.

__ADS_1


Zea dalam posisi berdiri dan Abraham tidak mempersilahkannya duduk. Sengaja memperlakukan wanita yang disukai oleh putranya seperti itu, agar mmenyadari posisinya.


“Kejadian semalam, cukup memalukanku.”


Wanita dihadapan Abraham hanya menunduk tidak berani untuk menegakkan kepalanya, apalagi menatap pria tua itu. Dia teringat perjanjian yang sudah disetujui tapi Zea mulai tidak kooperatif dengan membiarkan Arjuna semakin mencintainya dan melawan Abraham.


“Aku tidak perlu mengingatkan kembali perjanjian yang sudah kita sepakati karena kamu tidak amnesia,” tutur Abraham.


“Maaf Pak, tapi saya sudah mencoba menghindar dari putra Bapak. Pekerjaan ini mengharuskan saya dekat dengan Pak Arjuna dan ….”


“Bekerjasamalah dengan mendekatkan Arjuna dengan Mauren.”


Deg.


Rasanya Zea ingin memaki Abraham, menghindar dari Arjuna saja sulit apalagi harus terlibat mendekatkannya dengan Mauren.


“Baiknya Bapak yang pastikan agar Arjuna tidak lagi menggoda saya atau berusaha mendekati saya.”


Kalimat yang baru saja dikatakan Zea cukup memprovokasi Abraham. Pria itu bahkan sampai menggebrak meja dan menunjuk wajah Zea.  


“Beraninya kamu. Jangan karena Arjuna berpihak kepadamu lalu bersikap kurang ajar,” teriak Abraham. “Setelah Arjuna sudah terbiasa dengan posisinya, aku pastikan kamu hengkang dari sini.”


 


\=\=\=\=\=

__ADS_1


To be continue



__ADS_2