Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Perjuangan Arjuna


__ADS_3

 “Mauren aku sedang sibuk,” ujar Arjuna sambil melepaskan pelukan Mauren dan mendorong tubuh wanita itu agar menjauh.


“Kalau untuk aku, kamu harus luangkan waktu karena Pak Abraham pasti akan memperbolehkan kamu fokus juga denganku.”


Arjuna terkekeh  mendengar ucapan Mauren, “Memang sebegitu pentingkah dirimu sampai membiarkan aku mengabaikan perusahaan dan fokus untuk kamu. Zea ikut aku,” titah Arjuna.


Zea yang sejak tadi mendengar perdebatan Arjuna juga Mauren dan tidak bisa menghindar, pasrah ketika Arjuna memanggilnya. Pria itu sudah menduduki kursi kerjanya, sedangkan Zea berdiri di depan mejanya. Mauren tanpa malu juga ikut masuk dan duduk di salah satu sofa.


“Bagaimana aku bisa masuk ke dalam sistem ini?” tanya Arjuna menunjuk layar komputernya. Zea pun mendekat dan berdiri di samping Arjuna untuk membimbing  Arjuna mengakses sistem. Interaksi keduanya tidak menyiratkan kalau keduanya memiliki hubungan, entah apa rencana Arjuna bersikap profesional atau mungkin karena ada Mauren di sana.


Mauren menyaksikan momen tersebut dengan kedua tangan dilipat di dada. Arjuna mengerti dengan penjelasan Zea, mencoba melaksanakan tugasnya sebagai CEO. Bagaimanapun juga perusahan itu milik Papinya dan harus terus bertahan, tidak ingin gagal atau jatuh ketika berada di tangan Arjuna.


“Hei, kamu. Aku ini tamu, buatkan minum atau apa kek,” perintah Mauren membuat Zea menoleh.


“Saya permisi dulu, Pak. Tamu anda ….”


“Tetap di tempatmu.” Arjuna meraih pesawat telepon menekan salah satu line dan menyerahkan gagang telepon pada Zea. “Minta salah satu OB kemari,” titah Arjuna


Zea pun mengerjakan perintah Arjuna dan tidak lama salah seorang OB mendatangi ruang kerja Arjuna.


“Buatkan air minum untuk tamu Pak Arjuna,” titah Zea.


OB itu mengangguk, Mauren yang mendengar perintah Zea pun menginterupsi.


“Aku bukan tamu tapi calon istri Arjuna, atasan kalian,” ujar Mauren dengan bangga. Entah kenapa rasanya ada yang teriris di hati Zea mendengar pengakuan perempuan itu.


“Kamu boleh keluar,” titah Zea pada si OB.


Arjuna berdecak, kemudian menyandarkan punggungnya menoleh ke arah Mauren. Tidak percaya dengan perempuan yang mengaku sebagai calon istrinya adalah wanita yang pernah dia pergoki bersama pria lain.


“Mauren, aku sedang sibuk dan tidak ada waktu untuk bergurau seperti ini,” keluh Arjuna.


“Justru itu aku di sini ingin memberimu semangat,” seru Mauren dengan bangga.


Arjuna terkekeh mendengar semangat Mauren. “Percaya diri sekali,” seru Arjuna. “Justru aku muak melihat kamu di situ.”


“Arjuna,” pekik Mauren.


“Kamu pergi sendiri atau aku minta security untuk mengusirmu,” ancam Arjuna.

__ADS_1


Zea merasa canggung berada di antara perseteruan Arjuna dengan Mauren.Mauren beranjak sambil menghentakan kakinya karena kesal. Melihat kepergian Mauren, Zea kembali menjelaskan bagaimana mengakses sistem perusahaan pada Arjuna. Arjuna menyimak  tapi tangannya nakal dan sudah berada di pinggang Zea. Wanita itu menghela pelan sebelum menurunkan tangan Arjuna dari tubuhnya.


“Apa Pak Arjuna sudah mengerti?”


“Sudah dong,” jawab Arjuna meraih jemari tangan kiri Zea, menggenggamnya lalu mencium punggung tangan itu.


Zea terkejut dan segera menarik tangannya. “Pak Arjuna, anda ….”


“Kenapa? Aku sedang melaksanakan peranku sebagai CEO, sama seperti yang sedang kamu lakukan. Di sela tugas kita ini, kita masih bisa mengungkapkan perasaan dan kasih sayang. Bagaimana menurutmu?”


“Menurut saya, Pak Arjuna lebih baik mengungkapkan perasaan pada orang yang tepat dan itu bukan saya,” seru Zea.


Arjuna menatap Zea yang berdiri di sampingnya dengan mengeraskan rahangnya menahan amarah, dia beranjak berdiri dan menghempaskan tubuh Zea pada kursi kerjanya. Mengungkung tubuh wanita itu dengan menempelkan tangan pada kedua sisi kursi.


“Jangan main-main denganku Zea. Kita sama-sama tahu perasaan kita, walaupun saat ini situasi membuat semuanya tidak berjalan sesuai dengan mau kita. Tolong bersabar dan berusaha, aku tidak akan melepaskanmu.”


“Pak Arjuna tolong menjauh.” Zea benar-benar tidak nyaman dengan posisinya saat ini, wajah Arjuna sangat dekat dengan wajahnya. Dia khawatir ada yang masuk dan menyaksikan kejadian ini, menduga ada hubungan antara Arjuna dan Zea.


“Tidak, aku harus memberikan hukuman karena kamu mengabaikanku semalam,” ancam Arjuna, wajahnya sudah berada di leher jenjang Zea. Hembusan nafas pria itu terasa hangat di kulit Zea. Merasakan tidak ada pergerakan dari Arjuna, Zea pun mendorong tubuh Arjuna. Namun, sekuat tenaga Zea hanya berhasil menggeser tubuh yang terpaku seperti batu.


“Tolong Pak, jangan buat posisi saya semakin sulit.”


“Kalau begitu jangan melawan, jangan menolak perasaan yang ada di sini,” ungkap Arjuna sambil menunjuk dada Zea.


“Mari kita jalankan peran kita untuk saat ini. Masalah hati, aku yakin beberapa waktu kedepan kita akan lupa kalau diantara kita pernah ada rasa,” lanjut Zea.


“Tidak, aku tidak setuju dengan ide kamu. Aku akan lakukan apa yang aku inginkan,” sahut Arjuna.


“Pak Arjuna, anda hmmppp….”


Arjuna menghentikan bibir Zea yang akan bicara dengan memagutnya. Zea hanya bisa pasrah karena kedua tangannya ditahan oleh Arjuna, sampai pesawat telepon di atas meja Arjuna berdering membuat pria itu menjauh.


“Aku bisa lakukan lebih dari ini, jika kamu terus menolak atau memprovokasi. Aku tidak main-main Zea,” ancam Arjuna.


Zea mengusap kasar bibirnya sambil menatap Arjuna. “Dasar gila.”


“Aku gila karena kamu, sayang,” sahut Arjuna sambil melipat kedua tangan di dada menatap Zea yang masih duduk di hadapannya.


“Aku semakin membencimu,” ujar Zea.                                                                                       

__ADS_1


“Sayangnya aku makin mencintaimu,” ungkap Arjuna.


Zea beranjak berdiri, “Arjuna, aku membencimu setengah mati,” keluh Zea.


“Aku mencintaimu segenap jiwaku dan aku yakin bisa menghilangkan rasa benci itu,” seru Arjuna sambil terkekeh.


***


Leo dan Arjuna berjalan sambil berdiskusi kecil, keduanya baru saja datang dari pertemuan di luar. Saat melewati meja Zea, Arjuna meminta diantarkan kopi. Ternyata pembicaraan Leo dan Arjuna masih berlanjut di ruangan Arjuna, Zea sempat menginterupsi karena ada dokumen yang harus di approve oleh Arjuna.


“Mana kopiku?” tanya Arjuna.


“Sedang dibuatkan, Pak.”


“Untuk pertemuan nanti malam, bagaimana Pak?” tanya Leo.


“Biarkan tim teknis yang menghadiri, kita tunggu informasi dan kamu awasi benar kerja mereka. Jangan sampai kesalahan yang lalu terulang,” titah Arjuna.


Arjuna sepertinya sengaja memperlambat proses approval, membuat Zea menunggu lebih lama. Leo sendiri sudah sejak tadi meninggalkan ruangan. Bahkan kopi yang diminta Arjuna sudah tinggal setengah.


“Pak Arjuna,” tegur Zea.


“Ya, ini … coba kemari dan kamu baca lagi. Sepertinya ada yang janggal dengan dokumen ini, baca ulang kalimatnya,” titah Arjuna.


Zea pun mencoba membaca dokumen yang ditunjuk Arjuna.


“Hei, kemari. Mana bisa kamu baca dari situ.”


Zea akhirnya berdiri di samping Arjuna duduk, sedikit membungkuk untuk membaca bagian yang dimaksud oleh Arjuna.


Arjuna menopang wajahnya dengan tangan kiri menatap Zea yang serius menatap dokumen di hadapannya.


“Sepertinya tidak ada masalah Pak, ini sudah sesuai.” Zea pun menoleh dan wajah mereka kini berhadapan.


“Zea, wajahmu tetap cantik walaupun ditutupi dengan cadar. Tapi aku suka dengan penampilanmu sekarang, menyembunyikan aura kecantikanmu. Jadi hanya aku yang bisa menikmatinya.”


Zea kembali berdiri, “Saya tunggu approvalnya, silahkan Pak,” tunjuk Zea pada area yang harus Arjuna tanda tangan.


“Aku akan tanda tangani, tapi beritahu passcode apartemenmu.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2